Cara Membuat Rumusan Masalah Skripsi yang Baik dan Benar, Beserta Contoh

Table of Contents

Rumusan masalah merupakan salah satu bagian penting dalam skripsi karena menentukan fokus penelitian, arah pengumpulan data, dan pembahasan hasil penelitian. Simak pengertian, cara menyusun rumusan masalah yang baik, contoh berdasarkan berbagai bidang ilmu, serta kesalahan yang perlu dihindari.

Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, menentukan rumusan masalah sering kali menjadi tantangan tersendiri. Sebagian mahasiswa sudah memiliki topik penelitian, tetapi masih kesulitan mengubah topik tersebut menjadi pertanyaan penelitian yang jelas dan dapat dijawab melalui proses penelitian.

Rumusan masalah yang terlalu luas dapat membuat penelitian kehilangan fokus. Sebaliknya, rumusan masalah yang terlalu sempit atau tidak sesuai dengan tujuan penelitian dapat membatasi pembahasan dan menyulitkan proses pengumpulan data.

Oleh karena itu, rumusan masalah perlu disusun secara sistematis dengan mempertimbangkan fenomena yang diteliti, kesenjangan atau persoalan yang ingin dipahami, tujuan penelitian, serta metode yang akan digunakan.

Hal penting yang perlu dipahami:
  • Rumusan masalah ditulis berdasarkan persoalan yang memiliki alasan untuk diteliti.
  • Rumusan masalah harus selaras dengan latar belakang dan tujuan penelitian.
  • Pertanyaan penelitian perlu memiliki batasan yang jelas.
  • Setiap rumusan masalah harus dapat dijawab melalui data atau analisis yang sesuai.

1. Pengertian Rumusan Masalah Skripsi

Rumusan masalah adalah pernyataan berbentuk pertanyaan yang menjelaskan persoalan utama yang ingin dijawab melalui suatu penelitian. Dalam skripsi, bagian ini membantu peneliti menentukan apa yang perlu dikaji dan batasan pembahasan yang akan dilakukan.

Rumusan masalah biasanya disusun berdasarkan uraian latar belakang. Latar belakang menjelaskan fenomena, kondisi, atau persoalan yang melandasi penelitian, sedangkan rumusan masalah merangkum persoalan tersebut menjadi pertanyaan yang lebih terarah.

Rumusan masalah dapat berbentuk pertanyaan deskriptif, komparatif, atau asosiatif, bergantung pada tujuan dan pendekatan penelitian.

  • Deskriptif: berfokus pada gambaran atau kondisi suatu fenomena.
  • Komparatif: berfokus pada perbandingan antara dua kondisi, kelompok, atau objek.
  • Asosiatif: berfokus pada hubungan antara dua variabel atau lebih.

Pemilihan bentuk rumusan masalah harus disesuaikan dengan desain penelitian. Penelitian kualitatif, misalnya, dapat menggunakan pertanyaan terbuka untuk memahami pengalaman atau proses, sedangkan penelitian kuantitatif dapat menggunakan pertanyaan yang menguji hubungan atau perbedaan variabel.

2. Fungsi Rumusan Masalah dalam Skripsi

Rumusan masalah bukan sekadar persyaratan dalam sistematika penulisan skripsi. Bagian ini mempunyai beberapa fungsi yang membantu penelitian berjalan secara terarah.

a. Menentukan fokus penelitian

Rumusan masalah membantu peneliti membatasi pembahasan agar tidak melebar ke persoalan yang tidak berkaitan langsung dengan topik utama.

b. Menjadi dasar penetapan tujuan penelitian

Tujuan penelitian pada dasarnya menjelaskan hasil yang ingin dicapai untuk menjawab rumusan masalah. Karena itu, keduanya perlu memiliki hubungan yang jelas.

c. Membantu menentukan metode penelitian

Jenis pertanyaan yang diajukan dapat membantu peneliti memilih pendekatan, sumber data, teknik pengumpulan data, dan metode analisis yang sesuai.

d. Menjadi pedoman pembahasan hasil penelitian

Ketika hasil penelitian diperoleh, rumusan masalah membantu peneliti menyusun pembahasan berdasarkan pertanyaan yang telah ditetapkan sejak awal.

3. Ciri-Ciri Rumusan Masalah yang Baik

Rumusan masalah yang baik tidak harus menggunakan kalimat yang panjang atau istilah akademik yang rumit. Hal yang lebih penting adalah kejelasan persoalan dan kesesuaiannya dengan penelitian.

KriteriaPenjelasanContoh penerapan
JelasMenggunakan kalimat yang mudah dipahami dan tidak menimbulkan banyak penafsiran.Menanyakan hubungan variabel yang disebutkan secara spesifik.
SpesifikMenentukan objek, variabel, konteks, atau fenomena yang dikaji.Meneliti karyawan pada perusahaan tertentu.
RelevanBerasal dari persoalan yang dijelaskan dalam latar belakang.Meneliti persoalan yang memang dibahas pada bagian pendahuluan.
Dapat ditelitiDapat dijawab melalui data, observasi, wawancara, dokumen, atau analisis yang sesuai.Mengukur tingkat kepuasan melalui instrumen penelitian yang tepat.
SelarasSejalan dengan tujuan, metode, dan ruang lingkup penelitian.Pertanyaan tentang hubungan variabel didukung metode analisis yang sesuai.
Catatan: Rumusan masalah tidak harus selalu berbentuk pertanyaan tentang pengaruh atau hubungan variabel. Untuk penelitian eksploratif dan kualitatif, pertanyaan mengenai pengalaman, proses, makna, atau strategi juga dapat digunakan.

4. Cara Membuat Rumusan Masalah Skripsi

Langkah 1: Tentukan topik penelitian

Mulailah dengan menentukan bidang dan topik yang ingin diteliti. Topik sebaiknya sesuai dengan minat akademik, relevan dengan bidang studi, serta memungkinkan untuk diteliti dengan sumber daya yang tersedia.

Contohnya, mahasiswa manajemen dapat memilih topik mengenai kepuasan kerja, produktivitas karyawan, pemasaran digital, atau keputusan pembelian konsumen.

Langkah 2: Identifikasi fenomena atau persoalan

Topik yang menarik belum tentu langsung menjadi masalah penelitian. Peneliti perlu mengidentifikasi fenomena yang melandasi penelitian melalui observasi awal, data pendukung, laporan, wawancara pendahuluan, atau literatur yang relevan.

Misalnya, sebuah organisasi mengalami tingkat keterlambatan karyawan yang meningkat. Fenomena tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengkaji faktor yang berkaitan dengan kedisiplinan atau kondisi kerja, apabila didukung bukti yang memadai.

Langkah 3: Baca penelitian terdahulu

Penelitian terdahulu membantu peneliti memahami konsep, teori, metode, dan temuan yang sudah tersedia. Dari kajian tersebut, peneliti dapat mengidentifikasi aspek yang belum banyak dijelaskan atau konteks yang masih perlu diteliti.

Jangan menyatakan bahwa penelitian sebelumnya belum pernah membahas suatu topik sebelum melakukan penelusuran literatur yang memadai. Kesenjangan penelitian harus dijelaskan berdasarkan sumber yang benar-benar diperiksa.

Langkah 4: Tentukan batasan penelitian

Tentukan objek, subjek, lokasi, periode, variabel, atau aspek yang akan dikaji sesuai kebutuhan penelitian. Batasan membantu memastikan bahwa persoalan yang dipilih realistis untuk diselesaikan.

Contohnya, daripada meneliti seluruh faktor yang memengaruhi kinerja karyawan di semua industri, penelitian dapat dibatasi pada hubungan kepemimpinan dan motivasi kerja dengan kinerja karyawan di organisasi tertentu.

Langkah 5: Susun pertanyaan penelitian

Ubah persoalan yang sudah diidentifikasi menjadi pertanyaan yang langsung mengarah pada fokus penelitian. Gunakan kata tanya sesuai tujuan penelitian.

  • Apa atau bagaimana: untuk memahami kondisi, proses, pengalaman, atau strategi.
  • Apakah terdapat hubungan: untuk mengkaji hubungan antarvariabel.
  • Apakah terdapat perbedaan: untuk membandingkan kelompok atau kondisi.
  • Sejauh mana pengaruh: untuk mengkaji pengaruh berdasarkan desain dan analisis yang sesuai.

Langkah 6: Periksa keselarasan dengan tujuan penelitian

Pastikan setiap pertanyaan memiliki tujuan yang sesuai. Jika terdapat tiga rumusan masalah, periksa apakah masing-masing memiliki tujuan penelitian yang menjelaskan apa yang akan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Langkah 7: Evaluasi kelayakan penelitian

Sebelum menetapkan rumusan masalah, periksa ketersediaan data, akses terhadap responden atau informan, waktu penelitian, kemampuan analisis, dan ketentuan akademik yang berlaku di program studi.

Tips praktis: Cobalah menjawab pertanyaan berikut: data apa yang diperlukan untuk menjawab rumusan masalah ini? Jika belum jelas data apa yang dibutuhkan atau bagaimana pertanyaan tersebut dapat dijawab, rumusan masalah mungkin masih perlu dipertajam.

5. Contoh Rumusan Masalah Skripsi Berdasarkan Bidang

Berikut beberapa contoh untuk membantu memahami bentuk rumusan masalah. Contoh ini merupakan ilustrasi yang perlu disesuaikan dengan fenomena, objek penelitian, teori, data, dan pedoman penulisan di masing-masing perguruan tinggi.

A. Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia

Contoh topik: Kepemimpinan dan kinerja karyawan.

Rumusan masalah:

  1. Bagaimana persepsi karyawan terhadap praktik kepemimpinan pada organisasi yang diteliti?
  2. Bagaimana tingkat kinerja karyawan pada organisasi tersebut?
  3. Apakah terdapat hubungan antara praktik kepemimpinan dan kinerja karyawan pada organisasi yang diteliti?

Contoh tersebut memadukan pertanyaan deskriptif dan asosiatif. Apabila penelitian bertujuan menguji pengaruh, istilah dan rancangan analisis perlu disesuaikan dengan kerangka teori serta desain penelitian yang digunakan.

B. Bidang Manajemen Pemasaran

Contoh topik: Promosi digital dan keputusan pembelian.

Rumusan masalah:

  1. Bagaimana persepsi konsumen terhadap promosi digital yang dilakukan oleh bisnis yang diteliti?
  2. Bagaimana keputusan pembelian konsumen pada bisnis tersebut?
  3. Apakah terdapat hubungan antara persepsi terhadap promosi digital dan keputusan pembelian konsumen?

Peneliti perlu menentukan bentuk promosi digital, karakteristik konsumen, dan objek bisnis yang menjadi ruang lingkup penelitian.

C. Bidang Akuntansi

Contoh topik: Penerapan sistem informasi akuntansi dalam pengelolaan transaksi.

Rumusan masalah:

  1. Bagaimana penerapan sistem informasi akuntansi dalam pencatatan transaksi pada organisasi yang diteliti?
  2. Apa saja kendala yang dihadapi dalam proses pencatatan dan pelaporan transaksi?
  3. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut?

Contoh ini lebih berorientasi pada pemahaman proses dan kendala sehingga dapat dikembangkan menggunakan pendekatan kualitatif, bergantung pada tujuan dan desain penelitian.

D. Bidang Pendidikan

Contoh topik: Penggunaan media pembelajaran digital.

Rumusan masalah:

  1. Bagaimana penggunaan media pembelajaran digital dalam proses pembelajaran di kelas yang diteliti?
  2. Apa saja kendala yang dihadapi guru dan peserta didik dalam penggunaannya?
  3. Bagaimana upaya guru dalam mengatasi kendala penggunaan media pembelajaran digital?

Rumusan tersebut dapat digunakan sebagai titik awal untuk penelitian mengenai pelaksanaan pembelajaran. Peneliti perlu menentukan jenjang pendidikan, mata pelajaran, dan konteks yang relevan.

E. Bidang Ilmu Komunikasi

Contoh topik: Strategi komunikasi media sosial sebuah organisasi.

Rumusan masalah:

  1. Bagaimana strategi komunikasi yang diterapkan organisasi melalui media sosial?
  2. Bagaimana organisasi menentukan pesan dan karakteristik konten yang dipublikasikan?
  3. Apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan strategi komunikasi tersebut?

Pertanyaan tersebut berfokus pada strategi dan proses komunikasi. Peneliti dapat mengembangkan desain studi kasus atau pendekatan lain yang sesuai dengan pertanyaan penelitian.

F. Bidang Hukum

Contoh topik: Pelaksanaan perlindungan konsumen dalam transaksi elektronik.

Rumusan masalah:

  1. Bagaimana pengaturan perlindungan konsumen dalam transaksi elektronik berdasarkan peraturan yang relevan?
  2. Bagaimana penerapan ketentuan tersebut dalam persoalan hukum yang menjadi fokus penelitian?
  3. Apa kendala hukum yang muncul dalam pelaksanaan perlindungan konsumen pada konteks yang diteliti?

Untuk penelitian hukum normatif, rumusan masalah perlu diarahkan pada isu hukum, norma, asas, atau sinkronisasi peraturan. Untuk penelitian hukum empiris, pertanyaan dapat mencakup pelaksanaan aturan dan praktik di lapangan.

Perlu diperhatikan: Contoh di atas bukan rumusan masalah siap pakai untuk semua skripsi. Hindari menyalin contoh tanpa menyesuaikannya dengan persoalan penelitian yang nyata. Judul, latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan metode harus membentuk satu kesatuan yang logis.

6. Kesalahan yang Perlu Dihindari

a. Rumusan masalah terlalu luas

Pertanyaan seperti “Bagaimana perkembangan ekonomi di Indonesia?” memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Peneliti perlu menentukan aspek ekonomi, kelompok yang dikaji, periode, dan konteks yang relevan.

b. Tidak berdasarkan latar belakang

Rumusan masalah seharusnya muncul dari persoalan yang sudah dijelaskan. Jangan memasukkan pertanyaan baru yang tidak memiliki dasar dalam uraian latar belakang.

c. Tidak dapat dijawab dengan metode penelitian

Pastikan metode yang dipilih dapat menghasilkan data untuk menjawab pertanyaan penelitian. Pertanyaan mengenai hubungan variabel, misalnya, memerlukan rancangan dan data yang sesuai untuk menguji hubungan tersebut.

d. Menggunakan istilah yang tidak tepat

Istilah seperti hubungan, pengaruh, efektivitas, dan perbedaan memiliki makna metodologis yang tidak selalu sama. Pilih istilah berdasarkan tujuan dan desain penelitian, bukan hanya karena terdengar akademik.

e. Tidak selaras dengan tujuan penelitian

Rumusan masalah dan tujuan penelitian perlu diperiksa secara berdampingan. Perbedaan fokus antara keduanya dapat menyebabkan pembahasan hasil penelitian tidak menjawab persoalan yang sejak awal ditetapkan.

f. Membuat terlalu banyak pertanyaan

Jumlah rumusan masalah perlu disesuaikan dengan ruang lingkup dan tujuan penelitian. Tidak ada jumlah universal yang berlaku untuk semua skripsi. Utamakan pertanyaan yang benar-benar dibutuhkan untuk menjawab persoalan penelitian.

7. Hubungan Rumusan Masalah dengan Tujuan Penelitian

Rumusan masalah dan tujuan penelitian merupakan dua bagian yang saling berkaitan. Rumusan masalah menyatakan pertanyaan yang ingin dijawab, sedangkan tujuan penelitian menyatakan hal yang hendak dicapai untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Rumusan masalahTujuan penelitian
Bagaimana tingkat kepuasan kerja karyawan pada organisasi yang diteliti? Mendeskripsikan tingkat kepuasan kerja karyawan pada organisasi yang diteliti.
Apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dan kinerja karyawan? Menganalisis hubungan antara motivasi kerja dan kinerja karyawan.
Bagaimana pengalaman mahasiswa dalam menggunakan media pembelajaran digital? Memahami pengalaman mahasiswa dalam menggunakan media pembelajaran digital.

Perhatikan bahwa kata kerja dalam tujuan penelitian perlu mencerminkan apa yang benar-benar akan dilakukan. Istilah “mendeskripsikan”, “menganalisis”, dan “memahami” dapat digunakan sesuai pendekatan serta tujuan penelitian.

Setelah menyusun kedua bagian tersebut, periksa juga kesesuaiannya dengan judul penelitian, teori yang digunakan, metode penelitian, dan data yang akan dikumpulkan.

8. Checklist Sebelum Menetapkan Rumusan Masalah

Gunakan daftar berikut untuk mengevaluasi rumusan masalah yang telah disusun.

  • Topik dan persoalan penelitian sudah dijelaskan dalam latar belakang.
  • Setiap pertanyaan mempunyai fokus yang jelas.
  • Objek atau ruang lingkup penelitian dapat diidentifikasi.
  • Rumusan masalah sesuai dengan pendekatan penelitian.
  • Data yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan dapat diupayakan.
  • Tujuan penelitian selaras dengan rumusan masalah.
  • Istilah yang digunakan sesuai dengan konsep dan metode penelitian.
  • Rumusan masalah telah diperiksa berdasarkan pedoman kampus dan arahan dosen pembimbing.

Jika beberapa poin belum terpenuhi, revisi rumusan masalah sebelum melanjutkan ke tahap penelitian berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa yang dimaksud dengan rumusan masalah skripsi?

Rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang menjelaskan persoalan utama yang ingin dijawab melalui skripsi. Bagian ini membantu menentukan fokus, tujuan, dan arah penelitian.

2. Rumusan masalah skripsi ditulis di bab berapa?

Dalam banyak pedoman penulisan, rumusan masalah ditempatkan pada Bab I Pendahuluan. Namun, urutan dan formatnya dapat berbeda sesuai pedoman perguruan tinggi atau program studi.

3. Berapa jumlah rumusan masalah yang ideal?

Tidak ada jumlah yang berlaku universal. Jumlah rumusan masalah perlu disesuaikan dengan kompleksitas persoalan, tujuan, ruang lingkup, dan kemampuan penelitian untuk menjawab setiap pertanyaan.

4. Apakah rumusan masalah harus berbentuk pertanyaan?

Rumusan masalah umumnya ditulis dalam bentuk kalimat tanya, tetapi format khusus dapat mengikuti pedoman akademik yang berlaku. Yang utama adalah persoalan penelitian dirumuskan dengan jelas.

5. Apa perbedaan rumusan masalah dan tujuan penelitian?

Rumusan masalah menyatakan hal yang ingin diketahui atau dijawab, sedangkan tujuan penelitian menjelaskan hal yang ingin dicapai untuk menjawab pertanyaan tersebut.

6. Apakah rumusan masalah boleh direvisi?

Boleh. Rumusan masalah dapat diperbaiki ketika kajian literatur, data awal, atau masukan dosen pembimbing menunjukkan perlunya penajaman fokus. Revisi perlu diikuti penyesuaian bagian lain yang berkaitan.

7. Apakah rumusan masalah harus berasal dari penelitian terdahulu?

Rumusan masalah dapat berangkat dari fenomena empiris, persoalan praktis, kajian teori, atau temuan penelitian terdahulu. Peneliti perlu memberikan dasar yang jelas dan menggunakan referensi secara tepat jika mengutip gagasan atau temuan orang lain.

Kesimpulan

Cara membuat rumusan masalah skripsi yang baik dimulai dari penentuan topik, identifikasi persoalan, penelusuran penelitian terdahulu, penetapan batasan, dan penyusunan pertanyaan penelitian yang jelas. Setiap pertanyaan harus sesuai dengan tujuan serta metode yang digunakan.

Rumusan masalah yang baik tidak ditentukan oleh panjang kalimat atau banyaknya pertanyaan, tetapi oleh ketepatan fokus dan kelayakannya untuk diteliti. Dengan menyusunnya secara sistematis, mahasiswa dapat memiliki dasar yang lebih kuat untuk melanjutkan penyusunan proposal dan skripsi.

Jadikan contoh dalam artikel ini sebagai bahan belajar, lalu kembangkan rumusan masalah berdasarkan topik, bukti, dan konteks penelitian sendiri. Jangan lupa memeriksa pedoman penulisan skripsi dari perguruan tinggi serta mendiskusikan rancangan penelitian dengan dosen pembimbing.

Catatan untuk pembaca

Artikel ini merupakan panduan umum penulisan akademik. Ketentuan teknis dapat berbeda antarperguruan tinggi, program studi, dan jenis penelitian. Gunakan sumber ilmiah yang relevan serta ikuti pedoman institusi masing-masing.