PEMBELAJARAN INDIVIDUAL DAN PEMBELAJARAN KELOMPOK


PEMBELAJARAN INDIVIDUAL DAN
PEMBELAJARAN KELOMPOK

Hamzah B. Uno (2008 : ) mendefinisikan pembelajaran (learning) adalah suatu kegiatan yang berupaya membelajarkan siswa secara terintegrasi dengan memperhitungkan faktor lingkungan belajar, karakteristik siswa, karakteristik bidang studi, serta berbagai strategi pembelajaran baik penyampaian, pengelolaan, maupun pengorganisasian pembelajaran.

A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Menurut Wina Sanjaya, pembelajaran individual dan pembelajaran kelompok merupakan suatu strategi pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran menurut J.R. David (1976) dalam Sanjaya (2006:126) dalam dunia pendidikan strategi dapat didefinisikan sebagai “a plan method, or series of activities designed to achieves a particular aducational goal.”. Strategi dapat didefinisikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Menurut Wina Sanjaya (2008 : 3) dari pengertian diatas terdapat dua hal yang harus kita cermati, pertama strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Kedua strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Hamzah B. Uno (2008 : 3) Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Kemp (1995) dalam Sanjaya (2006:126) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Sementara itu Dick and Carey (1985) dalam Sanjaya (2006:126) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Memperhatikan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan rencana yang berisi tentang prosedur, langkah-langkah yang didesain sedemikian rupa oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Definisi di atas menjelaskan pula kepada kita bahwa pembelajaran tidak dapat dilakukan secara sembarangan, pembelajaran memerlukan ketelitian, ketepatan dan kecerdikan seorang pengajar dalam memutuskan rencana-rencana apakah yang akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran.
Hasil akhir yang hendak dicapai dari penggunaan strategi pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dengan demikian strategi apapun yang akan digunakan dalam pembelajaran, tentunya dipakai dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

B. Pembelajaran Individual (Individual Learning)
1. Pengertian pembelajaran individual
Pembelajaran individual merupakan suatu strategi pembelajaran, hal ini dijelaskan oleh Rowntree (1974) dalam Sanjaya (2008 : 128) membagi strategi pembelajaran ke dalam strategi penyampaian-penemuan atau exposition-discovery leraning strategy dan strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembelajaran individual atau groups-individual learning strategy.
Menurut Wina Sanjaya (2008:128) strategi pembelajaran individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan dan keberrhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan. Bahan pembelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri.
Pada strategi pembelajaran individual ini siswa dituntut dapat belajar secara mandiri, tanpa adanya kerjasama dengan orang lain. Sisi positif penggunaan strategi ini adalah terbangunya rasa percaya diri siswa, siswa menjadi mandiri dalam melaksanakan pembelajaran, siswa tidak memiliki ketergantungan pada orang lain. Namun di sisi lain terdapat kelemahan strategi pembelajaran ini, diantaranya jika siswa menemukan kendala dalam pembelajaran, minat dan perhatian siswa justru dikhawatirkan berkurang karena kurangnya komunikasi belajar antar siswa, sementara enggan beratanya kepada guru, tidak membiasakan siswa bekerjasama dalam sebuah team.
Sedangkan menurut Sudjana (2009 : 116) Pengajaran individual merupakan suatu upaya untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, kecepatan dan caranya sendiri.
Menurut Sudjana, Perbedaan-perbedaan individu dapat dilihat dari :
1. Perkembangan intelektual
2. Kemampuan berbahasa
3. Latar belakang pengalaman
4. Gaya belajar
5. Bakat dan minat
6. Kepribadian
Pembelajaran individu berorientasi pada individu dan pengembangan diri. Pendekatan ini memfokuskan pada proses dimana individu membangun dan mengorganisasikan dirinya secara realitas bersifat unik. (Hamzah B. Uno, 2008 : 16)
Menurut Muhammad Ali (2000 : 94) strategi belajar mengajar individual disamping memungkinkan setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan potensinya, juga memungkinkan setiap siswa menguasai seluruh bahan pelajaran secara penuh. “mastery learning “ atau belajar tuntas.
Strategi pengajaran yang menganut konsep belajar tuntas, sangat mementingkan perhatian terhadap perbedaan individual. Atas dasar ini sistem penyampaian pengajaran dilakukan dengan mengarah kepada siswa belajar secara individual. Muhammad Ali (2000 : 99)

2. Model-model pembelajaran individual
Menurut Hamzah B. Uno (2008 : 18), ada beberapa model pembelajaran yang termasuk pada pendekatan pembelajaran individual, diantaranya adalah model pembelajaran pengajaran tidak langsung (non directive teaching), model pembelajaran pelatihan kesadaran (awareness training), sinektik, sistem konseptual, dan model pembelajaran pertemuan kelas (clasroom meeting).
Berikut adalah model-model pembelajaran yang lain :
• Distance learning (pembelajaran jarak jauh)
• Resource-based learning (pembelajaran langsung dari sumber)
• Computer-based training (pelatihan berbasis komputer)
• Directed private study (belajar secara privat langsung)
3. Keuntungan-keuntungan dan kelemahan pembelajaran individual
Keuntungan-keuntungan:
• Pembelajaran tidak dibatasi waktu
• Siswa dapat belajar secara tuntas
• Perbedaan-perbedaan yang banyak di antara para peserta dipertimbangkan
• Para peserta didik dapat bekerja sesuai dengan tahapan mereka dengan waktu yang dapat mereka sesuaikan
• Gaya-gaya pembelajaran yang berbeda dapat diakomodasi
• Hemat untuk peserta dalam jumlah besar
• Para peserta didik dapat lebih terkontrol mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari
• Merupakan proses belajar yang bersifat aktif bukan pasif
Beberapa kelemahan:
• Memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan bahan-bahan
• Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan
• Peran instruktur perlu berubah
• Keberhasilan tujuan pembelajaran kurang tercapai, karena tidak ada tempat untuk siswa bertanya

C. Pembelajaran Kelompok (Cooperative Learning)
1. Pengertian pembelajaran kelompok (Cooperative Learning)
Menurut Wina Sanjaya (2008 : 129) belajar kelompok dilakukan secara beregu. Sekelompok siswa diajar oleh orang atau beberapa orang guru. Bentuk pembelajarannya dapat berupa kelompok besar atau pembelajaran klasikal; atau bisa juga siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Strategi kelompok tidak memperhatikan kecepatan belajar individual, setiap individu dianggap sama.
Menurut Wina Sanjaya (2011 : 242) Pembelajaran kelompok merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).
Slavin dalam Wina Sanjaya (2011 : 242) mengemukakan dua alasan pentingnya pembelajaran kelompok digunakan dalam pendidikan, pertama beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.
Depdiknas dalam Kokom Komalasari (2010 : 62) Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Bern dan Erickson dalam Kokom Komalasari (2010 : 62) mengemukakan bahwa cooperative learning merupakan stategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil dimana siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, strategi pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai salah satu satrategi pembelajaran yang menuntut adanya kerjasama siswa dalam suatu kelompok dengan mengembangkan kemampuan tiap individu serta memanfaatkan berbagai faktor internal dan eksternal untuk memecahkan masalah tertentu sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai bersama.

2. Model-model Pembelajaran Kelompok
Menurut Kokom Komalasari, (2010 : 62) model pembelajaran kooperatif meliputi Kepala bernomor, skrip kooperatif, tim siswa kelompok prestasi, berpikir berpasangan berbagi, model jigsaw, melempar bola salju, tim TGT, kooperatif terpadu membaca dan menulis, dan dua tinggal dua tamu.
Berikut adalah model-model pembelajaran kelompok :
a. Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Guru membagi siswa dalam kelompok kecil dengan jumlah anggota empat sampai enam orang, kemudian guru menyajikan suatu materi dengan metode tradisional (ceramah, demontrasi, eksperimen, atau membahas buku teks). Materi dirancang untuk pembelajaran kelompok. Siswa secara kolaboratif mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk lembar kerja siswa. Setiap anggota kelompok saling membantu dan bertanggung jawab atas keberhasilan anggotanya. Setiap anggota kelompok menyimpulkan, merenungkan kembali apa yang telah diberikan untuk menyiapkan tes individu. Setelah diperiksa semua nilai individu
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.

b. Number Heads Together (NHT)
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil (4-6 orang). Dalam setiap kelompok siswa memiliki nomor diri. Guru memberi tugas kelompok, kemudian siswa membahas atau mengerjakan tugas kelompok. Dalam diskusi kelas guru memanggil nomor diri siswa dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan, setiap jawaban siswa diberi skor sebagai skor kelompok. Dalam kegiatan diskusi, guru memberikan reinforcement (penguatan kembali), pada konsep-konsep yang ditemukan siswa sebagai kesimpulan dan guru mengumumkan kelompok terbaik hari itu.
Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6. Kesimpulan.
Kelebihan:
1. Setiap siswa menjadi siap semua.
2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Kelemahan:
4. Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
5. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

c. Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.
d. Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada lima komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu: 1). Penyajian kelas, 2). Kelompok (team), 3). Game, 4). Turnamen, 5). Team recognize (penghargaan kelompok)

d. Assisted Individualization (AI)
Siswa secara individu bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dalam jumlah tertentu, selanjutnya siswa dengan kemampuan unggul diminta untuk memeriksa jawaban yang dibuat anggota lainnya, dan memberikan layanan kepada anggoota kelompoknya apabila ada kesulitan, sehingga soal-soal yang diberikan dapat terjawab sebanyak jumlah yang ditentukan.
e. Learning Together
Pembentukkan kelompok dengan anggota yang heterogen. Pemberian tugas sebagai proyek kelompok, setiap kelompok berdiskusi dan saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, hasil kegiatan kelompok merupakan hasil tunggal yang berarti nilai hasil kegiatan kelompok adalah nilai untuk setiap anggota kelompok.
f. Group Investigation (GI)
Siswa terbentuk dalam kelompok yang heterogen terlibat dalam beberapa hal yakni pemilihan topik yang dipelajari, penelitian terhadap topik tersebut dipresentasikan. Guru dan siswa merancang secara khusus prosedur pemberian tugas dan tujuan yang sesuai dengan topik yang akan dipelajari. Pembelajaran harus meliputi aktivitas dan keterampilan yang berbeda baik dari dalam maupun luar sekolah. Setelah itu siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang dipeoleh serta menyimpulkannya.
1. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
Seleksi topik
2. Merencanakan kerjasama
3. Implementasi
4. Analisis dan sintesis
5. Penyajian hasil akhir
6. Evaluasi

3. Keuntungan-keuntungan dan kelemahan pembelajaran kelompok
Keuntungan –keuntungan :
1) Melalui pembelajaran kelompok siswa tidak selalu tergantung kepada guru
2) Melatih kemampuan komunikasi siswa dengan cara mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan
3) Membantu siswa untuk respek kepada orang lain
4) Dapat meningkatkan prestasi akademik siswa
5) Meningkatkan motivasi dan rangsangan untuk berfikir
Kelemahan :
1) Pembelajaran kelompok membatasi siswa yang berkemampuan tinggi dalam waktu belajar
2) Dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa
3) Penilaian yang diberikan berdasarkan hasil kerja kelompok.

 
DAFTAR PUSTAKA

Wina Sanjaya (2008), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Kencana
Wina Sanjaya (2011), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Kencana
Kokom Komalasari (2010), Pembelajaran Kontekstual,Bandung, Refika Aditama
Hamzah B. Uno (2008), Model Pembelajaran,Jakarta, Bumi Aksara
Nana Sudjana (2009), Teknologi Pengajaran, Bandung, Sinar Baru
Muhammad Ali (2000), Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru

Makalah Manajemen Bimbingan dan Konseling di SD | Administrasi Bimbingan dan Konseling..!!

C. Administrasi Bimbingan dan Konseling
Administrasi bimbingan dan konseling dapat dilihat secara makro dan mikro. Secara makro administrasi bimbingan dan konseling dimaksudkan sebagai usaha dalam mengelola dan menggerakan berbagai personil dan material dalam rangka mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Sedangkan secara mikro administrasi bimbingan dan konseling dimaksudkan sebagai kegiatan pengaturan lalu lintas kerja pelayanan bimbingan dan konseling sehingga kegiatan tersebut tetap lancer, efisien, dan efektif.
Kegiatan administrasi ini dapat berupa pencatatan data murid, penyimpanannya, pelaporan, dan pengalihtanganan masalah murid kepada tenaga yang lebih ahli/relevan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyelenggarakan administrasi, antara lain:
  • Mengingat kegiatan bimbingan dan konseling dilakukan oleh guru kelas maka sebaiknya pekerjaan administrasi tersebut tidak terlalu menyita waktu mereka. Catatan-catatan yang dikerjakan haruslah bersifat sederhana.
  • Catatan-catatan pribadi yang dibuat harus dijaga kerahasiaannya.
  • Semua catatan yang dikumpulkan hendaknya dimaksudkan untuk keperluan layanan bimbingan dan konseling.
  • Setiap catatan tentang murid hendaknya mudah ditemukan.
Pola Kerja Administrasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Pola kerja administrasi bimbingan dan konseling di sekolah dasar dapat digambarkan sebagai berikut:
  • Pada saat pertama diterima sekolah, data pribadinya dicatat dari hasil pengedaran angket pada orang tua, atau dengan menggunakan teknik-teknik pengumpulan data lainnya. Data tersebut kemudian dimasukkan kedalam file, map atau buku pribadi masing-masing murid.
  • Data murid yang diperoleh dari catatan anekdot selama proses belajar-mengajar dimasukkann kedalam dokumen murid yang bersangkutan.
  • Bila guru memandang perlu memberikan pelayanan kepada murid, maka laporannya juga dimasukkan kedalam dokumen diatas.
  • Konsultasi guru dengan orang tua murid hendaknya juga dicatat dan dimasukkan kedalam dokumen.
  • Setiap bulan guru diharapkan dapat memberikan laporan tentang pelayanan bimbingan dan konseling kepada kepala sekolah, baik secara tertulis mauun secara lisan.
  • Dalam keadaan yang sangat khusus guru kelas dapat menghasilkan murid kepada petugas yang lebih relevan dan berwewenang atas izin kepala sekolah.
Sarana Administrasi Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Sarana penunjang pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling di sekoah dasar, antara lain:
  • Ruang serba guna bimbingan. Pada ruangan ini dapat dilakukan berbagai kegiatan bimbingan dan konseling seperti bimbingan kelompok, konseling perorangan, pemberian informasi dan lain sebagainya. Ruang tersebut harus menyenangkan, tidak memberikan kesan yang sama dengan situasi kelas dan terhindar dari suasana keributan.
  • Alat-alat mobile seperti almari, meja, kursi konseling, dan kursi tamu.
  • Alat-alat kelengkapan bimbingan seperti alat-alat pengumpulan data, alat-alat penyimpanan dan pengolahan data, buku paket bimbingan karier, papan media bimbingan (untuk keperluan pemberian informasi) dan sebagainya. Alat-alat ini sebaiknya disimpan pada ruangan serba guna bimbingan.
KESIMPULAN
Struktur program bimbingan di SD terdiri dari 4 kegiatan utama, yaitu : Layanan dasar bimbingan ; Layanan Responsif; Layanan perencanaan individu; Dukungan system. Empat layanan utama diatas didukung oleh layanan yang lainnya, yaitu : 1) pengumpulan data; 2) layanan orientasi dan pemberian informasi; 3) layanan penempatan; 4) konseling; 5) referral dan 6) evaluasi dan tindak lanjut. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan program bimbingan di sekolah yaitu : 1) aspek program bertolak dari kebutuhan dan masalah yang ada di sekolah; 2) aspek ketenangan, guru kelas dipandang sebagai personil yang paling melaksanakan layanan bimbingan, dengan demikian guru harus memiliki pemahaman yang tepat untuk melaksanakan layanan bimbingan; 3) aspek prosedur atau tekhnik, perlu adanya keterpaduan antara pendekatan dan teknik intruksional dengan transaksional; 4) daya dukung lingkungan, layanan bimbingan perlu bantuan dan dukungan menegerial, social,sarana fisik.
DAFTAR PUSTAKA
  • Faza, Firstalenda, Fitria E, Fitrya K. 2012. Kegiatan Referal. [Online]. Tersedia:http://fi3fa.blogspot.com/2012/05/kegiatan-referal.html.[diakses 10 Desember 2013]
  • Setiawati dan Ima Ni’mah Chudari. 2007. Bimbingan dan Konseling. Bandung : UPI PRESS.
  • Vindriati, Ajeng Ayu. 2011.Program,Organisasi dan Administrasi BK di SD.[Online]. Tersedia:http://ajengayuvindriatin.blogspot.com/2011/12/program-organisasi-dan-administrasi-bk.html.[diakses 10 Desember 2013]

Makalah Manajemen Bimbingan dan Konseling di SD | Pengembangan Program Bimbingan di SD..!!

A. Pengembangan Program Bimbingan di SD
Kerangka kerja layanan bimbingan dan konseling dapat di kembangkan dalam empat layanan utama, yaitu a) layanan dasar bimbingan; b) layanan responsive; c) layanan perencanaan individual ; d) dukungan system
1. Layanan Dasar Bimbingan,
Yaitu layanan yang membantu murid mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan dasar untuk kehidupan yang mengacu kepada tugas – tugas perkembangan murid SD.
Materi dalam layanan dasar bimbingan lebih berkaitan dengan bimbingan pribadi. Dalam bimbingan pribadi lebih memfokuskan kepada upaya mengembangkan aspek pribadi murid, seperti memahami diri, memahami lingkungan, kemampuan memecahkan masalah, konsep diri, bimbingan menjadi pribadi mandiri.
Beberapa contoh materi bimbingan pribadi di SD, yaitu:
a. Motivasi belajar
b. Kemampuan memecahkan masalah
c. Self esteem
d. Membuat program kegiatan sehari – hari
e. Cara mengembangkan minat, bakat.
f. Keterampilan berkomunikasi
g. Keterampilan pengambilan keputusan.
h. Keefektifan dalam hubungan antar pribadi.
i. Cara belajar yang efektif dsb.
Layanan dasar bimbingan ditujukan untuk semua murid, disampaikan dengan menggunakan strategi klasikal dan dinamika kelompok, baik dalam kelompok kecil atau klasikal. Kurikulum materi layanan disusun dengan menggunakan sumber – sumber referensi dan sumber lainnya dan menggunakan strategi penyampaian dan penilaian. Materi layanan diberikan dengan memperhatikan usiadan tahapan perkembangan murid.
a. Layanan Responsive (Responsive Services)
Layanan ini ditujukan untuk membantu murid dalam bentuk mengintervensi masalah atau kepedulian pribadi murid yang dirasakan pada saat itu, seperti yang berhubungan dengan masalah social - pribadi, pengembangan pendidikan, atau bimbingan karir. Isi karangan responsive yaitu : a) bimbingan belajar ; b) bimbingan social – pribadi; c) bimbingan karir. Layanan ini bersifat preventive atau mungkin kuratif.
Tujuan dari layanan Responsive adalah membantu murid SD agar mampu menentukan pilihan dan terhindar dari pilihan yang tidak baik. Strategi layana dapat dilakukan dengan konselingorang tua dan guru.
Contoh topic yang relevan dengan masalah di SD, yaitu :
  • a. Kenakalan anak
  • b. Keberhasilan belajar
  • c. Tata tertib sekolah
  • d. Penyalahgunaan obat – obatan terlarang
  • e. Kehadiran
  • f. Sikap dan perilaku terhadap sekolah
  • g. Penyesuaian terhadap sekolah baru
  • h. Keterampilan studi
Contoh topic yang berkaitan dengan masalah pribadi, yaitu :
  • a. Masalah perceraian
  • b. Masalah keluarga
  • c. Kematian keluarga atau teman
  • d. Hubungan dengan teman, dsb
b. Layanan Perencanaaan Individual
Layana perencanaan individual adalah jenis layanan yang membantu murid dalam membuat rencana pendidikan, karir, dan soaial – pribadinya. Tujuan utama dari layanan perencanaan pendidikan adalah membantu murid memantau dan memahami pertumbuhan dan perkembangan sendiri, dan merencanakan serta mengimplementasikan perencanaan tersebut. Melalui layanan perencanaan individual murid dapat: a)membuat peren canaan dalam mencpai tujuan jangka pendek dan panjang; b) memahami dan menganalisiskekuatan dan kelemahan diri; c) dapat mengukur pencapaian tujuan yang dibuat sendiri; d) mempersiapkan tujuan social – pribadi, pendidikan, karir, yang didasarkan atas pertimbangan dan pengetahuan atas dirinya, dan berbagai informasi yang diperoleh.
Guru dapat menggunakan narasumber dan berbagai informasi lainnya untuk membantu murid secara individual dalam mengembangkan dan mengimplementasikan perencanaan pribadi. Layanan ini diberikan lebih bersifat individual karena tujuan dan keputusan dari perencanaan yang dibuat murid harus ditentukan oleh murid itu sendiri. Layanan diberikan dengan cara konsultasi, bimbingan individu atau kelompok dan konseling.
Isi layanan perencanaan individual yaitu :
a) Bidang pendidikan dengan topik “ Cara Belajar yang Efektif”
b) Bidang sosial – pribadidengan topi “ Mengembangkan Konsep Diri yang Positif, Mengembangkan
Keterampilan Sosial yang Tepat, Belajar Menghindari Permusuhan dengan Teman”;
c) Bidang karir dengan topik” Mengenal dan Mengidentifikasi jenis – jenis Sekolah, Mengenal Jenis Pekerjaan yang Ada di Masyarakat.”
c. Dukungan Sistem
Dukungan system merupakan kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meninghkatkan programbimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan. Kegiatan pendukung system lebih diarahkan pada pemberian layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung bermanfaat bagi siswa.
Masing – masing layanan memiliki alokasi waktu, seperti untuk 1) Layanan Dasar Bimbingan adalah 35-40%; 2) Layanan Responsive 30% - 40%; 3) Sistem Perencanaan Individual 5% - 10% ; Pendukung Sistem 10% - 15%
Keempat layanan utama seperti diuraikan diatas, dalam implementasinya didukung oleh layanan – layanan yang lainnya, yaitu :
2. Layanan Pengumpulan Data
Yaitu kegiatan dalam bentuk menghimpun informasi tentang murid beserta latar belakangnya. Pengumpulandata tentang murid merupakan identifikasi awal tentang identitas murid, bakat dan minat, beserta latar belakang keluarganya. Layanan pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang objektif terhadap murid dan membantu mereka agar mereka dapat berkembang secara optimal.
3. Layanan Orientasi dan Pemberian Informasi
Layanan ini merupakan layanan pertama yang diberikan kepada murid. Pada saat murid memasuki usia sekolah sangat membutuhkan informasi tentang sekolah, seperti kurikulum, tata tertib, guru – gurunya dan fasilitas sekolah yang dimiliki ( perpustakaan, ruang belajar, ruang guru, wc, dsb). Layanan ini bertujuan agar murid memiliki informasi yang memadai tentang dirinya dan lingkungannya. Layanan ini sangat strategis agar murid merasakan kenyamanan dan ketenangan di dalam sekolah. Layanan ini disampaikan juga kepada orang tua agar dapat membantu putra putrinya dalam menyesuaikan diri dengan sekolah dan semua personil yang ada. Pelaksanaan penyampaian layanan ini adalah pada waktu murid memasuki sekolah dan akan diulang pada wakatu tahun ajaran baru.
4. Layanan Penempatan
Layanan penempatan bertujuan untuk membantu siswa dalam mendapatkan tempat atau wadah yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga dapat mengembangkan segala kemampuan yang dimiliki secara optimal. Perkembangan optimal ini akan terwujud bilamana individu berada pada posisi yang sesuai dengan pribadinya, bakat, minat dan kemampuannya. Program layanan penempatan merupakan lanjutan dari layanan orientasi. Jika layanan orientasi memberikan informasi secara umum, seperti tentang cara menyalurkan bakat, tentang belajar kelompok, sedangkan layanan penempatan lebih memperhitungkan alternatif kemungkinan penempatan murid secara individual, dengan melalui pengukuran terhdap kemampuan, bakat, dan minat, serta kemungkinan-kemungkinan khusus lainnya.
a. Layana Penempatan Dalam Belajar di Kelas
Dalam kegiatan belajar di kelas, terkadang ada murid yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan dalam kelompok belajar, posisi duduk, kegiatan belajar dsb. Untuk menghadapi murid yang demikian, layanan penempatan dapat memberikan bantuan. Pada murid yang baru masuk kelas 1 SD, mereka datang dari lingkungan dan pengalaman yang berbeda satu sama lain. Ada murid yang sebelumnya pernah masuk Taman Kanak – Kanak (TK), tapi tidak sedikit yang belum pernah memasuki TK. Dengan demikian mereka datang dengan kemampuan awal yang berbeda, terutama pada kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Keadaan ini harus dihadapi dengan bijaksana, sehingga setiap murid mendapatkan posisiyang tepat sehingga ia mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan. Guru kelas harus mampu menempatan murid secara tepat. Jikadi perlukan ada seleksi sederhana tentang kemampuan calistung (membaca, menulis dan berhitung), tapi bukan seleksi masuk kelas 1 SD. Hasil seleksi dapat digunakan untuk penempatan posisi duduk, kelompok belajar, yang pandai menjadi tutor sebaya bagi temannya yang lain, atau dapat dijadikan pertimbangan untuk pembagian jelas biasa dengan kelas unggulan. Tentu cara penempatan murid ini harus menggunaka berbagai pertimbangan yang seksama, sehingga tidak menimbulkan kesalahan dalam mengambil keputusan.
b. Layanan Penempatan Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
Layanan penempatan dalam kegiatan ekstra kurikuler sangat diperlukan untuk mendapatkan murid dalam kegiatan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan, murid itu sendiri. Guru harus memiliki pemahaman yang memadai tentang bakat, minat serta kemampuan murid – muridnya, agar dapat menempatkan murid pada kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai. Kegiatan ekstra kurikuler di SD dapat dikelompokan dalam beberapa macam, seperti olahraga, kesenian (seni tari, seni suara, seni music, seni gambar), kelompok ilmiah remaja, pramuka dan lain sebagainya. Dengan adanya penempatan murid pada kegiatan ekstra kurikuler yang tepat, diharapkan akan mengembangkan kemampuannya secara optimal.
5. Layanan Konseling
Yaitu layana secara individual kepada murid yang memiliki masalah pribadi. Tujuan layanan konseling adalah upaya membantu murid agar dapat memecahkan masalahnya sendiri. Layanan konseling sering disebut merupakan inti dari keseluruhan layanan bimbingan, karena bantuan melalui konseling langsung berkenaan dengan pribadi setiap murid.
Layanan Referal, merupakan layanan dengan melimpahkan masalah kepada pihak yang lebih mampu dan berwenang. Layanan referral ini dilakukan apabila masalah yang dihadapi murid diluar kewenangan guru atau guru pembimbing SD. Kegiatan referal menunjuk pada azas alih tangan kasus yaitu azas bimbingan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik mengalih tangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli.
Kegiatan alih tangan kasus meliputi dua jalur, yaitu jalur kepada konselor dan jalur dari konselor. Jalur kepada konseor, dalam arti konselor menerima “kiriman” konseli dari pihak-pihak lain, seperti orang tua, kepala sekolah, guru, pihak atau ahli lain (misalnya dokter, psikiater, psikolog, kepala suatu kantor aau perusahaan). Sedangkan jalur dari konselor, dalam arti konselor “mengirimkan” konseli yang belum tuntas ditangani kepada ahli-ahli lain, seperti konselor yang lebih senior, konselor yang membidangi spesialisasi tertentu, ahli-ahli lain (msalnyaguru bidang studi, psikolog, psikiater, dan dokter). Konselor menerima konseli dari pihak lain dengan harapan konseli itu dapat ditangani sesuai dengan permasalahan konseli yang belum atau tidak tuntas ditangani oleh pihak lain itu; atau permasalahan konseli itu tidak sesuai dengan bidang keahlian pihak yang mengirimkan konseli itu. Di sisi lain, konselor mengalihtangankan konseli kepada pihak lain apabila masalah yang dihadapi konseli memang diluar kewenangan konselor untuk menanganinya, atau setelah konselor berusaha sekuat tenaga memberikan bantuan, namun permasalaha konseli belum berhasil ditangani secara tuntas. Menurut surya (1986; 24) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam layanan referral, yaitu :
  • Referal harus disertai dengan data yang lengkap tentang murid dan masalah yang dihadapi
  • Referal harus disertai dengan surat pengantar yang menjelaskan tujuan referral
  • Referal harus disetujui oleh murid yang bersangkutan, dan orangtua kalau perlu
  • Layanan Referal harus tetap menjadi tanggungjawab pihak sekolah. Pihak yang dirujuk harus tetap menjalin hibungan dengan pihak sekolah.
  • Pihak yang dirujuk harus memberikan laporan terperinci tentang perkembangan dan hasil upaya rujukan itu kepada pihak sekolah. Laporan tersebut penting diketahui dan dijadikan bahan untuk memberikan perlakuan yang berkesinambungan di sekolah dan dirumah.
6. Layanan evaluasi dan tindak lanjut
Merupakan layanan untuk menilai keberhasilan program bimbingan yang telah dilaksanakan. Disamping itu juga dengan layanan evaluasi, dapat diketahui program yang tidak mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, sehingga dapat dianalisa dan ditentukan untuk program tindak lanjutnya.
Tujuan dilaksanakannya layanan evaluasi dan tindak lanjut adalah :
  • Untuk mengetahui apakah program layanan sudah dapat dilaksanakan dengan baik?
  • Untuk mengetahui efektifitas layanan yang sudah diberikan.
  • Untuk mengetahui apakah ada konstribusinya layanan bimbingan terhadap program sekolah.
  • Untuk mendorong kepala sekolah dan seluruh personal sekolah dalam melakukan perbaikan-perbaikan layanan dan program sekolah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
  • Dengan evaluasi seluruh guru diharapkan dapat masing-masing menyadari akan tugas dan tanggung jawab masing-masing sebagai pelayan kebutuhan anak didiknya.
  • Untuk mengetahui aspek-aspek apa saja yang perlu dimasukan dalam program layanan bimbingan selanjutnya

Pengunjung