Keunggulan dan Kelemahan Sistem JIT (Just in Time)


Sering kita temui literatur yang membahas tentang konsep penggunaan metode Just in Time (JIT) dalam perusahaan-perusahaan besar seperti pada perusahaan Yamaha, KFC, Daihatsu, dan Toyota yang kapasitas produksinya dapat dikategorikan besar pertahunnya. Selain dari perusahaan manufaktur tersebut, sistem just in time pun juga mulai merambat ke perusahaan industri lainnya dan juga menarik penyedia jasa untuk mengadopsi sistem tersebut. Usaha jasa tersebut antara lain, meubel, gerai makanan siap saji ( fast food restaurant), kedai kopi dan lain-lain (Haming dan Nurnajamuddin, 2007: 295). Dalam penerapannya, JIT mampu mengefisienkan biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan terutama pada biaya untuk penyimpanan persediaan. JIT dipandang dapat mengurangi persediaan karena penimbunan persediaan dipandang sebagai pemborosan ( Charles dan James, 1987: 6,124).
Akan tetapi hal ini berbeda dengan kenyataan pada usaha kecil yang sering kita temui yaitu usaha warteg. Usaha warteg dapat menjadi representasi usaha kecil yang telah mengakar sebagai usaha yang menjadi andalan masyarakat dan dapat kita temui hingga pelosok Indonesia. Usaha warteg biasanya dimiliki dan dikontrol oleh keluarga sehingga usaha warteg lebih mengandalkan unsur permodalan dari dalam keluarga.
Dalam studi kasus kali ini, usaha warteg dianggap cukup mewakili dalam hal penggunaan sistem JIT dalam usaha-usaha kecil sejenisnya. Proses bisnis warteg sebenarnya telah mengadopsi teknik JIT terutama dalam persediaan bahan bakunya. Teknik JIT dalam usaha warteg sendiri dilakukan secara sederhana dengan keterbatasan sumber daya manusia. Hal yang paling tampak penggunaan teknik JIT pada proses bisnis warteg adalah terkait manajemen persediaan  bahan baku dari produk-produk warteg itu sendiri. Faktor biaya yang timbul dari persediaan bahan baku memberikan dampak yang signifikan terhadap laba dari usaha warteg itu sendiri. Tentunya teknik JIT yang telah digunakan oleh warteg juga berpengaruh dalam perkembangan bisnis warteg. Dalam perkembangannya, secara tidak langsung bisnis warteg sulit untuk berkembang jika menggunakan sistem JIT. Sistem JIT menyebabkan konsekuensi harga persediaan bahan baku yang berfluktuasi dan cenderung meningkat yang secara otomatis apabila harga bahan baku naik harga dari produk yang dihasilkan warteg itu juga mengikuti harga pasar. Namun, hal tersebut bertolak belakang dengan kenyataan, di mana warteg di Indonesia memiliki pasar masyarakat menengah ke bawah yang sensitif terhadap harga sehingga warteg cenderung akan mempertahankan harga dan kualitas agar tidak kalah bersaing dengan warteg lainnya. Hal inilah yang menyebabkan keuntungan warteg akan menurun jika harga naik dan sulit untuk mengurangi penurunan keuntungan karena warteg akan berusaha untuk terus mempertahankan harga dan kualitas. Bahan baku yang sebagian besar berasal dari produk mentah pertanian dan peternakan yang cepat busuk juga mempengaruhi penggunaan teknik JIT dalam pengaturan persediaan. Permasalahan di atas yang dapat menjadi pembatas usaha warteg dalam berkembang. Dalam tulisan ini, pembahasan kasus JIT pada warteg menggunakan asumsi bahwa warteg hanya melakukan usaha penyediaan makanan dan minuman tanpa adanya delivery order sehingga mengabaikan biaya pengiriman kepada pelanggan.
Metode Just in Time
Sistem kendali persediaan JIT pertama kali dikembangkan di Jepang oleh Taiichi Okno, Vice President Toyota. Pada awalnya sistem ini disebut sistem Kanban, sesuai dengan nama kartu yang ditempatkan pada wadah komponen yang telah dipakai untuk memperlihatkan kebutuhan akan pasokan barang. Gagasan di balik sistem ini adalah bahwa perusahaan seharusnya menjaga persediaan pada tingkat minimal dan mengandalkan pemasok untuk mengisi kembali persediaan “seketika = just in time” persis sebelum dipakai di jalur perakitan atau produksi. Ini sangat berbeda dengan filosofi Amerika Serikat yang kadang kala disebut Just in Case yakni menjaga stok pengaman pada tingkat tertentu untuk menjamin agar produksi tidak mengalami interupsi atau penghentian produksi secara tiba-tiba. Sekalipun persediaan yang banyak tidak menjadi masalah besar pada saat tingkat bunga sedang rendah, tetapi akan menjadi sangat mahal manakala bunga sedang tinggi.
Ditinjau dari pengertiannya, Just in Time (JIT) adalah filosofi yang dipusatkan pada pengurangan biaya melalui eliminasi persediaan. Semua bahan baku dan komponen lainnya sebaiknya tiba di lokasi kerja pada saat dibutuhkan. Produk yang diproduksi dalam JIT sebaiknya diselesaikan dan tersedia bagi pelanggan di saat pelanggan menginginkannya. Eliminasi persediaan di satu pihak dapat menghilangkan kebutuhan akan penyimpanan dan biaya penyimpanan. Namun, di lain pihak eliminasi persediaan tersebut juga menghilangkan perlindungan yang disediakan oleh persediaan terhadap kesalahan oleh produksi dan ketidakseimbangan jumlah output yang diminta oleh pelanggan. Akibatnya, diperlukan beban kerja bermutu tinggi dan seimbang dalam sistem JIT guna menghindari penghentian produksi yang berbiaya mahal serta kekecewaan pelanggan atas jumlah output yang tidak sesuai. Oleh karena membutuhkan kualitas dan output produksi yang seimbang, JIT seringkali dikaitkan dengan usaha untuk mengeliminasi pemborosan dalam segala bentuk, dan merupakan bagian yang penting dalam banyak usaha Total Quality Management.
Just in Time dapat juga diartikan sebagai suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen di mana segenap sumber daya dipakai hanya sebatas yang dibutuhkan atau dengan kata lain menghasilkan sebuah produk hanya jika dibutuhkan, hanya dalam kuantitas dan kualitas yang diminta oleh pelanggan yakni disesuaikan waktu, jumlah, dan kualitasnya dengan tepat. Sistem JIT juga merupakan salah satu upaya untuk mengurangi atau menghilangkan persediaan dalam hal ini adalah bahan baku, barang antara (Work in Process), dan barang jadi dalam usaha untuk memangkas biaya-biaya tersebut. Penerapan Just in Time bertujuan untuk meningkatkan keuntungan atau profit dengan cara sebagai berikut:
1.      Meningkatkan produktivitas;
2.      Mengurangi pemborosan.
Dengan adanya tujuan tersebut dibutuhkan beberapa aspek fundamental dalam penerapannya. Berikut aspek-aspek tersebut:
1.      Menghilangkan seluruh aktivitas yang tidak ada / memberikan nilai tambah bagi sebuah produk atau jasa;
2.      komitmen manajemen dengan karyawan terhadap mutu yang tinggi;
3.      upaya perbaikan yang berkelanjutan;
4.      penekanan pada penyederhanaan;
Dengan demikian diharapkan tujuan-tujuan perusahaan terutama dalam meningkatkan laba dengan cara meminimalkan biaya, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan output dapat tercapai. Adapun beberapa karakteristik yang membedakan JIT dengan sistem lainnya adalah:
1.      Sistem tarik;
2.      Output tetap;
3.      Persediaan tidak signifikan;
4.      Pemasok yang sedikit jumlahnya;
5.      Adanya kontrak dengan pemasok jangka panjang;
6.      Tenaga kerja mutifungsi;
7.      Total Quality Management;
8.      Dominasi penelusuran langsung (perhitungan biaya produk).

Keunggulan dari metode ini adalah dapat mengurangi biaya tenaga kerja, persediaan, risiko kerusakan, dan peningkatan kualitas produk. Keunggulan tersebut seiring dengan adanya Total Quality Management dalam penerapan sistem JIT sehingga risiko kerusakan dapat ditekan dan kerugian akibat retur barang rusak oleh pelanggan dapat dikurangi karena Total Quality Management juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas dari produk.  Selain itu, biaya tenaga kerja dapat ditekan karena jumlah persediaan diusahakan menjadi seminim mungkin sehingga tenaga kerja yang dibutuhkan dalam mengawasi tidak perlu dalam jumlah yang banyak. Biaya penyimpanan juga dapat ditekan hingga seminimal mungkin akibat dari persediaan yang disimpan juga sedikit.
Kelemahan dari metode ini adalah sulit mencari pemasok, biaya pengiriman tinggi, kesulitan menghadapi perubahan permintaan, tuntutan sumber daya manusia yang multifungsi, dan perlengkapan teknologi yang membutuhkan biaya besar. Dalam JIT pemasok merupakan faktor penting dalam persediaan di mana selain berpengaruh terhadap penyediaan persediaan stok juga berpengaruh dalam harga dari persediaan yang akan dibeli. Permasalahannya adalah sulitnya mencari pemasok terutama usaha seperti warteg. Hal inilah yang menjadi kendala warteg dalam mengendalikan harga persediaan. Harga persediaan secara langsung akan mempengaruhi harga pokok produksi. Semakin tinggi harga beli persediaan akan turut meningkatkan harga pokok penjualan. Jika ingin keuntungan meningkat, maka warteg harus menaikkan harga. Namun, warteg akan lebih memilih harga yang tetap agar dapat bersaing dengan harga di warteg lain. Pelanggan menjadi prioritas utama dalam bisnis usaha warteg. Sebab menggunakan JIT, warteg menjadi kesulitan dalam meramalkan permintaan. Hal ini juga akan menjadi biaya yang terbuang percuma jika warteg tidak dapat menjual seluruh produksi yang telah ditetapkan. Terkait dengan bagaimana untuk mengecilkan biaya-biaya seperti biaya penyimpanan, sistem JIT justru tinggi. Hal ini dikarenakan adanya permintaan barang untuk dikirim dalam waktu yang terkadang tidak dapat ditentukan dan cenderung tiba-tiba sehingga dalam prakteknya biaya pengiriman relatif lebih tinggi. Sistem JIT juga mewajibkan akan adanya teknologi yang tinggi. Sebab, dengan permintaan yang cenderung cepat dan tiba-tiba serta tidak membutuhkan waktu yang relatif lama maka teknologi tinggi serta sumber daya manusia yang multifungsi merupakan hal yang sangat penting untuk dipenuhi. Namun, sayangnya dalam penerapannya kedua hal tersebut sulit untuk dipenuhi karena keterbatasan dalam penerapan teknologi dan sulit mencari sumber daya yang berkompeten dan multifungsi.

Warteg (Warung Tegal)
Warteg adalah usaha berskala menengah ke bawah yang usahanya bergerak dibidang food and beverage dan merupakan salah satu jenis usaha gastronomi yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau yakni untuk melayani masyarakat menengah ke bawah. Usaha warteg biasanya dimiliki dan dikelola oleh keluarga atau kerabat dekat sehingga usaha ini biasanya menanamkan nilai-nilai kultur dalam keluarga. Warteg telah menjadi bisnis keluarga yang membudaya di Indonesia dan dapat ditemui hingga pelosok daerah.
Proses produksi warteg dimulai dari proses pembelian bahan-bahan masakan dengan jumlah yang telah disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Permintaan pelanggan tersebut disesuaikan berdasarkan pengalaman penjualan makanan dan minuman rata-rata dalam satu hari. Jumlah ini ditaksir secara tetap perharinya dalam setiap melakukan proses produksi. Proses selanjutnya adalah mengolah bahan-bahan tersebut untuk dapat diproduksi menjadi output berupa makanan dan minuman. Dalam proses produksi ini, bahan-bahan yang telah dibeli diusahakan semuanya diproduksi menjadi output dan tidak ada yang menjadi persediaan bahan baku sehingga terjadi keefisienan dalam pengolahan tempat penyimpanan bahan baku. Proses berikutnya dari alur usaha warteg adalah melakukan penjualan makanan dan minuman yang telah diproduksi tadi. Penjualan ini dilakukan secara langsung kepada pelanggan dan tidak ada proses pengiriman makanan dan minuman kepada pelanggan secara langsung atau sering dikenal dengan nama delivery order.

Penerapan JIT pada Warteg
Sistem JIT yang kerap digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar ternyata telah ada dalam proses produksi warteg. Penerapan JIT dalam warteg terlihat pada alur persediaan. Ketika melakukan pembelian bahan baku untuk produksi, warteg berusaha untuk membelinya dengan jumlah yang telah ditentukann dan relatif tetap untuk setiap pembelian setiap harinya sebagai karakteristik utama dari sistem JIT. Selain itu, penerapan sistem ini dapat dilihat ketika usaha warteg melakukan kontrak pembelian dengan pemasok yakni biasanya pemilik warteg telah mengenal baik pemasok dan telah menjalin hubungan kerjasama dalam waktu yang cukup lama dan ini juga merupakan karakteristik utama dari sistem JIT.
Pengusaha warteg berusaha seminimal mungkin untuk menekan biaya incremental terkait proses penyimpanan persediaan bahan baku. Hal ini disebabkan bahan baku dari produk yang diproduksi warteg sebagian besar tidak tahan lama karena bahan baku diperoleh langsung dari hasil produksi kegiatan agraris seperti sayuran, daging, telur, dan lain-lain. Oleh karena itu, pengelola warteg cenderung membeli bahan mentah sesuai dengan jumlah output yang ingin dihasilkan sesuai permintaan rata-rata harian. Terkadang ada warteg yang memang tidak melakukan penyimpanan persediaan, dengan kata lain bahan mentah yang dibeli harus cepat habis.
Sistem JIT yang diterapkan seperti ini sangat rentan ketika terjadi fluktuasi harga bahan baku produksi sebab dengan adanya fluktuasi harga maka biaya terkait bahan baku akan meningkat dan menyebabkan meningkatnya harga pokok penjualan. Oleh karena bisnis warteg tergolong dalam pasar persaingan sempurna, masing-masing warteg akan berusaha untuk tetap menjaga harga produk makanan dan minuman yang diproduksi agar tetap pada harga pasar sehingga profit yang seharusnya didapatkan menjadi berkurang. Akibat profit yang cenderung berfluktuatif akibat harga pasaran bahan baku dan kesulitan untuk meramalkan permintaan secara tepat yang berakibat pada biaya produksi  yang terbuang  percuma maka usaha warteg sulit melakukan ekspansi usaha lantaran profit merupakan sumber investasi internal yang menjadi andalan pengelola dan pemilik warteg.

Penentuan HargaPokok Backflush
Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai. Perusahaan menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :

1.      Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana.
2.      Setiap produk ditentukan biaya standarnya.
3.      Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira mengasilkan informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.
            Ada dua perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :
1.      Perubahan Akuntansi Bahan
2.      Perubahan Akuntansi Biaya Konversi

Analisis Biaya-Volume-Laba
1.      Analisis CPV Konvensional
Analisis biaya-volume-laba (CPV) konvensional menganggap bahwa semua biaya,   produksi dan non produksi, dap[at digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu:
a. Biaya yang bervariasi dengan volume, disebut biaya variabel
b. Biaya yang tidak bervariasi dengan volume, disebut biaya tetap.
Dalam anlisis tersebut biaya dianggap sebagai fungsi linier volume penjualan sehingga persamaannya adalah:
L  =  P - B                                         Dalam hal ini:
P  = H X                                           L = Laba bersih sebelum pajak
B  = T + VX                                     P = Pendapatan Total
Sehingga:                                                      B = Biaya Total
L  = HX - T - VX                                         H = Harga jual per unit
X(H - V) = L + T                                          X = Unit atau volume produk yang      X  =  (L+T)/(H-V)                           T = Biaya tetap total
                                                                      V = Biaya variabel per unit

2.      Analisis CPV dalam JIT
Dalam sistem JIT,biaya variabel per unit produk yang dijual turun namun biaya tetapnya naik.Dalam JIT,biaya variabel berdasar batch tidak ada karena batch menjadi satu kali.Jadi,rumus biaya dalam JIT dapat digambarkan sebagai berikut:
B  = T + V1X1 + V3X3
B = Biaya Total                                            X1 = Jumlah unit
T = Biaya tetap                                             X3 = Jumlah kegiatan
V1 = Biaya variabel berdasar unit penjualan (berdasar unit)
V3 = Biaya variabel berdasar non unit                                            
Titik Impas
Titik impas adalah suatu keadaan dimana perusahaan tidak mendapat laba maupun rugi.jadi dapat dikatakan kondisi pendapatan perusahaan dalam keadaan seimbang.
 Sistem Konvensional
X = (I + F) / (P - V)

Dalam hal ini:
X =  Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu
I   =  Laba sebelum pajak penghasilan
F  =  Total biaya tetap
P  =  Harga jual per unit
V  =  Biaya variabel per unit

Sistem JIT
              X1 = (I + F1 + X2V2 ) /  (P - V1)
Dalam hal ini:
X1 =  Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu
I     =   Laba sebelum pajak  penghasilan
F1  =  Total biaya tetap        
X2  =  Jumlah kuantitas berbasis nonunit     
V2  =  Biaya variabel per basis non unit
P    =  Harga jual per unit
V1  =  Biaya variabel per unit

Illustrasi  :
            PT.KIRANA, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perakitan suku cadang menggunakan dua sistem biaya yang berbeda yaitu:
1.      Sistem biaya konvensional                                            
2.      JIT
.Sistem biaya konvensional membebankan BOP menggunakan pengarah biaya (cost driver) berbasis unit. Sistem JIT menggunakan pendekatan yang terfokus pada penelusuran biaya dan penentuan harga pokok berbasis aktivitas untuk biaya yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan suatu sel pemanufakturan. Untuk mengetahui perbedaan antara kedua metode, berikut ini disajikan data biaya produksi untuk bulan desember 1997 :

ELEMEN BIAYA
SISTEM BIAYA

KONVENSIONAL
JIT
Bahan Baku
Tenaga kerja langsung
BOP Variabel berbasis unit
BOP Variabel berbasis non unit
BOP tetap langsung
BOP tetap bersama
    Rp  800
    70
    90
    -
    30
   100
Rp 1.090
  Rp   800
   100
    20
    30
    30
        20
  Rp 1.000

Diminta:
1.      Hitunglah jumlah maksimum dari masing-masing sistem biaya yang harus dibayar      seandainya perusahaan memutuskan untuk membeli pada pemasok luar.
2.      Bila  diketahui  perusahaan  berproduksi  pada  kapasitas 1500 unit dengan harga jual      Rp 1.100, susunlah laporan L/R untuk periode yang bersangkutan
3.      Lakukan analisis terhadap kasus tersebut.

Penyelesaian :

1. Jumlah maksimum yang harus dibayar kepada pemasok luar, biasa dianggap sebagai biaya terhindarkan yang harus diputuskan oleh perusahaan tersebut.
     Biaya yang dapat dihindarkan:
     - Sistem biaya konvensional  =  Rp 800 + 70 + 90 + 30    = Rp 990
     - Sistem biaya JIT           =  Rp 800 + 100 +30 +20 +30 = Rp 980
2. Laporan L/R
KETERANGAN      
SIST. KONVENSIONAL
SIST. JIT
Penjualan :
( 1500 u x Rp 1.100)
Biaya Variabel :
(Rp 9601) x 1.500 u)
(Rp 8202) x 1.500 u)
Laba Kontribusi
Biaya Tertelusur :
Bi. variabel berbasis non unit
Bi. tetap langsung
Jumlah Biaya Tertelusur
Laba Langsung Produk
Rp              1.650.000

1.440.000

210.000

-
45.000
45.000
165.000
Rp        1650.000


1.230.000
420.000

45.0003)
195.004)
240.000
180.000
    
     1) Rp 800 + Rp 70 + Rp 90 = Rp 960
     2) Rp 800 + Rp 20 = Rp 820
     3) Rp 30 x 1.500 u = Rp 45.000
     4) (Rp 100 + Rp 30) x 1.500 u = Rp 195.000

3. Sistem penentuan harga pokok konvensional menyediakan laporan yang menunjukkan profitabilitas produk sedangkan sistem JIT menunjukkan adanya efisiensi karena JIT dapat mengubah beberapa jenis biaya mis: Biaya tenaga kerja  langsung  menjadi biaya tetap langsung.      

Kesimpulan
Sistem JIT yang dipandang sebagai sistem yang mampu berperan dalam meminimalkan biaya, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan output, ternyata tidak sepenuhnya berpengaruh pada semua jenis usaha. Studi kasus di atas menunjukkan bahwa penerapan sistem JIT ternyata dapat membatasi perkembangan suatu usaha terutama usaha kecil misalnya usaha warteg pada khususnya. Hal ini diterangkan melalui sistem harga bahan baku di pasar yang fluktuatif, kesulitan menghadapi perubahan permintaan, sulit mencari pemasok yang selalu siap dalam melakukan transaksi terkait penyediaan persediaan bahan baku, sistem persaingan sempurna yang membuat harga bersifat rigid.

Makalah Bentuk-Bentuk Perusahaan | Pengantar Bisnis | Pembahasan 2..!!


2.5       Kartel

Kartel yaitu suat kesepakatan (tertulis) antara beberapa perusahaan produsen dan lain-lain yang sejenis untuk mengatur dan mengendalikan beberapa hal, seperti harga, wilayah pemasaran dan sebagainya, dengan tujuan menekan persaingan dan meraih keuntungan.

a.         Kartel daerah yaitu membagi daerah pemasaran setiap sekutu.

b.         Kartel produksi yaitu menentukan luas produksi setiap sekutu.

c.         Kartel kondisi yaitu penentuan syarat penjualan seperti potongan, tempat penjualan.

d.         Kartel harga yaitu penetapan harga minimum.

e.         Kartel pembagian laba yaitu penentuan cara pembagian laba setiap sekutu.

1.         Kelebihan :

a.         Kedudukan monopoli dari kartel di pasar menyebabkan kartel mempunyai posisi yang baik didalam menghadapi persaingan.

b.         Resiko penjualan barang-barang yang dihasilkan dan resiko kapital para anggota dapat diminimalkan, karena baik produksi maupun penjualan dapat diatur dan dijamin jumlahnya.

c.         Kartel itu dapat melaksanakan rasionalisasi, sehingga harga barang-barang yang dijual diproduksi kartel itu cenderung turun.

2.         Kelemahan :
a.         Dalam berbagai kemungkinan, saingan kartel dapat menyelundup ke dalam anggota kartel.

b.         Dalam kehidupan masyarakat luas, kartel dianggap sebagai sesuatu yang merugikan masyarakat, Karena kartel itu praktis dapat meninggikan harga dengan gaya yang lebih leluasa.

c.         Peraturan-peraturan yang dibuat bersama diantara mereka dengan sanksi-sanksi interen kartel itu akan mengikat kebebasan para anggota yang bergabung didalam kartel ini.

Contoh Perusahan Sistem Kartel di Indonesia

1.         PT. Cargill Indonesia

PT Cargill Indonesia adalah salah satu produsen dan pemasar internasional produk kedelai. Didirikan pada tahun 1865, perusahaan swasta ini memiliki 140.000 karyawan di 65 negara. Kegiatan PT Cargill Indonesia di Indonesia dimulai pada tahun 1974 dengan mendirikan pabrik pakan ternak skala kecil di Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Selama bertahun-tahun, PT Cargill Indonesia menikmati pertumbuhan yang substansial, dan saat ini ekspansi PT Cargill Indonesia telah mencakup pengumpulan, pengolahan penanganan, pengiriman dan pemasaran beragam produk pertanian dan pangan serta jasa terkait. Berkantor pusat di Jakarta dengan sejumlah kantor, pabrik dan fasilitas yang tersebar di seluruh Indonesia, PT Cargill Indonesia mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan.

PT Cargill Indonesia memulai bisnis di Indonesia dengan mengimpor kedelai pada tahun 1999. Selama 10 tahun belakangan ini, bisnis PT Cargill Indonesia diperluas hingga meliputi kegiatan rantai suplai biji-bijian dan minyak nabati yang melayani berbagai pelanggan local yang aktif baik di sektor industri pangan maupun pakan ternak. Misalnya:

•           PT Cargill Indonesia mensuplai kedelai untuk didistribusikan kepada pedagang besar yang melayani produsen tahu dan tempe setempat.

•           PT Cargill Indonesia mensuplai bungkil kedelai dan bahan baku pakan lainnya kepada pabrik Pakan ternak local.

•           PT Cargill Indonesia juga menghasilkan produk minyak nabati seperti minyak kelapa sawit mentah dan memproduksi minyak kelapa mentah terutama untuk mensuplai pabrik milik Cargill yang berlokasi di Malaysia, India, China, Eropa dan AS.

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa perusahaan kartel tersebut kedepannya akan berkembang karena dilihat dari perjalanan karir perusahaan tersebut maju karena perusahaan tersebut telah berjalan selama 10 tahun. Selain itu, Cargill telah memenangkan Platinum Indonesian CSR Award yang bergengsi. Penghargaan ini adalah penghargaan kedua dalam bulan ini yang mengakui kontribusi perusahaan bagi perkembangan ekonomi dan komunitas Indonesia. Sebagai wujud kontribusi yang lain, Cargill meluncurkan Books for Kids, untuk memberikan asupan ilmu pengetahuan pada pikiran generasi muda untuk masa depan yang lebih cerah.

2.6       Yayasan

Yayasan adalah bentuk organisasi wasta yang didirikan untuk tujuan sosial kemasyarakatan yang tidak berorientasi pada keuntungan. Misalnya Yayasan Panti Asuhan, Yayasan yang mengelola Sekolahan Swasta,Yayasan/badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan dalam mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan yang tidak mempunyai anggota. Yayasan dapat mendirikan badan usaha yang kegiatannya sesuai dengan maksud dan tujuan yayasan.

Yayasan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Kekayaan yayasan dapat diperoleh dari :

a.         Sumbangan/ bantuan yang tidak mengikat

b.         Wakaf

c.         Hibah

d.         Hibah Wasiat

e.         Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar (AD) dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

1.         Kelebihan

Kelebihan Yayasan adalah membantu masyarakat sosial dengan tidak mencari keuntungan.

2.         Kekurangan

Kekurangan Yayasan adalah terbatasnya dana- dana yang di perlukan.

Contoh perusahaan yayasan yang ada di Indonesia

1. YAYASAN GENERASI MANDIRI NUSANTARA SEJAHTERA (GEMA NUSA Foundation) - Jln Bhayangkara No 1 C Makassar, PIN BB 765CF628 Website : IZIN SK MENKUMHAM NOMOR : AHU-870.AH.01.04. Tahun 2014

2.         Yayasan Tarbiyatulhuda Kutakarya Jln.Kedungmundu Rt.11/03 Desa Kutakarya Kec.Kutawaluya-Karawang 41358

2.7       Perusahaan Asuransi

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis di mana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, di mana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut. [1]

1.         Kelebihannya:

a.         praktis

b.         all in one. Asuransi jiwa, kecelakaan, penyakit kritis + investasi reksa dana menjadi satu semua

c.         pembayaran mudah, bisa via kartu kredit

d.         memaksa orang untuk berinvestasi dan mendapat asuransi.

2.         Kekurangannya:

a.         Preminya akan lebih mahal dibandingkan membeli produk tersebut secara terpisah

b.         Manfaat yang diterima lebih kecil dari tahun pertama sampai tahun kelima, sebagian besar produk unitlink mengambil porsi premi asuransi, biaya, komisi agen. Sehingga porsi investasi baru mencapai 100 persen di tahun ke-6 (walaupun sekarang sudah banyak unitlink yang sudah mengubah konsep ini)

c.         Kita tidak memiliki informasi jenis investasi apa secara detail, dan tidak bisa memilih sendiri investasinya

d.         Nilai tunai yang terbentuk di tahun-tahun awal, sangatlah kecil, bahkan bisa lebih kecil daripada uang premi yg sudah disetorkan.

Contoh Perusahaan Asuranis yang Ada di Indonesia

1.         Profil Perusahaan PT. Asuransi Sinar Mas

PT. Asuransi Sinar Mas didirikan pada tanggal 27 Mei 1985 dengan nama PT. Asuransi Kerugian Sinar Mas Dipta. Kemudian di tahun 1991 berubah nama menjadi PT. Asuransi Sinar Mas.

PT. Asuransi Sinar Mas (ASM) merupakan salah satu perusahaan asuransi umum terbesar di Indonesia. Sepanjang perjalanannya, ASM menunjukkan pertumbuhan yang berkesinambungan. Premi bruto dan total asset Perusahaan secara konsisten meningkat dari tahun ke tahun, termasuk di tahun-tahun dimana terjadi goncangan ekonomi global.

Bisnis Utama

Sinar Mas Financial Services

Sinar Mas Pulp and Paper Products

Sinar Mas Agribusiness and food

Sinar Mas Developer and Real Estate

Bisnis Lainnya

Sinar Mas Energy and Mining

Sinar Mas Trading

Sinar Mas Telecommunication

2.8       Leasing (Sewa Guna)

Pengertian Leasing → Leasing (Sewa Guna) adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu.

1.         Keunggulan Menggunakan Leasing

a.         Pembiayaan Penuh

Transaksi leasing sering dilakukan tanpa perlu uang muka dan pembiayaannya dapat diberikan sampai dengan 100% (full pay out), hal ini akan membantu cash flow terutama bagi perusahaan (lessee) yang baru berdiri atau beroperasi dan perusahaan yang sedang berkembang.

b.         Lebih Fleksibel

Dipandang dari segi perjanjiannya, leasing lebih luwes karena leasing lebih mudah menyesuaikan keadaan keuangan lessee dibandingkan dengan perbankan

c.         Arus dana

Pesyaratan pembayaran dimuka yang relatif lebih kecil akan sangat berpengaruh pada arus dana.

d.         Proteksi inflasi

Leasing merupakan pelindung terhadap inflasi meskipun dalam beberapa keadaan sering dikatakan kurang relevan.

e.         Perlindungan akibat kemajuan teknologi

Dengan memanfaatkan leasing, lessee dapat terhindar dari kerugian akibat barang yang disewa tersebut mengalami ketinggalan model atau sistem disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi.

f.          Kemudahan penyusutan anggaran

Adanya pembayaran sewa guna usaha secara berkala yang jumlahnya relatif tetap akan merupakan kemudahan dalam penyusunan anggaran tahunan lessee.

2.         Kekurangan

a.         Hak kepemilikan barang hanya akan berpindah apabila kewajiba lease telah diselesaikan dan hak opsi digunakan.

b.         Seandainya terjadi pembatalan suatu perjanjian sewa guna usaha, maka kemungkinan biaya yang ditimbulkan cukup besar.

c.         Barang modal yang diperoleh oleh lease tidak dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh kredit.

d.         Resiko yang melekat pada peralatan atau barang modal itu sendiri. Kemungkinan adanya kenakalan penyewa guna usaha untuk melakukan jual atau sewa kepada pihak sewa guna usaha yang lain.

Contoh Perusahaan Leasing di Indonesia

Pembiayaan diatas 1 triliun                 pembiayaan dibawah 1 triliun

1.  Bca finance                                                1.  Ab sinarmas multifinance

2.  Clipan finance indonesia                2.  Kembang delapan delapan multi finance

3.  Summit oto finance                        3.  Batavi prosperindo finance

4.  Adira dinamika multifinance         4.  Smart multifinance

5.  Bumiputra bot finance                   5.  National finance

6.  Federal international finance         6. Beta inti multifinance

2.9       Waralaba

Pengertian Franchising (Pewaralabaan) adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang atau jasa . Secara sederhana, benang merah waralaba adalah penjualan paket usaha komprehensif dan siap pakai yang mencakup merek dagang, material dan pengolaan manajemen. Oleh karena itu, pihak-pihak yang terlibat dalam franchising. Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah: Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

1.         Kelebihan Waralaba

a.         Manajemen bisnis telah terbangun

Bisnis waralaba memberikan keuntungan untuk berbisnis di bawah bendera bisnis lain yang sudah memiliki reputasi yang bagus. Ide, penamaan dan manajemen suatu bisnis telah di uji coba sebelumnya dan siap untuk di implementasikan pada lokasi yang baru.

b.         Sudah dikenal masyarakat

Pemasaran bisnis waralaba cenderung lebih mudah, karena bisnis sebelumnya lebih terdahulu di kenal masyarakat. Dengan kata lain, biaya dan tenaga yang diperlukan untuk membangun reputasi bisnis tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dengan membangun bisnis baru.

c.         Manajemen finansial yang lebih mudah

Investor cenderung lebih suka untuk memberikan modal pada bisnis yang telah kokoh dari segi finansial dan jaringan pemasaran. Dengan menggunakan bisnis waralaba, sistem manajeman finansial telah di tetapkan oleh pemilik waralaba utama, sehingga kita tidak perlu dipusingkan lagi dengan manajemen finansial seperti membangun bisnis baru.

d.         Kerjasama bisnis telah terbangun

Orang yang membeli waralaba bisa mendapatkan keuntungan kerjasama yang telah terbangun sebelumnya oleh pemilik waralaba. Contohnya kerjasama dengan pemasok bahan baku, pihak periklanan dan juga pemasaran.

e.         Dukungan dan keamanan yang lebih kuat

2.         Kekurangan Bisnis Waralaba

a.         Kurang Kendali

Salah satu kekurangan dari bisnis waralaba adalah kurangnya kendali dari pembeli waralaba terhadap bisnisnya sendiri, karena semua sistem telah ditentukan oleh pemilik waralaba. Sehingga ruang gerak pembeli waralaba sangat terbatas. Ide-ide untuk berkreatifitas pun terkadang tidak bisa diaplikasikan, karena adanya perjanjian-perjanjian khusus.

b.         Sangat terikat dengan supplier

Untuk mendapatkan keuntungan yang mencukupi, tentunya setiap pengusaha menginginkan modal yang kecil. Salah satu caranya adalah mencari supplier yang murah. Dengan menggunakan sistem waralaba, pihak pemasok barang pun telah ditentukan. Sehingga kita tidak bisa memilih lagi supplier yang lebih murah.

c.         Ketergantungan pada reputasi waralaba lain

Salah satu kekurangan terbesar dari waralaba adalah tergantungnya reputasi waralaba terhadap waralaba yang lain. Jika waralaba yang lain melakukan kesalahan yang mengakibatkan rusaknya reputasi, maka hal ini juga akan mempengaruhi waralaba yang anda kelola.

d.         Biaya waralaba

Pihak pemilik waralaba akan mengajukan biaya awal untuk membeli perjanjian waralaba. Kemudian biaya lanjutan untuk pelatihan dan dukungan bagi para pembeli waralaba.

e.         Pemotongan keuntungan

Pembeli waralaba di haruskan untuk membayar royalti dari sejumlah keuntungan yang didapatkan. Jika keuntungan yang didapatkan sedikit, berarti keuntungan tersebut akan dipotong untuk menutupi biaya ini.

Contoh perusahaan wara laba di Indonesia

1. Nama waralaba : Aladine Kebab

-           Franchisor : Aladine Kebab

-           Bidang usaha : Garai Kebab

-           Keunikan : Garai Kebab cepat saji dan bergizi, dengan isi daging sapi panggang khas timur tengah.

-           Berdiri : -

-           Waralaba Fee: sistem paket investasi

-           Total modal awal : Rp 21 juta dan Rp 50 juta

-           Perkiraan BEP : -

-           Alamat : Jalan Bungur Raya no 88 Kebayoran Lama, Jakarta 12240 . Telp: 021-68708847 / 0856-91623714 . Fax: 021-7397104

2. Nama waralaba: Andrew Crepes

-           Franchisor : Andrew Crepes

-           Bidang usaha : Garai crepes

-           Keunikan : Crepesnya lebih crispy, bahan-bahannya dari villa.

-           Berdiri : 1999

-           Mulai waralaba : 2006

-           waralaba fee : Sistempaket investasi

-           Total modal awal : Rp 39 juta (belum termasuk sewa tempat)

-           Alamat : Jl Gunung Sahari 3 no 1 B, Jakarta. Telp: 021-4200952



BAB III

KESIMPULAN

Bentuk-bentuk perusahaaan ada beberapa jenis antara lain;

1.         Joint Venture

2.         Trust / Marger

3.         Holding Company

4.         Sindikat

5.         Kartel

6.         Yayasan

7.         Perusahaan Asuransi

8.         Leasing

9.         Waralaba

Tiap-tiap bentuk-bentuk perusahaan tersebut memiliki kekurangan, kelebihan dan contohnya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

•           http://bintankkuleo.wordpress.com/2013/11/22/ciri-ciri-keuntungan-dan-kerugian-bentuk-kerjasama-bisnis/

•           http://qeyty.blogspot.com/2008/10/bab-iii-bentuk-bentuk-badan-usaha.html

•           http://rismaeka.wordpress.com/2010/10/09/bentuk-bentuk-badan-usaha/

•           http://fachrurrozyezy740.blogspot.com/2010/10/bentuk-bentuk-badan-usaha.html

•           https://aristasefree.wordpress.com/tag/manfaat-joint-venture/

•           http://perusahaanasruansiindonesia.blogspot.com/2013/05/profil-perusahaan-pt-asuransi-sinar-mas.html

•           http://dahlanforum.wordpress.com/2009/04/24/leasing-sewa-guna-usaha-pengertian/

•           http://ismimiitsme.blogspot.com/2014/01/pengertian-keunggulan-dan-kelemahan.html

•           http://www.danatunai.org/p/info-kredit-pt-asia-multi-dana-finance.html

•           http://pengusahamuslim.com/keuntungan-dan-kekurangan-1728/

Untuk Artikel Terkait Anda Bisa Klik Link dibawah ini :

makalah-bentuk-bentuk-perusahaan-bagian-awal

Makalah Kewirausahaan | Ciri-Ciri dan Karakteristik Kewirausahaan | Peran Kewirausahaan dalam Perekonomian Nasional..!!


C. Ciri-Ciri dan Karakteristik Kewirausahaan
 Ciri-ciri seorang wirausahaan adalah:
  • Percaya diri
  • Berorientasikan tugas dan hasil
  • Pengambil risiko
  • Kepemimpinan
  • Keorisinilan
  • Berorientasi ke masa depan
  • Jujur dan tekun
Menurut Munawir Yusuf (1999)
Ciri kewirausahaan yaitu:
  1. Motivasi berprestasi
  2. Kemandirian
  3. Kreativitas
  4. Pengambilan resiko (sedang)
  5. Keuletan
  6. Orientasi masa depan
  7. Komunikatif dan reflektif
  8. Kepemimpinan
  9. Locus of Contro
  10. Perilaku instrumental
  11. Penghargaan terhadap uang.
Ciri dan Kemampuan Wirausahaan Tangguh:
  • Berpikir dan bertindak strategik, adaptif terhadap perubahan dalam berusaha mencari peluang keuntungan termasuk yang mengandung resiko agak besar dan dalam mengatasi masalah.
  • Selalu berusaha untuk mendapat keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan langganan.
  • Berusaha mengenal dan mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan (dan pengusahanya) serta meningkatkan kemampuan dengan sistem pengendalian intern.
  • Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan terutama dengan pembinaan motivasi dan semangat kerja serta pemupukan permodalan.
Ciri-ciri seorang wirausahaan adalah:
  • Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
  • Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik ddan memiliki inisiatif.
  • Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
  • Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
  • Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
  • Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
  • Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.
Pendapat lain M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993; 6-7 ) mengemungkakan delapan karakteristik yang meliputi :
  • Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
  • Lebih memilih risiko yang moderat.
  • Percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil
  • Selalu menghendaki umpan balik yang segera
  • Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan
  • Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik .
  • Memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah
  • Selalu menilai prestasi dengan uang.
D. Peran Kewirausahaan dalam Perekonomian Nasional
Seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja.Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.
Menurunnya tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional.Selain itu, berdampak pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh karena tingginya pengangguran.
Seorang wirausaha memiliki peran sangat besar dalam melakukan wirausaha. Peran wirausaha dalam perekonomian suatu negara adalah:
Menciptakan lapangan kerja
Mengurangi pengangguran
Meningkatkan pendapatan masyarakat
Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
Meningkatkan produktivitas nasiona
                                                                      KESIMPULAN
1. Pengertian Kewirausahaan
kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi. Kewirausahaan adalah suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan.Atau dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai terhadap tugas dan tanggungjawabnya.
2. Hakekat KewirausahaanDari beberapa konsep yang ada ada 6 hakekat penting kewirausahaan sebagai berikut ( Suryana,2003 : 13), yaitu : nilai, kemampuan, proses penerapan kreativitas dan inovasi, usaha, sesuatu yang baru, dan nilai tambah
3. Ciri-Ciri dan Karakteristik Kewirausahaan
Terdapat beberapa ciri – ciri dan karakteristik kewirausahaan. Ciri-ciri seorang wirausahaan adalah:
  • Percaya diri
  • Berorientasikan tugas dan hasil
  • Pengambil risiko
  • Kepemimpinan
  • Keorisinilan
  • Berorientasi ke masa depan
  • Jujur dan tekun
Karakteristik kewirausahaan yaitu :
  • tanggung jawab
  • resiko
  • Percaya
  • umpan balik
  • prioritas ke masa depan
  • semangat kerja
  • prestasi
  • ketrampilan.
4. Peran Kewirausahaan dalam Perekonomian Nasional
Ø Menciptakan lapangan kerja
Ø Mengurangi pengangguran
Ø Meningkatkan pendapatan masyarakat
Ø Mengombinasikan faktor–faktor produksi
Ø Meningkatkan produktivitas nasiona
Alhamdulilah berkat kesempatan yang diberikan Allah SWT makalah ini dapat terselesaikan sesuai waktunya. Demikian yang dapat saya sampaikan dan tulisan dalam makalah ini , jika ada kekurangan maka saya selaku penulis memohon maaf yang sebesar besarnya serta besar harapan kami saya mendapatkan saran-saran yang bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
  • “Anonim”. 2012. Pengertian Kewirausahaan. diambil dari http:// www.bisnis-pengertianKewirausahaan.com. Pada tanggal 25 November 2013.  
  • “Anonim”. 2009. Karakteristik Kewirausahaan. diambil dari http://karakteristik-wirausahaan.com. Pada tanggal 25 November 2013.
  • “Anonim”. 2009. Kewirausahaan.diambil dari http://kewirausahaan-kang_amin.com. Pada tangaal 25 November 2013. 
  • “Anonim”.2012.Kewirausahaan.diambil dari http://wikipedia.com. Pada tanggal 25 November 2013.
  • “Anonim”. 2009. Ciri-ciri Kewirausahaan Unggul/Berhasil. diambil dari http://ciri-cirikewirausahaanunggul_berhasil.com. Pada tanggal 25 November 2013. 
Artikel Pembahasan Terkait :
Makalah Kewirausahaan | Pendahuluan | Pengertian Kewirausahaan | Hakekat Kewirausahaan

Pengunjung