Contoh Bacaan dan Tulisan Ayat Kursi Arab dan Latin Beserta Arti dan Terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris

Sahabat Adin Blog yang saya hormati, dihari yang Fitri ini setelah kita melewati suatu bulan yang penuh pengampunan, keberkahan, proyek amal dan ilmu, juga pendidikan yang mengajarkan kepada kita menjadi perasa peka terhadap saudara kita yang selalu lapar dan dahaga, mengajarkan keshabaran, mendidik menjadi tawadhu (rendah diri rendah hati tidak takabur), qona'ah (merasa cukup dan selalu mensyukuri nikmat dari Allah baik kecil maupun yang besar banyak ataupun sedikit) dan wara' (selalu hati-hati supaya  terpelihara dari makanan/barang yang subhat (barang yang 75%halal 25% haram seperti barang temuan) ataupun haram) serta yakin bahwa kita memang selalu di perhatikan oleh Dzat yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, sehingga kita sekarang menjadi manusia yang meraih kemenangan dan suci ini (Tahun 1436 Hijriyah) ini penulis mengucapkan 'Taqobbalallahu Minna Waminkum". Amin
Selanjutnya, kali ini penulis akan memberikan sesuatu yang bermanfaat buat kalian semua, yaitu sebuah Posting Religi dan Islami yaitu mengenai Bacaan dan Tulisan Ayat Kursi Arab dan Latin Berserta Arti dan Terjemahnya.
Ayat Kursi berbeda dengan Hadits Qudsi. Kalau Hadits Qudsi adalah Sebagian Firman Allah yang tidak dicatat di dalam Mushaf Al-Quran tetapi dicatatnya di dalam Hadits contohnya ya bila kita menemukan "qola allahu ta'ala" di dalam hadits maka itulah biasa disebut dengan Hadits Qudsi, sedangkan Ayat Kursi adalah Firman Allah SWT yang dicatatat atau dicantumkan di dalam Al-Quran Juz ke 2 yaitu di dalam Surat Al-Baqarah ayat ke 255, maka ayat kursi termasuk kedalam surat makiyah yaitu ayat Al-Quran yang diturunkan di Kota Makkah. Adapaun mengenai penjelasan surat Makiyah dan surat Madaniyah nanti akan saya bahas di postingan yang lain.
AYAT KURSI memiliki kedudukan khusus dalam Al-Qur'an. Bahkan Rasulullah saw. sendiri menyebutnya sebagai "ayat paling agung dalam Al-Qur'an."
Kenapa ayat ke-255 surat al-Baqarah ini begitu mulia kedudukannya? Apa makna dan kandungan ayat Kursi ini? Mufasir besar Ibnu Katsir menjelaskan secara panjang lebar dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qur'anul Al-Adim, atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibnu Katsir.
Ibnu Katsir tak hanya menjelaskan makna ayat ini yang begitu kental dengan aspek ketauhidan, tapi juga tentang manfaat besar yang diperoleh oleh muslim yang membacanya.
Untuk lebih menyempurnakannya lagi biar anda semuah tertarik penulis sediakan pula murotal dari ayat kursi ini. Nah untuk penampakkan yang sesusungguhnya dalam artikel ini, mari kita simak pembahasan tuntasnya dibawah ini :
Contoh Bacaan dan Tulisan Ayat Kursi dalam Bahasa Arab
“Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk).”
“Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur.”
“Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.”
“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.”
“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.”
“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang dikehendaki-Nya.”
“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”
“Dan Allah tidak terberati pemeliharaan keduanya.”
“Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Allah! There is no god but He - the Living, The Self-subsisting, Eternal. No slumber can seize Him Nor Sleep. His are all things In the heavens and on earth. Who is there can intercede In His presence except As he permitteth? He knoweth what (appeareth to His creatures As) Before or After or Behind them. Nor shall they compass Aught of his knowledge Except as He willeth. His throne doth extend Over the heavens And on earth, and He feeleth No fatigue in guarding And preserving them, For He is the Most High. The Supreme (in glory). (Al-Baqarah 2: 255)

Allahu la ilaha illa huwa Al -Haiyul-Qaiyum
La ta'khudhuhu sinatun wa la nawm
lahu ma fi as-samawati wa ma fil-'ard
Man dhal-ladhi yashfa'u 'indahu illa bi-idhnihi
Ya'lamu ma bayna aydihim wa ma khalfahum
wa la yuhituna bi shai'in min 'ilmihi illa bima sha'a
Wasi'a kursiyuhus-samawati wal ard
wa la ya'uduhu hifdhuhuma
wa Hu wal 'Aliyul-Adheem

Demikianlah salah satu Contoh Bacaan dan Tulisan Ayat Kursi Arab dan Latin Beserta Arti dan Terjemahan dalam Bahasa Inggris semoga bermanfaat khususnya buat penulis dan umumnya buat semua yang membacanya.

Aksi Bela Islam 212 Monas Jakarta

Aksi Bela Islam 212 Monas Jakarta. Ormas atau Partai Manapun Tidak Ada Yang Pernah Mengundang Masa Sebanyak Ini. "Hanya banjir Jakarta yg sepadan dengan massa #AksiDamai212 kemaren. Allahu Akbar !!!" 
(dikutip dari sebuah status di Twitter)






Memang benar hanya Allah SWT lah yang bisa mengumpulkan umat Islam sebanyak ini di Monas Jakarta pada waktu itu, Ratusan hingga Jutaan kaum muslimin datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru pelosok Indonesia menuju ke Jakarta ingin menuntut keadilan dengan cara Aksi dan Doa bersama sekaligus melaksanakan Sholat Jumat, dan yang membuat Kaum Muslimin yang terlibat punya keinginan itu adalah karena Al-Maidzah 51 yaitu Kitab Allah SWT, Al-Quran nul Karim

Lepas ashar, Rizieq Shihab dari mobil mimbarnya, di Bundaran HI, menutup rangkaian aksi 212. Mempersilakan para pengunjuk rasa untuk pulang, memberi tahu bahwa ada 100 bis untuk mereka di Parkir Timur Senayan. Dan meminta kerumunan masa di depan mobilnya untuk membuka jalan.
Pusat kota Jakarta, khususnya Bundaran HI yang semula dijejali para pengunjuk rasa, kini lengang.
Dan selesailah 212, dengan sejumlah pertanyaan.

Apakah sesudah ini masih akan ada Aksi jilid empat jilid lima dan seterusnya -sampai kapan? Apa arti kehadiran Presiden dalam salat Jumat bersama massa, yang khutbahnya diberikan Rizieq Shihab?

Apakah Rizieq Shihab dan FPI telah menjadi kekuatan baru dalam peta Islam Indonesia?
Dan sekianlah liputan langsung kami dari aksi 212 ini. Kami pamit dan sampai jumpa dalam liputan langsung berikutnya.

PERSPEKTIF HUBUNGAN NEGARA DAN AGAMA

PERSPEKTIF HUBUNGAN NEGARA DAN AGAMA. Lembaga kepala negara dan pemerintahan diadakan sebagai pengganti fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia. Pengangkatan kepala Negara untuk memimpin umat Islam adalah wajib menurut ijma`.
[Imam Al-Mawardi, Ahkaamus-Sulthaniyyah wal-Wilaayaatud-Diiniyyah]
Negara menurut KBBI adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Mengadakan suatu Negara atau mengangkat pemerintahan wajib hukumnya berdasarkan akal dan syariat. Meskipun manusia berbeda pendapat tentang dasar kewajiban mengangkat pemerintahan dan mengadakan suatu Negara. Mereka yang mendasarkan pada akal berpendapat bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menyerahkan kepemimpinan kepada seseorang yang dapat menghalangi kedzaliman dan menuntaskan perselisihan serta permusuhan di antara mereka. Sementara mereka yang mendasarkan kepada syariat menegaskan bahwa pemerintah memiliki tugas-tugas agama dan didorong oleh syariat untuk menegakkannya. Boleh jadi tugas-tugas ini ditentang atau tidak didorong oleh akal — yang seringkali absurd dalam mendefinisikan keadilan dan kebenaran. Allah SWT mewajibkan kita untuk taat kepada ulil amri kita (Lihat, an-Nisaa`: 59).

Dalam perspektif Islam kedudukan dan perilaku setiap orang senantiasa ditimbang dan terikat oleh syariat. Ketaatan terhadap ulil amri (pengusa) yang berlaku dzalim bukan berarti menerima kedzalimannya. Sebelum itu, jika kita mengangkat seseorang sementara ada orang selain dia yang Allah lebih ridho kepadanya, kita dianggap telah mengkhianati Allah, Rasul dan Kaum Muslimin. Bahkan pada keadaan tertentu kita wajib mengganti atau memerangi penguasa. Semuanya memiliki timbangan yang jelas dalam kaidah-kaidah ilmu fiqh. Ketaatan kepada ulil amri merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah SWT. Sebab ketaatan adalah bagian dari agama (al-diin) dan ibadah. Bahkan persoalan ketaatan ini termasuk dalam perkara, yang oleh para Ulama masa kini (mu`ashir) disebut dengan tawhid al-hakimiyyah (salahsatu cabang tawhid uluhiyyah- ubudiyyah).

Banyak sekali dalil dalam fiqh Islam yang mengafirmasi ketaatan kita kepada ulil amri.  Bahkan kewajiban ini tetap berlaku meskipun ulil amri melakukan kedzaliman kepada kita. Mutlaknya ketaatan kepada pemerintah dan absolutnya kekuasaan mereka terhadap rakyat bukan berarti sistem kenegaraan dan pemerintahan kita bersifat despotik, dan tidak demokratis.

Negara dan Agama
Hubungan antara agama dan negara seringkali menimbulkan pro-kontra. Kalangan Islamis tentunya akan selalu mendasarkan setiap persoalan -termasuk negara pada- pijakan agama. Sementara kalangan Sekularis walau bagaimanapun tidak bisa membuang agama dalam kehidupannya. Bahkan, betapa pun sempitnya ruang untuk agama yang diberikan oleh kalangan Sekularis, undang-undang (wadl`iyyah) tetap membutuhkan agama dan ketuhanan untuk mengambil kesaksian atau sumpah jabatan kepala negaranya. Hal ini menunjukan bahwa manusia tidak bisa meninggalkan ghorizah tadayun (hasrat glorifikasi) terhadap Tuhan dan agama.
Dalam perspektif Islam, posisi agama terhadap keberadaan negara adalah mabda` (dasar/ ideology) dan ma`ad (tujuan/ vision) secara sekaligus. Negara diadakan karena keimanan kepada Allah SWT dan kepatuhan kita terhadap Undang-undang-Nya. Demikian pula Negara diselenggarakan untuk mencapai mendapatkan pahala (ajr-l hasanah) dan keridhoan Allah SWT. Istilah hadith untuk keadaan ini biasa disebut ‘imanan wa-htisaban’. Sementara itu, menurut ush-l fiqh negara diadakan sebagai wasilah (sarana) atas dasar kaidah “maa layatimul wajib illa bihi fahuwal wajib”. Oleh karena itu, pengadaan dan penyelenggaraan suatu Negara menuntut 2 hal: al-ikhlas lil-Llahi ta`ala dan al-ittiba` lis-sunnatin-nabi.
Abu Hamid Al-Ghazali dalam Al-Iqtishad fil I`tiqad menyimpulkan bahwa lembaga agama (nidzam al-diin) tidak akan baik kecuali dengan lembaga dunia/ negara (nidzam al-dunya). Bahkan beliau menjadikan nidzamu al-dunya sebagai syarat (shartun) kepada nizdami al-diin. Betapa erat dan terkaitnya hubungan diantara agama dan negara.
Madinah: Tegaknya Agama
Ketika sampai pada diskursus “negara dalam perspektif islam” kaum muslimn terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah yang mewajibkan berdirinya Negara Islam. Sedangkan kelompok kedua menganggap tidak ada kewajiban mendirikan Negara Islam. Kedua kelompok tersebut merujuk pada Sirah Nabawiyah yang sama dan mereka semua meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah melakukan hijrah dari Mekkah ke Yastrib. Kemudian sejarah telah mencacat perubahan nama Yastrib menjadi Madinah. Pada perspekif Sirah Nabawiyah inilah perdebatan muncul.
Perdebatan yang sering muncul adalah masalah penerjemahan istilah Madinah secara kontekstual dan politis. Kelompok pertama menyatakan bahwa apa yang disebut sebagai Madinah adalah sebuah ‘negara modern’ dalam pengertian kekuasaan konstitusional. Sementara kelompok kedua mengusung istilah ‘masyarakat madani’ dan mengasimilasikannya dengan konsep ‘civil society’. Tulisan ini tidak bermaksud menjelaskan secara rinci perdebatan tersebut. Melanjutkan pembahasan diatas tentang hubungan antara Negara dan Agama, cukuplah kita berpegang pada kesepakatan istilah ‘Madinah’ (tanpa penambahan istilah negara atau masyarakat) dan berupaya memahaminya.
Manusia telah sepakat bahwa Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya telah melakukan hijrah dari negeri tempat asal mereka. Mereka mencari sebuat tempat baru bukan untuk mencari lapangan kerja atau mengundi nasib. Bukan pulsa hijrah mereka itu karena takut atau diusir. Akan tetapi motivasi pertama dan utama mereka adalah iqamatud-diin (menegakkan agama). Dalam sebuah hadith disebutkan: “Aku bermimpi bahwasanya aku berhijrah dari Mekkah ke suatu tempat/ negeri yang banyak ditumbuhi kurma, maka dugaanku tertuju kepada Yamamah atau Hajar, ternyata negeri itu adalah Yastrib.” [R.Bukhari&Muslim]
Dalam konteks hijrah, Yastrib adalah mahjar (tempat tujuan hijrah), sedangkan tujuan hijrah mereka menuju mahjar adalah untuk iqamatud-diin. Oleh karena itu menjadi tepatlah ketetapan Nabi Muhammad SAW untuk menamakan mahjar mereka sebagai Al-Madinah. Lalu apa makna nama Madinah dan ketetapan Nabi Muhammad SAW untuk mengganti nama Yastrib dengannya?
Jika dikatakan bahwa Madinah bermakna kota, tentunya Mekkah pun adalah kota Nabi. Jika dikatakan bahwa Madinah itu negara atau masyarakat, apakah Mekkah bukan? Tentunya perkataan tersebut menjadi kurang tepat dan tidak bermanfaat karena hanya menggunakan tinjauan sosiologis-geografis. Padahal penggunaan nama/istilah Madinah bukanlah penamaan yang bersifat sosiologis atau geografis. Nama tersebut ditetapkan oleh Nabi Muhammad berdasarkan wahyu iLaahi yang artinya “ism al-makan”. Mengingat Dan tentu saja makna lengkap dari Madinah adalah nama suatu tempat diterapkan dan disempurnakannya al-diin.
Kesimpulannya, ketika agama (diin) diterapkan secara sempurna di suatu tempat atau wilayah maka tempat tersebut adalah negaranya (madinah). Mafhum mukhalafah-nya, negara adalah sebutan atau lambang dari kesempuraan penerapannya suatu agama. Jika ini persoalan mabda` dan ma`ad, agama apakah yang diterapkan oleh Madinah Indonesia? Waallahu a`lam!

Wajah Barat | Sebenarnya Siapa Yang Paling Pantas Menilai Suatu Negara Itu Maju dan Berkembang ?

Wajah Barat. Jika umat Islam ingin maju seperti Barat, maka ia akan menjadi seperti Barat dan bukan seperti Islam
Suatu hari David Thomas, Pendeta dan Professor teologi di Selly Oak College, Universitas Birmingham, Inggris ditanya seorang mahasiswanya yang Muslim.
“Are you happy with the Western civilization?” “No, not at all” jawabnya tegas.
“Why?” tanyanya. Sebab, paparnya, Barat dan orang-orang Barat maju dan berkembang bukan karena Kristen.
Bos pabrik cokelat Cadbury, katanya mencontohkan, menyumbang dana jutaan Poundsterling untuk membangun perpustakaan Selly Oak bukan karena ia seorang Kristen, tapi karena ia kaya dan punya dana sosial lebih.

Jawaban Thomas mengungkap fakta sejarah. Barat bukan Kristen. Sejarawan Barat seperti Onians, R.B, Arthur, W.H.A, Jones, W.T.C, atau William McNeill, umumnya menganggap “Ionia is the cradle of Western civilization” dan Bukan Kristen. Agama Kristen malahan telah ter-Baratkan. Thomas sepertinya ingin mengatakan bahwa Barat tidak lahir dari pandangan hidup Kristen.
Sosoknya mulai nampak ketika marah dan protes terhadap otoritas gereja. Agama dipaksa duduk manis di ruang gereja dan tidak boleh ikut campur dalam ruang publik. Diskursus teologi hanya boleh dilakukan dengan bisik-bisik. Tapi orang boleh teriak anti agama. Hegemoni diganti dengan hegemoni. Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.
Teriakan Nietzsche “God is dead” masih terdengar hingga saat ini. Dalam The Gay Science ia mengatakan, “ketika kami mendengar “tuhan yang tua itu mati” kami para filosof dan “jiwa-jiwa yang bebas” merasa seakan-akan fajar telah menyingsing menyinari kita”.
Kematian tuhan di Barat ditandai oleh penutupan diskursus metafisika tempat teologi bersemayam. Tuhan bukan lagi supreme being (Maha Kuasa). Tidak ada lagi yang absolute. Semua relatif. Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar maka orang lain berhak menghakimi itu salah. Tuhan tidak lagi bisa diwakili. Ia telah mati. Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.

Mengapa tuhan perlu dibunuh? Kalau Marx menganggap agama sebagai candu masyarakat, Nietzsche menganggap tuhan sebagai tirani jiwa (tyrant of the soul). Beriman pada tuhan tidak bebas dan bebas berarti tanpa iman. Sebab beriman berarti sanggup menerima perintah, larangan atau peraturan yang mengikat. Barat adalah alam pikiran pandangan hidup.
Sejarah Barat adalah sejarah pencarian “kebenaran”. Tapi mencari kebenaran di Barat lebih penting dari kebenaran itu sendiri. Mencari untuk mencari, ilmu untuk ilmu, seni untuk seni. Sesudah “membunuh tuhan” Barat mengangkat tuhan baru yakni logocentrisme atau rasionalisme. Tidak puas dengan tuhan baru mereka mengangkat liberalisme. Namun kini liberalisme seperti moncong bedil. Pandangan-pandangan yang tidak “setuju” harus keluar atau berhadapan. “You are with us or against us”.
Liberalisme membawa gagasan kepelbagaian (multiplicities), kesamarataan, (equal representation) dan keraguan yang menyeluruh (total doubt). Barat kini adalah sosok yang tanpa wajah. Atau seperti kata Ziauddin Sardar wajah yang tanpa kebenaran (no truth), tanpa realitas (no reality), tanpa makna (no meaning). There is no comfort in the truth. Setting alam pikiran Barat ini dihukumi Francis Fukuyama sebagai akhir dari sejarah (the end of History).
Diskursus tentang God-man & God-world relation di abad pertengahan kini sudah tidak relevan. Humanisme telah mendominasi dan menyingkirkan theisme. Akibatnya, teologi tanpa metafisika, agama tanpa spiritualitas atau bahkan religion without god. Teologi (theos dan logos) secara etimologis tidak lagi memiliki akar ketuhanan. Istilah teologi pembebasan, teologi emansipasi, teologi menstruasi dsb. tidak lagi berurusan dengan Tuhan. Agama bagi postmodernisme tidak lebih dari sebuah narasi besar (grand narrative) yang dapat diotak-atik oleh permainan bahasa. Makna realitas tergantung kepada kekuatan dan kreatifitas imaginasi dan fantasi. Feeling is everything kata Goethe.
Kebenaran itu relatif dan menjadi hak dan milik semua. Kebenaran adalah illusi verbal yang diteima masyarakat atau tidak beda dari kebobongan yang disepakati. Etika harus di globalkan agar tidak ada orang yang merasa paling baik. Baik buruk tidak perlu berasal dari apa kata Tuhan, akal manusia boleh menentukan sendiri.
Barat adalah alam pikiran pandangan hidup. Seperti juga Barat, Kristen, Islam, Hindu, bahkan Jawa adalah sama-sama pandangan hidup. Meski sama namun kesamaan hanya pada tingkat genus, bukan species. Masing-masing memiliki karakter dan elemennya sendiri-sendiri. Jika elemen-elemen suatu pandangan hidup dimasuki oleh elemen pandangan hidup lain, maka akan terjadi con-fusion alias kebingungan. Margaret Marcus (Maryam Jameelah), malah mengingatkan jika pandangan hidup Barat menelusup kedalam sistim kepercayaan Islam, tidak lagi ada sesuatu yang orisinal yang akan tersisa. Benar, ketika elemen-elemen Barat yang anti Kristen dipinjam anak-anak muda Muslim, maka mulut yang membaca syahadat itu akan mengeluarkan pikiran atheis. Tuhan yang Maha Kuasa, bisa menjadi “tuhan yang maha lemah”, Al-Quran yang suci dan sakral tidak beda dari karya William Shakespear, karena ia sama-sama keluar dari mulut manusia.
Jika ummat Islam ingin maju seperti Barat maka ia akan menjadi seperti Barat dan bukan seperti Islam. Dan suatu hari nanti akan ingat keluhan David Thomas atau tangisan Tertulian yang sudah lapuk “Apalah artinya Athena tanpa Jerussalem”.

Sunda dan Islam

Sunda dan Islam

Oleh, Tiar Anwar Bachtiar
(Ketua Umum PP Pemuda Persatuan Islam)

Tatar Sunda adalah wilayah tempat bermukimnya suku Sunda. Tatar Sunda umumnya disamakan dengan daerah Jawa Barat. Sebelum daerah Jawa bagian barat terpecah menjadi provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat seluruh wilayah ini dianggap sebagai bagian dari etnik Sunda. Oleh sebab itu, ketika membicarakan sejarah Sunda, selalu saja Cirebon, Banten, dan Jakarta menjadi wilayah yang dianggap menjadi bagian dari Sunda.
Akan tetapi, kini Jakarta diklaim sebagai tempat bermukim etnik khusus bernama “Betawi”, dan orang-orang Banten menganggap mereka bukan Sunda, melainkan “Banten”. Sebentar lagi, Cirebon ingin berpisah dari Jawa Barat karena mereka merasa bukan “Sunda”. Mereka adalah etnik tersendiri.
Sesungguhnya, kalau yang dilihat adalah perbedaan-perbedaan, tentu akan semakin banyak wilayah yang ingin membentuk provinsi sendiri karena alasan etnisitas seperti kasus Banten dan Cirebon. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa sungguh-sungguh Banten, Cirebon, dan Betawi benar-benar bukan bagian dari “Tatar Sunda”, karena pada kenyataannya, pada wilayah-wilayah itulah populasi masyarakat Sunda tersebar. Oleh sebab itu, bila berbicara “Tatar Sunda” dalam sejarah, tentu wilayah-wilayah itu tetap merupakan bagian di dalamnya.
Sama seperti etnis Jawa yang umumnya berdiam di wilayah Jawa bagian tengah dan timur, etnis Sunda pun mengalami proses sejarah yang panjang yang umumnya tidak terlampau berbeda dengan yang dialami oleh etnis Jawa. Salah satu fase sejarah yang paling penting adalah proses Islamisasi. Proses ini, sampai saat ini merupakan proses yang memberikan kesan paling penting dam mendalam bagi masyarakat Sunda. Paling tidak, secara nominal, mayoritas suku Sunda menganut Islam. Islam bahkan hampir menjadi bagian dari identitas kesundaan. Dengan kata lain, kalau tidak Islam, agak aneh bahwa dia adalah orang Sunda, sekalipun pada kenyataannya ada saja orang Sunda yang tidak Islam.
Membicarakan Sunda dengan Islam tentu menjadi semakin menarik apabila pendekatan yang dipakai adalah kebudayaan. Islam sebagai agama yang berwatak membentuk peradaban, tantu yang akan paling terlihat dampaknya dari keberadaan Islam adalah basis dari peradaban itu sendiri, yaitu kebudayaan. Sejarah proses Islamisasi menjadi semakin dapat dimengerti dengan baik apabila yang dipertimbangkan adalah faktor kebudayaan ini. Tulisan berikut ini akan secara singkat memotret hubungan Islam dan Sunda dari sudut pandang sejarah dan kebudayaan.
Islam dan Falsafah Hidup Urang Sunda
Untuk memahami bagaimana intensifnya hubungan Islam dan Sunda pada masa kini, akan amat penting apabila kita menggali bagaimana falsafah yang dianut masyarakat Sunda kiwari. Apabila falsafah hidup yang dianut ternyata mendapat pengaruh kuat dari Islam, maka hampir dapat dipastikan bahwa Islam telah meresap menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat Sunda. Inilah yang akan digali pertama pada tulisan ini.
Menggali falsafah hidup tentu saja harus diambil dari keseharian kehidupan masyarakat Sunda. Jejak-jejak budaya yang hidup sehari-hari-lah yang akan memberikan banyak informasi mengenai bagaimana urang Sunda mendefinisikan kehidupannya dan bagaimana mereka harus menjalaninya. Salah satu jejak budaya yang cukup representatif untuk menggambarkan mengenai falsafah hidup yang dianut urang Sunda adalah warisan peribahasa dan pepatah yang hidup di tengah masyarakat. Dalam bahasa Sunda yang demikian disebut paribasa dan babasan.
Di balik peribahasa dan pepatah itu tentu tersimpan suatu pandangan hidup tertentu (worldview). Pandangan hidup inilah yang menjadi kerangka dasar masyarakat yang bersangkutan melihat dan menafsirkan berbagai realitas yang dihadapinya. Di sini pula dengan segera akan ditemukan sejauh mana Islam berpengaruh membentuk pandangan hidup masyarakat Sunda.
Berkait dengan peribahasa, ada dua buku penting yang dapat dijadikan rujukan, yaitu buku Mas Natawisastra berjudul Saratus Paribasa jeung Babasan (cet. I thn. 1914; cet. II 1978) terdiri atas lima jilid. Buku lainnya ditulis Samsoedi Babasan jeung Paribasa Sunda yang terbit tahun 1950-an. Dalam kedua buku tersebut termuat lebih dari 500 peribahasa Sunda. Seluruhnya mewakili apa yang berkembang di tengah masyarakat Sunda.
Menurut Ajip Rosjidi, dari lebih 500 peribahasa, yang secara langsung kosakatanya meminjam peristilahan Islam hanya ada sekitar 16 peribahasa. Sisanya tidak meminjam peristilahan khusus Islam. Di antara babasan yang ada kaitan langsung dengan Islam antara lain: Kokoro manggih Mulud, puasa manggih Lebaran (Orang melarat bertemu perayaan Maulid Nabi, yang berpuasa bertemu dengan Lebaran), Jauh ke bedug (Jauh ke suara bedug di mesjid), dan sebagainya.[1] Sementara peribahasa lain umumnya menggunakan peristilahan yang umum dalam masyarakat Sunda dan tidak kaitannya secara langsung dengan Islam contohnya antara lain: cul dog-dog tinggal igel (menari tanpa diiringi lagi musik pengiring), kandel kulit beungeut (tebal kulit muka), dan sebagainya.
Berdasarkan bacaan Rosjidi, sekalipun peribahasa dan pepatah yang dibuat tidak secara langsung menyerap istilah yang ada kaitan dengan kebudayaan Islam seperti tajug (mesjid), mulud (perayaan Maulid Nabi), lebaran, puasa, dan semisalnya bukan berarti makna yang terkandung di dalamnya juga tidak ada kaitan dengan Islam. Justru setelah keseluruhan pepatah dibaca dan beberapa sampel pepatah dicontohkan, Rosjidi menyimpulkan:
Dengan demikian walaupun jumlah peribahasa yang tampak Islami tidak banyak, namun kalau diteliti lebih lanjut, kebanyakan peribahasa Sunda ternyata mengandung nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, pendapat yang pernah dikemukakan oleh almarhum H. Endang Saifudin Anshari, MA bahwa “Islam teh Sunda, Sunda teh Islam” tidaklah bertentangan dengan hasil pengamatan terhadap peribahasa Sunda.[2]

Dalam kesimpulannya Rosjidi setuju dengan pendapat Endang Saefudin Anshary bahwa sesungguhnya antara Islam dengan Sunda tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan yang hidup di tengah masyaraqkat Sunda adalah kebudayaan yang telah mendapat sentuhan Islam sangat kuat hingga ajaran-ajaran Islam, sekalipun tidak harus dieksplisitkan ayat dan hadisnya, telah membentuk pandangan hidup masyarakat Sunda. Tentu saja Sunda yang dimaksud adalah kebudayaan Sunda kontemporer yang telah mengalami Islamisasi amat intensif.
Sebagai contoh, ada peribahasa dalam bahasa Sunda mun teu ngarah moal ngarih, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngoprek moal nyapek (kalau tidak berusaha takkan mungkin mengangi nasi, kalau tidak menggunakan akal tak nanti menanak nasi, kalau tidak bekerja tidak akan mungkin bisa makan). Perihabasa ini mencerminkan bagaimana orang Sunda mengajarkan bahwa hidup harus dihadapi dengan usaha dan ikhtiar, tidak boleh berpangku tangan. Sekalipun kata-kata yang digunakan tidak menggunakan istilah Islam, namun pepatah ini amat sesuai dengan ajaran Islam yang memerintahkan untuk berusaha dan berikhtiar.
Akan tetapi, dalam kenyataan keseharian kehidupan masyarakat Sunda, ada saja adat yang kelihatannya tidak mencerminkan perilaku yang dipengaruhi Islam. Bisa jadi adat tersebut maih dipengaruhi oleh ajaran-ajaran pra-Islam. Hal demikian adalah wajar mengingat proses Islamisasi adalah proses “menjadi” yang mungkin saja di satu tempat sudah berubah sementara di tempat lain belum. Karya H. Hasan Mustapa, Adat Istiadat Sunda.[3]Dalam buku ini, Mustapa yang tokoh intelektual Muslim Sunda abad ke-19, memberikan penjelasan mengenai berbagai adat kebiasaan yang dikerjakan masyarakat Sunda mulai adat saat melahirkan, mengkhitan, menikahkan, menanam, kematian, dan sebagainya.
Dalam penjelasannya Mustapa menunjukkan apa pengaruh dan falsafah yang ada di balik kebiasaan itu. Ada adat yang memang berkenaan dengan kepercayaan pra-Islam, ada pula yang sudah menunjukkan pengaruh ajaran Islam. Sebagai seorang intelektual Muslim, Mustapa secara proporsional menempatkan adat kebiasaan urang Sunda yang dituliskan dalam kerangka pandangan hidupnya sebagai Muslim.
Dari sisi sumber intelektual, sebetulnya karya Mustapa ini juga sudah menunjukkan secara tidak langsung bahwa tokoh-tokoh intelektual Sunda seperti dirinya pada abad ke-19 sudah memiliki pengaruh yang kuat dari Islam. Ini berarti bahwa Islam sudah menjadi salah satu referensi inetelektual yang penting sehingga adat kebiasaan yang berlaku pun ditimbang dalam kerangka Islam.
Mengenai persoalan ada sebagian masyarakat yang lebih memegang adat daripada pengajaran baru, di dalam falsafah masyarakat Sunda sendiri sudah disadari sejak awal. Ini tercermin dari peribahasa kuat adat batan warah (lebih kuat adat daripada pengajaran). Ini menunjukkan bahwa adat bukanlah harga mati. Bisa jadi, dengan datangnya pengajaran baru adat haru berubah. Namun seringkali orang yang sudah telanjur memagang adat tidak dapat dengan mudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya hanya karena ada pengajaran baru.
Islamisasi Tatar Sunda
Sudah menjadi kebiasaan dalam historiogri kolonial bahwa Islamisasi akan dibenturkan dengan pertahanan adat masyarakat lokal. Umpamanya ketika sejarawan-sejarawan kolonial menceritakan proses Islamisasi di wilayah kebudayaan Jawa. Islamisasi yang sesungguhnya adalah proses kebudayaan kemudian digambarkan dengan pristiwa-peristiwa politik. Jadilah kemudian perang antara Demak dengan Majapahit (1526 M) sebagai diartikan perang antara Islam dengan Hindu; atau Islam dengan kebudayaan Jawa. Dalam hal ini, Demak disimbolkan sebagai wakil tradisi Islam sementara Majapahit disimbolkan sebagai wakil kebudayaan Jawa.
Bila melihat hubungan antara Islam dengan kebudayaan setempat seperti demikian, maka akan dapat disimpulkan bahwa Islam datang untuk menghancurkan “kebudayaan” masyarakat tempatan. Padahal, sejatinya proses Islamisasi, apalagi menyangkut kebudayaan adalah proses yang damai, normal, dan wajar tanpa kekerasan. Orang dengan sukarela menjadi Islam atau tidak. Sementara persoalan politik sesungguhnya lebih banyak berkaitan dengan kepentingan kekuasaan, daripada dengan kepentingan mempertahankan kebudayaan.
Hal yang sama juga akan ditemukan saat menceritakan hubungan antara Sunda dengan Islam. Hubungan ini, dalam sejarah selalu dikaitkan dengan ingatan perang antara Maulana Hasanudin dari Banten dengan kerajaan Sunda di bawah pimpinan Ratu Samiam tahun 1579 yang berakhir dengan hancurnya kerajaan Sunda. Perang ini seolah memberikan pertanda bahwa Islam dengan Sunda adalah seteru, sesuatu yang tidak dapat dipersatukan. Oleh sebab adanya pandangan demikian, ada yang sengaja mencari “jati diri” kasundaan dengan melewatkan Islam.[4]
Islam datang ke Tatar Sunda seiring dengan datangnya Islam ke Tanah Jawa pada umumnya. Sama seperti di wilayah Jawa yang lain, puncak keberhasilan dakwah Islam adalah pada masa Wali Songo. Di Tatar Sunda, anggota Wali Songo yang menjadi penyebar Islam tersohor, bahkan sampai berhasil mendirikan kerajaan Islam di Cirebon dan Banten adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Namun demikian, Sunan Gunung Jati bukan orang pertama yang membawa Islam.
Dalam sumber-sumber lokal-tradisional dipercayai bahwa orang yang pertama kali memeluk dan menyebarkan Islam di Tatar Sunda adalah Bratalegawa. Bratalegawa adalah putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, penguasa Kerajaan Galuh. Ia memilih hidupnya sebagai saudagar besar. Karena posisinya itu, ia tebiasa berlayar ke Sumatera, Cina, India, Srilangka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang Muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad.
Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam, kemudian menunaikan ibadah haji dan mendapat julukan Haji Baharudin. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaannya, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa. Ia kemudian menepat di Ciberon Girang yang saat itu berada di bawah kekuasaan Galuh. Bila cerita ini menjadi patokan, dapat disimpulkan bahwa Islam pertama kali dibawa ke Tatar Sunda oleh pedagang dan pada tahap awal belum banyak pendukungnya karena masih terlampau kuatnya pengaruh Hindu.[5]
Ada pula naskah tradisional lain yang menyebutkan cerita tentang Syekh Nurjati dari Persia. Ia adalah ulama yang datang pada sekitar abad ke-14 bersama 12 orang muridnya untuk menyebarkan Islam di daerah jawa Barat. Atas izin penguasa pelabuhan tempat ia mendarat, ia diperbolehkan menetap di Muarajati (dekat Cirebon) dan mendirikan pesantren di sana. Kisah ini terdapat dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari.[6]
Ada lagi kisah tentang ulama yang datang dari Campa (sekitar Vietnam) bernama Syekh Quro. Ia singgah di Karawang bersama-sama dengan kapal Laksamana Cheng Ho.
Sementara Cheng Ho melanjutkan misinya, Syekh Quro memilih tinggal di Karawang dan menikah dengan Ratna Sondari putra penguasa Karawang. Ia diizinkan untuk mendirikan pesantren hingga ia dapat menyebarluaskan ajaran Islam secara lebih leluasa.[7]
Sumber-sumber tradisional ini, sekalipun dalam perspektif sejarawan Barat dianggap sebagai sumber yang tidak otoritatif, namun untuk tidak dipercayai secara keseluruhan pun bukan perkara yang tepat. Oleh sebab itu, sebagai informasi permulaan apa yang ditulis dalam sumber-sumber tradisional di atas patut dipertimbangkan.
Bila sumber-sumber ini kita pegang, dapat disimpulkan bahwa Islam telah datang ke Tatar Sunda sejak abad ke-12 atau ke-13. Akan tetapi, sebagaimana umumnya pengembangan agama secara damai, tersebarnya Islam untuk sampai menjadi anutan mayoritas membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, bila pada abad ke-16, Kerajaan Sunda runtuh, bukan berarti bahwa Islam yang menghancurkannya.
Kehancuran Kerajaan Sunda adalah karena kekuatannya secara politik semakin merosot sehingga mudah untuk dihancurkan. Hanya saja, saat itu yang berhadap-hadapan dengan Kerajaan Sunda adalah Kerajaan Banten sehingga banyak yang secara simplisistik menyebutkan bahwa hancurnya simbol “kasundaan” adalah ketika Islam datang.
Catatan Kaki
[1] Ajip Rosjidi, Mencari Sosok Manusia Sunda, Pustaka Jaya Jakarta, 2010, hal. 39-40
[2] Ibid, hal. 50
[3] Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama oleh M. Maryati Sastrawijaya diterbitkan terakhir oleh PT Alumni Bandung tahun 2010.
[4] Salah satu yang berusaha untuk melakukan itu adalah budayawan Katolik ahli Sunda, Jakob Sumardjo. Dalam tiga jilid bukunya yang berjudul Simbol-Simbol Artefak Budaya Sunda (diterbitkan Penerbit Kelir Bandung tahun 2009), Sumardjo berusaha mengaitkan jati diri kasundaan dengan mengembalikannya pada kepercayaan Sunda yang dipengaruhi animisme dan dinamisme; atau Hindu-Budha. Dalam jilid ketiga yang secara khusus mengenai pantun-pantun Sunda, tafsiran istilah pada pantun itu ia kaitkan dengan kepercayaan lama yang bukan Islam, padahal dalam konteks kekinian, pandangan hidup Sunda tidak dapat dipisahkan dari Islam.
[5] Nina Herlina, dkk. Sejarah Tatar Sunda. Satya Historika Bandung, 2003: hal. 164-165
[6] Ibid. hal. 166
[7] Ibid. hal. 167

ISLAM bukan sekedar AGAMA | Karena Islam Itu Pemberian Nama dari Sang Juru Selamat

Islam adalah nama (ismun), nama bagi suatu “Dien” seperti dalam firman Allah: “Warhoditu Lakumul Islaama Diina…” (dan kuridhai bagimu Islam sebagai Dien) (QS 5/3).
Al-Islam itu sendiri diambil dari bahasa arab yang memiliki arti: Aslama (tunduk/ menyerah), Assalaam (menyelamatkan), Assilmu (damai) dan assulaam (tangga). Dengan demikian maka Dinul Islam adalah Dien yang berporos pada kepasrahan hamba kepada Allah, yang dengan ketundukannya manusia akan menemukan ketentraman jiwa, ketinggian derajat dan keselamatan jiwa raga, dunia dan akhirat.
 Karena Islam itu adalah Dien, maka sangat pentinglah kita membongkar makna / pengertian Ad-Dien itu, sehingga kita dapat dengan persis memahami apa itu Islam.

Ad-Dien dalam padanan bahasa Indonesia diartikan dengan istilah AGAMA. Pengalihan dari terminology “Dien” kepada term “AGAMA” tidaklah semuanya tepat. Sebab Agama (terutama) dalam pengertian yang berkembang dimasyarakat adalah suatu tata aturan kepercayaan dan hubungan dengan Tuhan / Dewa, seperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia.

Tentusaja sangat keliru dan mengandung potensi menyesatkan jika Dien diartikan hanya sebatas “Kepercayaan” dan hubungannya dengan Tuhan. Mari kita periksa maksud Allah didalam Al-Qur’an.
Didalam Qur’an, term DIEN digunakan dalam beberapa penggunaan:

  • Undang-Undang (hukum / aturan) Kerajaan, dalam QS 12/76. Dalam ayat itu disebut “Diinil Maliki” yang artinya Undang-undang kerajaan. Lihat juga Qs 24/2, 42/13, 24 dll.
  • Kekuasaan, dalam QS 56/86-87. Dalam ayat itu disebut “Madiiniin” yang artinya KEKUASAAN.
  • Ketaatan, dalam QS 98/5. Dalam ayat itu ad-dien diartikan Ketaatan.
  • Pembalasan / sangsi, dalam QS 1/4. Dalam ayat itu Addien diartikan pembalasan / sangsi.

Dari pengertian diatas dapatlah kita simpulkan bahwa dien adalah SUATU SISTEM KEHIDUPAN YANG DIDALAMNYA TERDAPAT SISTEM HUKUM, SISTEM KEKUASAAN (PEMERINTAHAN) DAN SISTEM KETAATAN MASYARAKAT (SISTEM KEMASYARAKATAN), YANG MANA SISTEM HIDUP ITU MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MEMAKSA MASYARAKAT YANG ADA DIDALAMNYA UNTUK TAAT KARENA JIKA TIDAK PASTI AKAN MENDAPAT SANGSI.
Sistem kehidupan yang terdiri dari Sistem Hukum, Sistem Pemerintahan dan Sistem ketaatan itu, zaman sekarang lebih dekat dengan pengertian “state” (Negara). Sebab Negara itu memiliki ketiga unsur Dien seperti yang diungkapkan Qur’an. Dan Negara adalah Institusi social yang bersifat memaksa dan dapat memberi sangsi kepada rakyatnya, jika melanggar aturan.

Al-Qur’an menjelaskan lebih visual tentang Dien ini, dengan kisah Fir’aun (QS 40/26-29). Kerajaan Fir’aun , sebagai system pemerintahan dinegeri Mesir,  ketakutan akan gerakan Nabi Musa As, yang dikuatirkan akan membuat revolusi bagi “Dien” (system hidup) mereka dengan Dien yang dibawa oleh Nabi Musa. Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar DIEN-MU atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.. (40/26).
Apa yang dikuatirkan oleh Raja Fir’aun,  bukanlah isapan jempol. Sebab sebelumnya Nabi Musa memproklamirkan “KERAJAAN”.

Tentu saja kerajaan yang didirikan Musa adalah kerajaan Islam. “(Musa berkata): “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita! Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”.. (40/29).
Berdasar QS 40 ayat 26 dan 29, Fir’aun adalah Raja bagi kerajaan Mesir dan Qur’an menyebutnya ” Dien-nya Fir’aun”.  Nabi Musa adalah Raja bagi kerajaan Islam dan Qur’an menyebut sebagai “Dien” yang akan dimenangkan Musa diatas Dien-nya Fir’aun.
Disini nampaklah secara visual makna Dien yang dimaksud Al-Qur’an yaitu system hidup,  yang pada masa Nabi Musa di nampakan adanya dua system Hidup, yaitu KERAJAAN MESIR yang dipimpin oleh Fir’aun dan Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Nabi Musa.

Tentu saja diwilayah yang sama tidak mungkin ada dua kerajaan kecuali yang satu sudah mapan (merdeka) dan yang satunya sedang BERJUANG (terjajah), negara yang belum memiliki wilayah yang dikuasai secara de facto.  Kalau zaman sekarang (mungkin) istilah “Dien” sepadan dengan istilah Negara seperti amerika, Inggris, Arab Saudi dan lain-lain.  ISLAM adalah Dien, tidak dapat dibandingkan dengan agama Kristen, agama Yahudi, kecuali dengan kerajaan kristen, kerajaan Yahudi, negara sekuler dan lain lain.
Sangatlah tidak sepadan jika istilah Dien dipadankan (dalam bahasa Indonesia) dengan pengertian agama.
Dien Islam berarti system hidup Islam yang wujudnya adalah Kerajaan / Negara yang bersumber hukumkan Al-Qur’an. Kesimpulannya:

  • ISLAM adalah nama bagi suatu Dien Dien adalah sistem hidup yang divisualkan oleh Allah dalam Qur’an seperti KERAJAAN FIR’AUN
  • Kerajaan / negara adalah wujud Ad-Dien,  bisa dalam pengertian Negara yang sudah berkuasa secara de facto seperti kerajaan Fir’aun atau bisa juga Negara yang sedang berjuang seperti Kerajaan Musa
  • Kerajaan Fir’aun adalah Dinul Bathil karena tidak bersumber hukum Kitab Allah, sementara Kerajaan Musa adalah Dinul Haq karena bersumber hukumkan KITAB ALLAH
  • ISLAM adalah Dinul Haq

Contoh Teks Khutbah Iedul Fitri | Aqidah Jamaah dan Imamah | K.H. Isa Anshary

Segala puji bagi Allah yang telah mengirim semua pesuruhNya kepada manusia dengan penerangan yang nyata; dan ia telah memberi kitab dan neraca kepada mereka, agar umat manusia tetap senantiasa membela kebenaran  dan menegakan ke’adilan. Ia ciptakan besi yang mengandung kekuatan Maha dahsyat dan berguna bagi manusia, supaya Allah menilai siapa yang menegakan agamaNya dan membantu para RasulNya denagn ghaib. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa dan Maha Mulia. Dan ia telah mengakhiri para Rasulnya itu dengan Nabi Muhammad S.A.W. Seorang pribadi yang dikirimNya membawa petunjuk serta agama yang benar, agar agama itu lahir membawa kemenangan universal diatas keyakinan lainnya. Ia telah mempersenjatai Muhammad denagn kekuatan yang menentukan kemenangan, kekuatan yang mencakup arti ilmu dan pena untuk jadi hidayah dan huddjah, dan kekuatan yang mengadung ma’na kodrat dan pedang untuk mencapai kedjajaan dan kemuliaan.

Saya mengaku, bahwa tak ada Tuhan kecuali Allah yang Maha Tunggal,
tak ada Syariat dan sekutu baginya, pengakuan yang tulus laksana emas murni,
tanpa saduran dan campuran.
Saya mengaku, bahwa Muhammad itu adalah hambaNya dan pesuruhNya, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, dan segenap keluarga dan sahabat-sahabatnya, mudah-mudahan Tuhan memberinya pula kesejakterahan yang banyak, syahadah pengakuan yang menyatakan bahwa orang yang mengucapkannya berada di bawah yang Maha pelindung. Allah S.W.T.
Allahu Akbar….Allahu Akbar….Allahu Akbar!!!
Sahabat-sahabat perjuangan sekalian
Tatkala dinihari cahaya fajar satu syawal meyingsing di ufuk tomur, budi pikiran dan budi perasaan kita, alam jiwa kita bertukar rasa.
Umat islam di seluruh dunia, seluruh benua dan samudera, bangkit bersama mengumandakan ucapan takbir dan tahmid, gembira dan bahagia karena beroleh menang setelah berjuang, mengalahkan nafsu, melatih diri, setelah berpuasa sebulan penuh, membina taqwa mengharap ridha.

Kita kibarkan panji-panji kemenangan dan bendera kejayaan dengan ucapan takbir dan tahmid, alamat rasa syukur kita yang tiada berhingga kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Esa. Pada hati yang berbahagia ini, seluruh umat islam mengumandangkan kalimat itu, bersahut-sahutan dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia yang lain.
Diatas daratan bumi yang membentang luas, dengan beratapkan awan putih yang melambangkan kemurnian dan keaslian jiwa, dengan berlantaikan rumput hijau menggambarkan kehalusan budi dan perasaan yang mesra, umat tauhid hari ini memenuhi lapang dan ruangan terbuka, berbaris dalam susunan shaf yang teratur rapi, menyatakan ruku dan sujud kepada iillahy.
Allahu Akbar….Allahu Akbar….Allahu Akbar!
Kalimat diatas adalah ucapan kepercayaan, ucapan keyakinan dan ucapan kesadaran.
Ucapan diatas adalah bayangan keabadian, pedoman kekal sepanjang masa: pangkalan tempat bertolak dan pelabuhan tempat bersuah. Ia adalah laksana menara larut di tengah samudera perjuangan kehidupan dan kemanusian. Ia menerjemahkan suatu keyakinan, pandangan dan pendirian hidup, nyala dan cahaya hidup yang memancarkan pijar dan dinar.
Maha Besar Allah!
Selain dari dia kecil semuanya!
Alam besar diciptakan olehnya, bergerak dibawah asuhan dan kekuasaanNya. Kekuasaan raja-raja, para penguasa dan segala kepala Negara, berhimpun menjadi satu, kecil dan lemah dihadapan Tuhan yang Maha Kuasa itu.
Pengetahuan-Nya menembus segala lipatan hati dan rohani manusia. Semut kecil yang bersembunyi dalam lubang gelap dan duduk terdiam diatas batu hitam, diketahuinya belaka. Bunga yang masih mekar menguntum jatuh ke bumi, atau daun yang sudah layu menggering di terbangkan angin lalu entah kemana hanyutnya, di ketahuinya semua, tak ada yang lepas dari tilikan dan pengetahuannya. Dialah yang memegang pimpinan dan kebijaksanaan atas seluruh alam ini.
Maha Bijaksana Dia!
Tempo-tempo di taburkanNya sinar-sinar bintang di halaman langit di waktu malam, dan manusia menyaksiakan ribuan cahaya. Tempo-tempo ditahankannya pijar dan sinar bintang itu dan dunia kembali kelam dan gelap. Tanpa di minta manusia, jika siang turun menjelang, dengan didahului oleh sinar fajar yang indah, keluarlah matahari dengan kekuatan benderang menjauhi alam seluruhnya.
Maha besar Allah dan Maha kecil manusia!
Maha Kuat Allah dan Maha Lemah Manusia!
Kebijaksanaan Tuhan yang telah mempelakukan seluruh isi alam menurut ketentuan yang sudah di pastikan. Maha mengetahui Tuhan, yang arif akan hajat dan kehendak isi alam. Hanya kepadanya belaka tempat kita takut, berbakti mempercayai diri kita, buka kepada lain-Nya. Pantang bagi kita menyerah kepada kekuasan lainnya.
Umat tauhid, memantangkan dirinya untuk takut dan menyerah kepada manusia yang zalim atau penguasa yang durjana. Umat tauhid, selalu menyala dalam dadanya harapan dan masa depan yang terang dan gemilang. Umat tauhid mematangkan dirinya untuk berputus asa atau sempit dada dan sesak nafas, melihat perkembangan keadaan, sebab semunya itu berada dalam kekuasaan dan kebijaksanaan Tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana.

Allahu Akbar….Allahu Akbar….Allahu Akbar!
Laa ilaaha illallah! Tak ada Tuhan kecuali Allah!
Kekusaan dan kekuatan mutlak ada di tangannya. Kebijaksanaan dan keadilan mutlak ada di sisinya. Kesempurnaan dan keberanian mutlak hanyalah pancaran dan cahaya nya. Kekuasaan yang diberikannya kepada sebagian manusia ada hingga dan jangkanya, kepapaan dan kesengsaraan yang di rasakannya kepada sebagian manusia ada pula batas dan akhirnya.
Diancamnya para penguasa yang berlaku zhalim, yang menyalah-gunakan kekuasaan untuk menindas manusia yang lemah dan tidak berdaya. Direnggutnya dan di binasakan nya penguasa yang durjana itu dari tempat yang tidak mereka ketahui
Di berinya hiburan dan harapan manusia yang lemah dan terlindas di bumi, bahwa pada satu ketika yang tidak terduga, kuasa ghaib akan mematahkan belenggu-kezaliman yang mengungkungnya. Masa kepastian itu pasti datangnya, lambat atau cepat. Hutang harus di bayar, piutang di terima, rela atau terpaksa.

 Saudara-saudara seagama dan secita-cita.!
Dari masyarakat yang ber Tauhid itu, akan lahir pahlawan-pahlawan kebenaran, pejuang yang bertakwa, pemimpin yang memiliki kepribadian. Tiada Tuhan kecuali dia. Tiada tempat bergantung melainkan kepadanya. Tiada tempat mengharap, memuja dan memuji, menyembah dan menyerah, hanyalah kepadanya belaka, dan semata-mata.
Nasib segala kita ditanganya!
Keyakinan itu yang mendorong setiap mudjahid terjun ke medan juang, menyabung nyawa berkuah darah, mengibarkan panji-panji perlawanan, menentang gerbang sel maut menyudahi hidup kini dan di sini. Berhadapan dengan risalah Tuhan, dia tidak memperhitungkan harga dirinya. Dirinya lenyap dalam keyakinan yang agung dan kepercayaan yang suci. Dirinya tiada dan sirna dalam kebesaran cita dan kejauhan tujuan.

Allahu Akbar….Allahu Akbar…..Allahu Akbar!
Walillahihand!! Segala puji bagi Allah!!
Hanya dia seorang yang memiliki segala kepujian dan sanjungan. Haram bagi kita memuji selain dari dia. Pantang bagi kita untuk menjilat mencari muka, mengemis-ngemis asal laku dan terpakai oleh orang yang sedang menang.
Kepribadian budak dan menjadi hamba sahaya manusia, rela dipermainkan orang seperti bola di tengah lapang, bukan kepribadian kita, bukan sibghah dan celupan kita.
Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar!
Hanya Tuhan Yang Maha Besar.
Tak ada Tuhan kecuali Dia.
Segala puji untuknya belaka, dan semata-mata.
Kalimat dan ucapan Tauhid di atas adalah pegangan, dasar pendirian, keyakinan yang memberikan kebijaksanaan kepada manusia yang beriman dalam menempuh hidup ini, menegakan kepala di tengah manusia, memancarkan bendera kebenaran dan keadilan, meruntuhkan pilar-pilar kezaliman dan kepalusan.
Kehidupan yang berlandaskan kepada keyakinan Tauhid, memantangkan dirinya untuk menyerah kepada kekuasaan atau mendewakan kekuasaan manusia: tunduknya hanya kepada kebenaran dan keadilan, kebenaran dan keadilan yang bersumber kepada ajaran Tauhid itu.  Peganglah pendirian dan keyakinan ini sungguh-sungguh, jangan di lepaskan. Berjuanglah dengan keyakinan dan pendirian ini sungguh-sungguh, jangan menyimpang dari ajaran ini.

Jalan ini adalah yang lurus!
Pendirian ini adalah pendirian yang benar!
Kita telah menempuh jalan ini dalam masa yang jauh dan panjang. Ranah tujuan belum juga kelihatan. Pangkalan tempat bertolak dahulu sudah tidak keliatan lagi. Sedang pelabuhan tempat bersauh belum juga tampak.
Kita kini berada ditengah laut perjuangan.
Alam sekeliling gelap bertingkat gelap. Angin kencang badaipun keras, gelombang dating bersusulam, hujan lebat menyurah, awak kapal mendapat ujian. Adakah sampai badan ke seberang, bergantung kead kemahiran bergumbul, berpirau melawan arus.
Dalam keadaan demikianlah kita sekarang!
Keadaan berkembang dan bergerak maju ke muka, mendewasakan para pejuang yang arif situasi dan kondisi.
Satu hal adalah pasti:
Pekik api kebenaran, kini telah tak terpadamkan.
Pekik zaman keadilan, kni telah tak tertahankan oleh kekuatan dan kekuasaan apa juga.
Umat Tauhid akan selalu memihak kepada kebenaran dan keadilan, walaupun kebenaran dan keadilan itu berada di fihak yang lemah, dan kepalsuaan berada di fihak yang kuat. Umat tauhid tidak pernah ragu meletakan pilihan, dan tidak pernah sangsi mengarahkan sasaran tak pernah keliru dalam perhitungan. Artif kemana angin bertiup,  mengerti perubahan cuaca dan udara.
Saudara-saudara, itulah “ aqidah dan pandangan hidup. “ aqidah islamiyah, menuntun jalan hidup kita, member pegangan dan tujuan serta kepastian bagi kita. Ada “ hablun minallaah”, ada tali tempat kita bergantung, ada “hablun minannas”, ada bumi tempat kita tumbuh dan berpijak. Ada “aqidah, cahaya langit yang memerangi jalan hidup kita, ada qa’idah dan djama’ah, ruang di bumi tempat kita hidup bersama, berusaha dan berkarya denagn manusia lainnya.
“Ashluha tsabitun wafar’uha fissamaa”  uratnya jauh terhujam kepala bumi, cabang dan carangnya tinggi menjulang kelangit biru.
Itulah wajah semangat dari ummat pilihan, umat yang hidup dengan aqidah dan qaidah, umat yang memilki keyakinan, umat yang memiliki susunan dan pimpinan. Umat yang hidup dengan paru-paunya sendiri, umat yang hidup dengan syarafnya sendiri, mempunyai izzah dan sibghah, mempunyai gengsi dan harga diri.
Itulah umat yang mampu menentukan nasibnya sendiri. Saudara-saudara, “aqidah yang kuat dan qai’dah yang jelas di dalam hidup, pasti menumbuhkan jama’ah dan melahirkan imamah. Jama’ah dan imamah, itulah pola hidup kita, sesuai dengan teladan sunnah. Selama umat islam di bumi sebelah sini dan di seluruh dunia tidak merupakan umat jama’ah dan immah, selama itu mereka akan tetap menjadi permainan orang, akan tetapi menjadi umpan.
Mutunya lenyap, nilainya enteng!
Gengsinya rendah, pribadinya murah!
Kaum yang anti islam selalu berusaha sejak dahulu, agar umat islam jangan sampai mewujudkan kesatuan jama’ah dan kesatuan imamah. Kita dirintangi terus untuk menetapkan dan memilih imamah, tempat kita menumpangkan kepercayaan  dan pimpinan perjuangan. Kita diawasi terus dan di curigai selau untuk menemukan diri kita kembali, membina hidup kita sebagai ummat jama’ah. Dunia luar pasti tidak rela melihat tumbuhnya kekuatan baru di dunia, kekuatan dunia islam. Dunia luar tidak rela melihat umat islam merupakan kekuatan yang akan mengimbangi kekuatan mereka.

Saudara-saudara
Kesatuan aqidah harus menumbuhkan kesatuan jama’ah kesatuan jama’ah harus melahirkan kesatuan imamah. Perjuangan besar ini hanya bisa angkat dengan tenaga bersama, tenaga umat dan tenaga jama’ah.  Hanya dengan aqidah yang teguh dan perkasa, hanya dengan keyakinan hidup dan keyakinan berjuang; hanya dengan tenaga umat yang satu, jamaah yang satu immah yang satu, umat islam dapat kembali, membuat masa depan yang gemilang dan cemerlang.
Saudara-saudara, badai kritis yang menghempas diseluruh benua dan samudera dunia islam dalam masa berbilang abad, terletak pada kelemahan aqidah, tak adanya lagi system hidup ber-jamaah dan imamah; lemahnya keyakinan hidup dan keyakinan berjuang, lenyapnya kepribadian, tak adanya susunan dan bangunan umat wahidah, tak adanya kesatuan pimpinan dalam perjuangan.
Aqidah membentuk jama’ah, jama’ah melahirkan imamah. Jama’ah dan imamah berlandasakan ‘aqidah, akan menumbuhkan quwwah islamiyah: kekuatan islam dan kekuatan umat yang mampu ikut menentukan jalan sejarah dunia. Keyakinan membentuk kepribadian, kepribadian menumbuhkan susunan, susunan melahirkan kepemimpinan!
Wajah dan halaman hidup, jiwa dan semangat hidup, nyala dan cahaya yang mencemerlangkan hidup, segalanya itu memancarkan dari aqidah yang teguh dan kukuh, jamaah dan imamah yang kaut dan sentosa. Dari sana memancar cahaya keabadian, pijar dan sinar kehidupan yang agung: daya-bayang yang tajam dan jaya juang yang perkasa. Ia memberikan kearifan dan kewaspadaan beragama… membuat widjhah yang jelas dan wajah semangat berapi-api. Ia membuat kita menjadi umat yang satu, jamaah yang satu dan imamah yang satu.
Aqidah Islamiyah memesankan, agar kita memandang seluruh persoalan ini dari hubungan yang luas, benua demi benua, memandang dari belahan dunia yang besar dan sejarah yang besar pula. Memandang dengan bashirah, jauh menembus lipatan zaman. Dengan horizon yang tajam memandang jauh ke depan, sampai kekaki langit, menembus ufuk demi ufuk, mencari titik sinar diatas asap dan awan. Memandang dengan bashirah tidak terpengaruh oleh kejadian dan peristiwa, atau batu yang berserakan setip hari.
Ummat yang memiliki aqidah dan bashirah, akan selalu melihat sebutir terang ditengah kegelapan malam. Harap dan percaya akan kemungkinan yang berderang di tengah segala kesangsian dan ketidakpastian. Di atas kabur yang tebal dan awan yang gelap, terbentang langit cerah yang biru.

Saudara-saudara se-agama dan se-cita-cita
Kita kini masih berada pada keadaan yang sangat sulit. Kita masih bergumul dengan kondisi dan situasi, kondisi dan situasi yang tidak mengguntungkan umat islam yang berjuang dengan aqidah. Kiri dan kanan adalah jurang, dibelakang telah tersedia kebinasaan. Jalan di muka penuh dengan duri dan derita. Tali hitam kesayupan dan tekanan yang serupa menimpa seluruh hidup kita. Rasa kecewa dan pengalaman yang pahit memenuhi ruang hidup kita, malah telah melembutkan seluruh irama hidup kita.
Ujian ini belum juga berakhir. Penderitaan ini belum juga berakhir!
Lembah perasaan kita tempo-tempo terasa kering, bunga hati layu mengula, lubuk kalbu terasa sesak. Setiap ujian dan percobaan, duka dan suka, ketawa dan air mata, semua itu adalah senandung yang menjanjikan kehidupan yang indah. Ketahuilah, di belakang kalimat sejarah belum ada titik. Sebelum kita telah datang kafilah perjuangan yang memberikan teladan, bagaimana derita dan pengurbanan dalam perjuangan. Tetesan darah sepanjang perjalanan, cucuran keringat dan air mata yang membasahi halaman hidup, adalah menjadi tafsir, betapa beratnya menegakkan keyakinan dan kebenaran.

Allahu Akbar….Allahu Akbar……Allahu Akbar!
Saudara-saudara, ditanah ini telah terjalin kisah keberadaan dan perwiraan, kisah kepahlawanan dalam perjuangan. Ditanah  ini lahir para perjuangan kebenaran dan keadilan. Angkatan mudjahidin islam itu telah datang dan telah pergi dari sini meninggalkan amanat perjuangan yang belum selesai.
Mereka lahir dari kancah perjuangan, dibesarkan dalam perlawanan dan didewasakan oleh tempaan penderitaan. Dari rahim pengalaman telah banyak lahir perjalan, kuliah jihad yang perlu dijadikan pedoman menghadapi masa depan dan membuat masa depan. Dan mereka yang gugur membela kebeanaran, telah meninggalakan pesan arif. Dan mereka yang hidupnya keluar masuk penjara, telah mewariskan semangat dan jiwa keperwiraan bagi angkatan kemudian.
Apalah arti penjara bagi seorang pejuang, karena bui dan penjara adalah tempat pembadjaan diri. Apalah artinya tempat pembuangan bagi mereka, karena tempat pembuangan adalah pangkalan untuk membangun kemenangan yang pertama.
Saudara-saudara, dengan curahan jiwa dan semangat, curahan kalbu dan budi, mari kita mengurbani perjuanagn besar ini. Sungai boleh moegering, gunung boleh menghanyut, namun perjuangan menegakan kebenaran dan membela ke’adilan akan tetap dan abadi. Dengan limpahan sepenuh cinta, gemilang  kasih sayang curahan kasih, cinta kepada agama dan cita, rindu kasih kepada idaman hati, dari situ tumbuh pengorbanan yang tak berhingga dan berjangka.

Segenap Mu’min habis dan lenyap di situ
Segenap Ummat Muhammad fana dan sirna disana.
Tak seorang berniat pulang, walau nyawa akan melayang di medan juang.
Tak seorang hendak mundur dari arena, kendati bisa dan sengsara badan yang akan menjadi bahagian. Dengan aqidah kita layani tantangan, dengan aqidah kita awasi perkembangan, dan dengan ‘aqidah kita hadapi kesulitan dan rintangan.
Dengan jama’ah dan imamah kita tempuh rimbanya perjuangan, dengan jama’ah dan imamah kita layari maha samudera kehidupan.dengan meng-ichlaskan niat dan meluruskan tujuan. Mari kita bergerak maju dengan derap dan irama yang sama, merampungkan kewajiban bersama, menegakan kalimah ilahy di muka bumi.
Sebagai umat yang satu, jama’ah dan imamah yang satu, untuk ‘aqidah yang satu, mari kita selesaikan bengkalai ini; mari kita wariskan “watak berjuang” yang berhak hidup dalam sejarah, sebagai harta lama pusaka bersama kita, guna angkatan yang akan datang!
Mari akhiri hidup berpecah dan ber-firqah, mari kita habisi hidup bersengketa, bergolong-golongan: mari kita bina hidup ber-jamaah dan ber-imamah, sesuai dengan teladan dan sunnah. Mari kita wujudkan kesatuan umat, kesatuan barisan, kesatuan pimpinan dan kesatuan perjuangan!
Mari kita isi hidup ini dengan ‘aqidah’, dengan keyakinan dan perjuangan. Mari kita penuhi segenap udara dan cuaca ini dengan kegiatan berjuang dan kerelaan berkorban.
Denagan qur’an ditangan kanan dan kain kafan ditangan kiri, kafilah mujahidin ini telah bertekad hendak meneruskan perjuangan: dalam kamus hidupnya haram tak ada kalimah berhenti di tengah jalan, karena tempat perhentian hanyalah di atas perkuburan yang sepi.

Allahu Akbar….Allahu Akbar……Allahu Akbar!
Mari kita memanjatkan doa dan munajat kepada Allah SWT dengan segala kerendahan hati.
Wahai Tuhan kami!
Tiada seorang pun juga dapat bersukur semestinya kepada-Mu, sebab kebaikan-Mu tiada berbatas. Tiada seorangpun juga tha’at dengan haq-Mu, meskipun sepenuh kekuatannya ia melakukan ketha’atan itu. Apabila engkau memberikan maghifirah dan ridla engkau kepada seseorang, yang demikian itu hanyalah semata-mata karunia-Mu belaka. Karena karunia-Mu, sajalah engkau member pahala kepada hambaMu yang tha’at. Yang demikian itu karena engkau Tuhan Maha Pemurah dan Maha Pengampun.
Seluruh isi alam ini mengakui dan merasakan keadilan dan ni;mat karunia-Mu. Seandainya tiada syetan penggoda, tidak aka nada pendurhaka di muka bumi ini. Sekiranya iblis penyesat, tidak aka nada manusia tersesat dimuka bumi ini. Sekiranya tiada iblis penyesat, tidak aka nada manusia tersesat menempuh jalan hidup ini. Jika tak ada penguasa durjana diatas bumi engkau, sudah lama bani adam ini hidup bahagia dan bercahaya.
Maha Suci Ya Allah!
Jelas kemurahan engkau terhadap si tha’at maupun si durhaka. Si tha’at kau beri pahala berlipat ganda, padahal tiada berjasa. Si durhaka kau beri waktu, padahal tiada berhak. Pahala besar kau berikan kepada si tha’at untuk amal tak berarti, justru dikala ia masih banyak berutang karena karunia-Mu melimpah ruah.  Si durhaka tiada kau balas serta merta, kau beri dia tempo untuk insaf dan kembali tha’at.
Siapa gerangan lebih pemurah daripada engkau, wahai Tuhan Ghafururrahhiem! Siapa gerangan yang lebih celaka dari pada manusia durhaka, meski luas dan besar kemurahan-Mu sekalipun. Tidak, tidak ada seoramg pun jua. Hanya kebaikan dan keadilan sadjalah daripadaMu, rahmat dan sejahtera limpahkanlah kiranya ia Allah kepada Muhammad dan Ummatnya. Berilah kami apa yang kami cita-citakan, perkuatlah hidayahMu kepada kami, sehingga tercapai kiranya keridoan-Mu, kepada kami, sehingga tercapai kiranya keridoan-Mu, Ya Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Berilah kami “izzah, Inayah dan Hidayah”.

Buatlah kami ini menjadi umat jama’ah dan imamah karena kesatuan aqidah. Kepada engkau sajalah kami mempercayakan diri kami. Jangan engkau membiarkan kami berjalan sendiri, dan lindungilah kami tidak menjadi umpan permainan musuh-musuh Engkau.
Wahai Tuhan Kami!
Kepada Engkau sajalah umat ini mengadukan kelemahan dirinya, dan tak adanya harga mereka dalam pandangan manusia, wahai Tuhan yang Maha Penyayang dari segala yang kasih sayang.

Wahai Tuhan Kami!
Engkau adalah Tuhan dari kaum yang lemah, Tuhan dari manusia yang tertindas di bumi. Engkau adalah Tuhan kami, Pelindung dan pembela kami di dunia dan akherat. Kepada siapa Engkau hendak menyerahkan diri kami? Apakah kepada kaum yang hendak melemparkan kami ke lembanh kemusnahan dan kehacuran? Ataukah kepada sahabat perjuangan yang telah mendapat kuasa penuh dari pada Engkau untuk menyelesikan urusan ini?

Wahai Tuhan Kami!
Jika ujian dan derita ini bukan karena murka-Mu kepada kami, legalah hati kami, dan lapangkanlah dada kami. Cukuplah itu untuk menguatkan jiwa kami dalam menahankan ujian dan menanggungkan penderitaan ini. Jika engkau murka kepada kami, kami insaf bahwa kemurkaan Engkau itu adalah karena kesalahan kami. Tuhan jalan dan pilihan bagi kami, hanya bertaubat, kembali kepada Engkau, kembali mengharapkan ampunan, gemilang sayang dan curahan kasih daripada Engkau semata.
Kami berlindung kepada nur-wajah Engkau yang maha Karim, yang menyinari langit dan bumi, dan memecahkan kegelapan demi kegelapan dan meperbaiki segala urusan kami dunia dan akherat. Semoga Engkau tidak murka kepada kami, mudah’an Engkau tidak memarahi kami. Hanyalah kepada engkau O Tuhan, kepada siapa lagi kami hendak mengadukan nasib kami.! Kalu tidak kepada Engkau Ya Ilahy, kepada siapa lagi kami hendak memulangkan nasib ini!

Kalau tidak kepada Engkau wahai Rabby, kepada siapa lagi kami hendak memulangkan persoalan kami! Rabbana, wahai Tuhan Kami, ini umat Tauhid datang menghadap kepada-Mu. Kaki yang lemah dan muka yang penuh dosa dan noda ini hendak datang juga mendekati Engkau. Bukanlah pintu maghjirrah dan ampunan Engkau karena kami hendak masuk kedalamnya.

Masukanlah kami ke dalam hidayat-Mu, gelimanglah kami dengan saying-Mu, curahkanlah kami dengan kasih-Mu! Lepaskan kami ke tengah dunia ini sebagai umat yang ber’aqidah, berjama’ah dan ber-imamah: Iman dan Imamah yang kami pilih sendiri dan Engkau ridla pula. Berilah kami ruang hidup yang bebas di dunia ini guna menegakan kalimahMu.
Kami yang miskin dan papa ini, hari ini sujud berlutut di bawah duri kebebasan Engkau, mohon diterima menjadi hamba yang Engkau rahmati dengan perkenaan ridhoMu. Tak ada daya dan upaya, tak ada tenaga dan kekuatan, hanyalah datangnya daripada Engkau jua.

Wahai Tuhan kami!
Jangan Engkau menurunkan siksa dan bencana karena kelakukan dan kealpaan kami. jangan Engkau menimpakan adzab dan hukuman seperti yang pernah Engkau turun-timpakan kepada Umat yang terdahulu. Jangan Engkau berikan beban dan pikulan berat yang tak sanggup kami memikulnya.
Ampunilah segala dosa kami.
Ma’afkanlah kami, santunilah kami.
Engkau Adalah Tuhan dan Penolong kami. Tolonglah kami menghadapi kaum yang Kufar itu.

Tafsir Ayat Kursi dan Kandungan Ayat Serta Keutamaan Membaca Ayat Kursi

Tafsir Ayat Kursi dan Kandungan Ayat Serta Keutamaan Membaca Ayat Kursi. Sahabat Adin Blog yang saya hormati, sebuah penghargaan buat anda semua karena telah menjadikan situs ini menjadi salah satu media yang bermanfaat, (sebagai jendela dunia pendidikan, mencari referensi dan menambah wawasan keilmuan) selanjutnya kali ini penulis akan memberikan sesuatu yang bermanfaat buat kalian semua, yaitu sebuah Posting Religi dan Islami yaitu mengenai Tafsir Ayat Kursi dan Kandungan Ayat Serta Keutamaan Membaca Ayat Kursi
Ayat Kursi berbeda dengan Hadits Qudsi. Kalau Hadits Qudsi adalah Sebagian Firman Allah yang tidak dicatat di dalam Mushaf Al-Quran tetapi dicatatnya di dalam Hadits contohnya ya bila kita menemukan "qola allahu ta'ala" di dalam hadits maka itulah biasa disebut dengan Hadits Qudsi, sedangkan Ayat Kursi adalah Firman Allah SWT yang dicatatat atau dicantumkan di dalam Al-Quran Juz ke 2 yaitu di dalam Surat Al-Baqarah ayat ke 255, maka ayat kursi termasuk kedalam surat makiyah yaitu ayat Al-Quran yang diturunkan di Kota Makkah.
AYAT KURSI memiliki kedudukan khusus dalam Al-Qur'an. Bahkan Rasulullah saw. sendiri menyebutnya sebagai "ayat paling agung dalam Al-Qur'an."
Kenapa ayat ke-255 surat al-Baqarah ini begitu mulia kedudukannya? Apa makna dan kandungan ayat Kursi ini? Mufasir besar Ibnu Katsir menjelaskan secara panjang lebar dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qur'anul Al-Adim, atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibnu Katsir.
Ibnu Katsir tak hanya menjelaskan makna ayat ini yang begitu kental dengan aspek ketauhidan, tapi juga tentang manfaat besar yang diperoleh oleh muslim yang membacanya.
Untuk lebih  jelasnya mengenai tafsir ayat kursi ini, mari kita simak pembahasan tuntasnya dibawah ini :

Murotal Ayat Kursi Yang Merdu | Shaikh Mishary Alafasy + Download

Keutamaan Ayat Kursi
Ayat Kursi yang mulia dan penuh berkah ini terdiri atas sepuluh penggal kalimat. Di dalamnya terkandung tauhidullah, pengagungan terhadap-Nya serta penjelasan akan keesaan-Nya dalam kesempurnaan dan kebesaran, sehingga akan melahirkan penjagaan dan kecukupan bagi yang membacanya. Di dalam ayat ini terdapat lima Asma’ul Husna, juga terdapat lebih dari dua puluh sifat Allah, didahului dengan menyebutkan kemahaesaan Allah dalam peribadatan dan bathilnya beribadah kepada selain-Nya, kemudian disebutkan tentang kemahahidupan Allah yang sempurna yang tidak diiringi dengan kesirnaan.
Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat al-Fatihah, sedangkan ayat yang paling agung adalah ayat kursi, yaitu di surat Al-Baqarah, ayat 255. Yang akan kita pelajari bersama dalam kesempatan ini adalah ayat kursi.

Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
“Wahai Abul Mundzir (gelar kunyah Ubay), tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”
Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau berkata, “Wahai Abul Mundzir, Tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”
Aku pun menjawab,
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Maka beliau memukul dadaku dan berkata, “Demi Allah, selamat atas ilmu (yang diberikan Allah kepadamu) wahai Abul Mundzir.” (HR. Muslim no. 810)

Dalam kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata,

“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”

Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau berkata,
“Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR. al-Bukhari no. 2187)

Dalam kisah lain yang mirip dengan kisah di atas dan diriwayatkan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu, disebutkan bahwa si jin mengatakan: yang artinya :

“Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore.” (HR. ath-Thabrani no. 541, dan al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: yang artinya :
“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian.” (HR. ath-Thabrani no. 7532, dihukumi shahih oleh al-Albani)

Disunnahkan membaca ayat ini setiap (1) selesai shalat wajib, (2) pada dzikir pagi dan sore, (3) juga sebelum tidur. 

Tafsir dan Kandungan Ayat Kursi lengkap sebagaimana dijelaskan dibawah ini,

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk).”

Allah adalah nama yang paling agung milik Allah ta’ala. Allah mengawali ayat ini dengan menegaskan kalimat tauhid yang merupakan intisari ajaran Islam dan seluruh syariat sebelumnya. Maknanya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Konsekuensinya tidak boleh memberikan ibadah apapun kepada selain Allah.

Al-Hayyu dan al-Qayyum adalah dua di antara al-Asma’ al-Husna yang Allah miliki. Al-Hayyu artinya Yang hidup dengan sendirinya dan selamanya. Al-Qayyum berarti bahwa semua membutuhkan-Nya dan semua tidak bisa berdiri tanpa Dia. Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan bahwa kedua nama ini menunjukkan seluruh al-Asma’ al-Husna yang lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Hayyul Qayyum adalah nama yang paling agung. Pendapat ini dan yang sebelumnya adalah yang terkuat dalam masalah apakah nama Allah yang paling agung, dan semua nama ini ada di ayat kursi.

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

“Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur.”

Maha Suci Allah dari segala kekurangan. Dia selalu menyaksikan dan mengawasi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi darinya, dan Dia tidak lalai terhadap hamba-hamba-Nya.

Allah mendahulukan penyebutan kantuk, karena biasanya kantuk terjadi sebelum tidur.

Barangkali ada yang mengatakan, “Menafikan kantuk saja sudah cukup sehingga tidak perlu menyebut tidak tidur; karena jika mengantuk saja tidak, apalagi tidur.”

Akan tetapi, Allah menyebut keduanya, karena bisa jadi (1) orang tidur tanpa mengantuk terlebih dahulu, dan (2) orang bisa menahan kantuk, tetapi tidak bisa menahan tidur. Jadi, menafikan kantuk tidak berarti otomatis menafikan tidur.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ

“Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.”

Semesta alam ini adalah hamba dan kepunyaan Allah, serta di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bisa menjalankan suatu kehendak kecuali dengan kehendak Allah.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.”

Memberi syafaat maksudnya menjadi perantara bagi orang lain dalam mendatangkan manfaat atau mencegah bahaya. Inti syafaat di sisi Allah adalah doa. Orang yang mengharapkan syafaat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berarti mengharapkan agar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mendoakannya di sisi Allah. Ada syafaat yang khusus untuk Nabi Muhammad, seperti syafaat untuk dimulainya hisab di akhirat, dan syafaat bagi penghuni surga agar pintu surga dibukakan untuk mereka. Ada yang tidak khusus untuk Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, seperti syafaat bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak dimasukkan ke dalamnya, dan syafaat agar terangkat ke derajat yang lebih tinggi di surga.

Jadi, seorang muslim bisa memberikan syafaat untuk orang tua, anak, saudara atau sahabatnya di akhirat. Akan tetapi, syafaat hanya diberikan kepada orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan iman. Disyaratkan dua hal untuk mendapatkannya, yaitu:

    Izin Allah untuk orang yang memberi syafaat.
    Ridha Allah untuk orang yang diberi syafaat.


Oleh karena itu, seseorang tidak boleh meminta syafaat kecuali kepada Allah. Selain berdoa, hendaknya kita mewujudkan syarat mendapat syafaat; dengan meraih ridha Allah. Tentunya dengan menaatiNya menjalankan perintahNya semampu kita, dan meninggalkan semua laranganNya.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.”

Ini adalah dalil bahwa ilmu Allah meliputi seluruh makhluk, baik yang ada pada masa lampau, sekarang maupun yang akan datang. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan yang akan terjadi, bahkan hal yang ditakdirkan tidak ada, bagaimana wujudnya seandainya ada. Ilmu Allah sangat sempurna.

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ

“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang dikehendaki-Nya.”

Tidak ada yang mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah ajarkan. Demikian pula ilmu tentang dzat dan sifat-sifat Allah. Kita tidak punya jalan untuk menetapkan suatu nama atau sifat, kecuali yang Dia kehendaki untuk ditetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits.

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menafsirkan kursi dengan berkata:

الكُرْسيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ

“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah.” (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi)

Ahlussunnah menetapkan sifat-sifat seperti ini sebagaimana ditetapkan Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, sesuai dengan kegungan dan kemuliaan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.

Ayat ini menunjukkan besarnya kursi Allah dan besarnya Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْع مَعَ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْض فَلاَةٍ

“Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang.” (HR. Ibnu Hibban no.361, dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)

وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا

“Dan Allah tidak terberati pemeliharaan keduanya.”

Seorang ibu, tentu merasakan betapa lelahnya mengurus rumah sendirian. Demikian juga seorang kepala desa, camat, bupati, gubernur atau presiden dalam mengurus wilayah yang mereka pimpin. Namun, tidak demikian dengan Allah yang Maha Kuat. Pemeliharaan langit dan bumi beserta isinya sangat ringan bagi-Nya. Segala sesuatu menjadi kerdil dan sederhana di depan Allah.

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Allah memiliki kedudukan yang tinggi, dan dzat-Nya berada di ketinggian, yaitu di atas langit (di atas singgasana). Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan: “Di mana Allah?”

Ia menjawab, “Di langit.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya, “Siapa saya?”

Ia menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.”

Maka, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepada majikannya (majikan budak perempuan tersebut -ed), “Bebaskanlah ia, karena sungguh dia beriman!” (HR. Muslim no. 537)

Jelaslah bahwa keyakinan sebagian orang bahwa Allah ada dimana-mana bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits.

Demikian pula Allah memiliki kedudukan yang agung dan dzatnya juga agung sebagaimana ditunjukkan oleh keagungan kursiNya dalam ayat ini.
Di dalam ayat ini terdapat lima Asma’ul Husna, juga terdapat lebih dari dua puluh sifat Allah, didahului dengan menyebutkan kemahaesaan Allah dalam peribadatan dan bathilnya beribadah kepada selain-Nya, kemudian disebutkan tentang kemahahidupan Allah yang sempurna yang tidak diiringi dengan kesirnaan.

Disebutkan pula di dalamnya bahwa Allah adalah al-Qayyuum, yaitu Dia berdiri sendiri, tidak membutuhkan makhluk-Nya dan senantiasa mengatur seluruh urusan makhluk-Nya.  Selain itu, juga tentang kemahasucian Allah dari segala sifat yang kurang, seperti mengantuk dan tidur, mengenai luasnya kerajaan-Nya. Bahwasanya semua yang ada di langit dan bumi adalah hamba-Nya, berada di bawah kekuasaan dan aturan-Nya. Dia juga menyebutkan bahwa di antara bukti-bukti keagungan-Nya ialah tidak mungkin bagi seorang pun dari makhluk-Nya untuk memberi syafaat di sisi-Nya kecuali setelah mendapat izin dari-Nya.

Di dalamnya terdapat penetapan

sifat ilmu bagi Allah, ilmu-Nya meliputi segala yang diketahui, Dia mengetahui yang telah terjadi, yang akan terjadi dan apa yang belum terjadi, begitu pula jika sesuatu itu terjadi akan seperti apa bentuk dan rupanya. Di dalamnya juga disebutkan tentang kemahabesaran Allah dengan menyebutkan kebesaran makhluk-Nya. Jika Kursi yang merupakan salah satu dari makhluk-Nya meliputi langit dan bumi, maka bagaimana dengan Sang Pencipta yang Mahaagung dan Rabb Yang Mahabesar?

Di dalamnya juga terdapat penjelasan tentang kesempurnaan kekuasaan-Nya. Di antara bentuk kesempurnaan kekuasaan-Nya adalah tidak memberatkan-Nya penjagaan terhadap langit dan bumi. Kemudian ayat ini ditutup dengan menyebutkan dua nama Allah yang agung, yaitu al-‘Aly dan al-‘Azhiim. Di dalamnya mengandung penetapan akan kemahatinggian Allah, baik Dzat dan kekuasaan-Nya, juga penetapan kemahabesaran-Nya, dengan mengimani bahwa Dia memiliki segala makna kebesaran dan keagungan, tidak ada seorang pun yang berhak atas pengagungan dan pemuliaan selain Dia.

Inilah kandungan global dari Ayat Kursi. Ayat yang agung ini mengandung makna-makna agung dan  bukti-bukti mendalam serta rambu-rambu keimanan yang menunjukkan kebesaran dan keagungan-Nya.

Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “Ayat yang mulia ini adalah ayat al-Qur’an yang paling agung dan yang paling utama.  Hal ini dikarenakan kandungannya yang memuat perkara-perkara yang agung dan sifat-sifat yang mulia. Oleh karena itu, banyak hadits yang menganjurkan untuk membacanya dan menjadikannya sebagai wirid harian bagi manusia pada waktu-waktu yang dijalaninya, baik pagi maupun petang, juga ketika menjelang tidur dan setelah menunaikan shalat lima waktu.

Allah memberitakan tentang diri-Nya yang mulia bahwa Dia ‘Laa ilaaha illa huwa’. Maksudnya tiada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia. Dialah satu-satunya ilah yang berhak diibadahi, yang mengharuskan tertujunya seluruh bentuk peribadatan, ketaatan dan penyembahan hanya kepada-Nya. Ini karena kesempurnaan-Nya dan kesempurnaan sifat-Nya serta karena besarnya nikmat-Nya. Di samping itu, kewajiban makhluk adalah menjadi hamba-Nya, menerapkan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Seluruh sembahan selain Allah adalah bathil, beribadah kepada selain Dia pun bathil. Ini disebabkan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang memiliki sifat-sifat yang kurang, diatur, dan membutuhkan yang lain dalam segala segi. Maka dari itu, makhluk tidak berhak sedikitpun untuk diibadahi. Adapun firman-Nya ‘Al-Hayyul Qayyuum’, dua nama mulia ini menunjukkan kepada seluruh asma’ul husna secara muthabaqah (adekusi), tadhammun (inklusi) dan luzum (konsekuensi). Sifat al-Hayyu Yang Mahahidup menunjukkan kepada Dzat yang memiliki sifat hidup yang sempurna, yang mencakup semua sifat-sifat Dzat seperti Maha Mendengar, maha Melihat, Maha Berilmu, Mahakuasa dan semisalnya.

Al-Qayyuum Yang Maha Berdiri sendiri, Dialah yang tegak dengan kesendirian-Nya dan Yang Menegakkan yang lain. Sifat ini mencakup seluruh perbuatan yang dikerjakan oleh Rabbul Alamin, seperti istiwaa (bersemayam), nuzul (turun ke langit bumi pada sepertiga malam terakhir*), kalam (Berfirman), mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, dan segala bentuk pengaturan. Semua itu tercakup dalam asma-Nya, al-Qayyuum. Oleh karena itu sebagian ulama berkata, “Dua nama ini adalah asma Allah yang paling agung . Jika dipanggil dengan menyebut asma ini, niscaya Dia akan menjawab dan jika meminta dengan menyebut nama-Nya ini, niscaya Dia akan memberi.”

Di antara bentuk kesempurnaan sifat hidup dan berdiri sendiri-Nya ini ialah Dia tidak tersentuh oleh kantuk dan tidur. Milik-Nyalah segala yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang memiliki, sedangkan selain-Nya adalah yang dimiliki. Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Pengatur, sedangkan selain-Nya adalah diciptakan, diberi rizki dan diatur.

Mereka tidak memiliki sedikit pun, walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi), sesuatu yang berada di langit maupun di bumi, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.

Oleh karena itu, Allah berfirman, “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” Maksudnya tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafaat di sisi-Nya tanpa izin dari-Nya. Syafaat itu seluruhnya hanya milik Allah semata. Akan tetapi, jika Allah berkehendak untuk merahmati siapa pun yang dikehendaki-Nya, Dia akan mengizinkan kepada salah seorang yang dimuliakan-Nya untuk memberikan syafaat kepadanya. Seorang pemberi syafaat tidak akan berani memulai memberi syafaat tanpa izin dari-Nya.

Kemudian Allah berfirman, “Dia Maha Mengetahui apa yang berada di hadapan mereka,” yaitu segala sesuatu yang telah berlalu, “dan apa yang berada di belakang mereka,” yaitu apa yang akan terjadi. Ilmu Allah meliputi segala perkara secara rinci, yang permulaan dan yang paling akhir, yang tampak dan yang tersembunyi, yang ghaib maupun yang nyata. Adapun hamba, mereka tidak memiliki hak sedikitpun untuk mengurus hal ini dan tidak memiliki ilmu sedikitpun, kecuali apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka.

Oleh karena itu Allah berfirman, “…dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi…” Ini menunjukkan kesempurnaan keagungan-Nya dan luasnya kekuasaan-Nya. Kursi-Nya saja sedemikian besar yaitu meliputi langit dan bumi, sementara keduanya ini sangat besar dan sangat banyak pula penghuni keduanya. Kursi bukanlah makhluk Allah yang terbesar, bahkan masih ada lagi yang lebih besar darinya, yaitu ‘Arsy dan juga yang lainnya yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Kebesaran makhluk-makhluk tersebut membuat akal pikiran menjadi bingung dan tiap-tiap pandangan menjadi tumpul, gunung-gunung bergerak, dan orang-orang pandai terangguk-angguk.

Bagaimana jika dihadapkan dengan penciptanya? Yang menyertakan pada penciptaannya hikmah dan rahasia yang dikehendaki-Nya. Yang menahan langit dan bumi agar tidak bergerak dengan tanpa merasa lelah dan letih. Oleh karena itu Dia berfirman, “…dan Dia tidak merasa berat dalam menjaga keduanya, dan Dia Mahatinggi…” dengan Dzat-Nya Dia bersemayam di atas ‘Arsy, yang Mahatinggi dengan kekuasaan-Nya terhadap seluruh makhluk, Yang Mahatinggi dengan kekuasaan-Nya karena kesempurnaan sifat-Nya. Mahabesar sehingga menjadi kecil dan remeh kedaulatan para diktator jika dihadapkan dengan kebesaran kekuasaan-Nya, kesombongan raja-raja yang congkak menjadi kecil di samping keagungan-Nya. Mahasuci Dzat yang memiliki kebesaran yang Agung nan tiada tara, Yang menundukkan dan menguasai segala sesuatu.” [Tafsir as-Sa’di hal. 110]

Kesimpulan Point dari Pembahasan di atas adalah :
  • Semua ayat al-Qur’an agung. Adapun ayat yang paling agung adalah ayat kursi.
  • Disunnahkan untuk membaca ayat ini setiap selesai shalat wajib, pada dzikir pagi dan sore, dan sebelum tidur.
  • Penegasan kalimat tauhid.
  • Arti al-Hayyu dan al-Qayyum yang menunjukkan seluruh nama Allah yang lain.
  • Semua bentuk kekurangan harus dinafikan dari Allah.
  • Arti syafaat dan syarat memperolehnya.
  • Ilmu Allah sangat sempurna.
  • Kita hanya menetapkan untuk Allah nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya, tanpa menyerupakannya dengan nama dan sifat makhluk.
  • Arti dan keagungan kursi Allah.
  • Ketinggian dan keagungan Allah dalam dzat dan kedudukan.
  • Kesalahan orang yang mengatakan Allah ada di mana-mana.
  • Penetapan banyak nama dan sifat Allah yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.

Pengunjung