Motif Sosial

Motif adalah dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan. Misalnya apabila seseorang merasa lapar, itu berarti ia membutuhkan makanan. Motif menunjukan hubungan sistematik antara suatu respon atau suatu himpunan respon dengan keadaan dorongan tertentu.

Gerungan (1966)
     Motif itu merupakan suatu pengertian yang melengkapi semua penggerak alasan-alasan atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu.
Lindzey, Hll and Thompson (1975)
     Motif adalah sesuatu yang menimbulkan tingkah laku
Atkinson (1958) 
     Motif sebagai suatu difosisi laten yang berusaha dengan kuat untuk menunjuk ke tujuan tertentu, tujuan ini dapat berupa prestasi, aflisiasi ataupun kekuasaan.

Definisi motif sosial 
Lindgren (1969)
     Motif sosial adalah motif yang dipelajari melalui kontak dengan orang lain, dan  lingkungan individu memegang peranan yang penting
Barkowiz ((1969) 
     Motif sosial adalah yang mendasari aktivitas individu dalam mereaksi terhadap orang lain
Max Crimon dan Messick (1976) 
     Menyatakan bahwa seseorang dikatakan menunjukan motif sosial, jika ia dalam membuat pilihan memperhitungkan akibatnya bagi orang lain.
Dapat didefinisikan bahwa motif sosial adalah motif yang timbul untuk memenuhi kebutuhan individu dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya.
Apa sebabnya individu berbuat sesuatu? Individu ada yang menggerakan yaitu motif. Apa sebabnya dalam individu timbul motif? Motif timbul karena adanya kebutuhan/ need
Kebutuhan (need) dapat dipandang sebagai kekuarangan adanya sesuatu, hal ini menuntut segera pemenuhannya untuk segera mendapatkan keseimbangan. Situasi kekuarangan ini berfungsi sebagai kekuatan atau dorongan untuk memenuhi kebutuhan

Kebutuhan/need      motif   perilaku

1. Makan                     1. Lapar               1. Makan
2. Oksigen                   2. Sesak nafas     2. Bernafas
3. Air                            3. Haus                3. Minum

Motif dan kebutuhan mempunyai hubungan kausal, sesuai dengan jenis kebutuhannya sheriff membedakan motif atas
Biogenetic motive (primer)
      Motif yang berasal dari kebutuhan biologis makhluk hidup. Motif ini terdapat dalam lingkungan internal, dan tidak banyak tergantung pada lingkungan di luar dari diri individu itu. Motif ini berkembang dengan sendirinya.
Sosiogenetic motive (sekunder)
      Motiv ini timbul didalam diri individu dalam hubungannya dengan lingkungan sosial. Timbulnya motif ini karena interaksi dengan orang lain. Namun motive sosiogenetis bukan merupakan motive yang sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan tetapi perpaduan antara lingkungan dengan individu.

Motif sosial dan macam macamnya
Merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak,alasan-alasan atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Motif manusia dapat bekerja secara sadar dan juga secara tidak sadar bagi diri manusia untuk dapat mengerti dan memahami tingkah laku manusia dengan lebih sempurna, perlu dan memahami terlebih dahulu apa dan bagaimana motif dari tingkah lakunya. 
Dalam mempelajari tingkah laku manusia pada umumnya, harus mengetahui know what, know how dan know why dari tingkah lakunya. Dengan mempelajari motif kita dapat mengetahui mengapa seseorang berbuat sesuatu.
Motif dan drive kadang-kadang digunakan secara bergantian. Drive pada umumnya digunakan untuk menunjukan kebutuhan fisik  atau sering disebut physiological drive sedangkan motif digunakan untuk menunjukan kebutuhan sosial sehingga digunakan istilah motif sosial.

Macam-macam motif
Motif biogenetis 
      Merupakan motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme orang demi kelanjutan hidupnya secara biologis. Motif ini bersifat universal dan kurang terikat pada lingkungan kerbudayaan tempat manusia itu berada dan berkembang. Motif biognetis adalah asli di daalam diri manusiadan berkembang dengan sendirinya.
Motif sosiogenetis 
      Adalah motif yang dipelajari dan berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang. Motif sosiogenetis tidak berkembang dengan sendirinya, tetapi berdasarkan interaksi sosial.
Motif teogenetis 
      Yaitu metif manusia sebagai mahluk yang bertuhan. Motif ini berasal dari interaksi manusia dengan tuhannya seperti dalam melakukan peribadatan.

Cara Memotivasi
1) Memotivasi dengan kekerasan atau motivating by force
    Memotivasi ini biasanya berjalan dengan adanya sanksi atau hukuman, dampaknya adalah orang akan cenderung memiliki sifat ketergantungan dan kurang mampu menimbulkan kesadaran.
2) Memotavasi dengan bujukan atau motivating by etince  
    Berupa memberikan bujukan atau memberikan suatu hadiah, bila orang tersebut mengerjakan sesuatu. Bujukan atau hadiah. 
3) Memotivasi dengan Identifikasi atau motivation by Identivication
     Meotafasi ini merupakan cara terbaik untuk memotifasi orang lain . Dalam  hal ini mereka akan berbuat sesuatu dengan percaya diri

Faktor yang mempengaruhi Motif sosial
Teeven and Smith mengemukakan adanya empat unsure perkembangan motif sosiaal yaitu:
Interaksi ibu dan anak
Interaksi anak dengan seluruh keluarga
Interaksi anak dengan masyarakat luas
Pendidikan formal

La vine (1977) yang  mengemukakan bahwa kebudayaan dalam masyarakat yang berupa kebiasaan-kebiasaan akan mempengaruhi motif sosial. 
Murray  (1964) mengatakan bahwa motif sosial sangat dipengaruhi oleh cara-cara mengasuh anak.  

PEMBELAJARAN INDIVIDUAL DAN PEMBELAJARAN KELOMPOK


PEMBELAJARAN INDIVIDUAL DAN
PEMBELAJARAN KELOMPOK

Hamzah B. Uno (2008 : ) mendefinisikan pembelajaran (learning) adalah suatu kegiatan yang berupaya membelajarkan siswa secara terintegrasi dengan memperhitungkan faktor lingkungan belajar, karakteristik siswa, karakteristik bidang studi, serta berbagai strategi pembelajaran baik penyampaian, pengelolaan, maupun pengorganisasian pembelajaran.

A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Menurut Wina Sanjaya, pembelajaran individual dan pembelajaran kelompok merupakan suatu strategi pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran menurut J.R. David (1976) dalam Sanjaya (2006:126) dalam dunia pendidikan strategi dapat didefinisikan sebagai “a plan method, or series of activities designed to achieves a particular aducational goal.”. Strategi dapat didefinisikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Menurut Wina Sanjaya (2008 : 3) dari pengertian diatas terdapat dua hal yang harus kita cermati, pertama strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Kedua strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan menurut Hamzah B. Uno (2008 : 3) Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Kemp (1995) dalam Sanjaya (2006:126) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Sementara itu Dick and Carey (1985) dalam Sanjaya (2006:126) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Memperhatikan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan rencana yang berisi tentang prosedur, langkah-langkah yang didesain sedemikian rupa oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Definisi di atas menjelaskan pula kepada kita bahwa pembelajaran tidak dapat dilakukan secara sembarangan, pembelajaran memerlukan ketelitian, ketepatan dan kecerdikan seorang pengajar dalam memutuskan rencana-rencana apakah yang akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran.
Hasil akhir yang hendak dicapai dari penggunaan strategi pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dengan demikian strategi apapun yang akan digunakan dalam pembelajaran, tentunya dipakai dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

B. Pembelajaran Individual (Individual Learning)
1. Pengertian pembelajaran individual
Pembelajaran individual merupakan suatu strategi pembelajaran, hal ini dijelaskan oleh Rowntree (1974) dalam Sanjaya (2008 : 128) membagi strategi pembelajaran ke dalam strategi penyampaian-penemuan atau exposition-discovery leraning strategy dan strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembelajaran individual atau groups-individual learning strategy.
Menurut Wina Sanjaya (2008:128) strategi pembelajaran individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan dan keberrhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan. Bahan pembelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri.
Pada strategi pembelajaran individual ini siswa dituntut dapat belajar secara mandiri, tanpa adanya kerjasama dengan orang lain. Sisi positif penggunaan strategi ini adalah terbangunya rasa percaya diri siswa, siswa menjadi mandiri dalam melaksanakan pembelajaran, siswa tidak memiliki ketergantungan pada orang lain. Namun di sisi lain terdapat kelemahan strategi pembelajaran ini, diantaranya jika siswa menemukan kendala dalam pembelajaran, minat dan perhatian siswa justru dikhawatirkan berkurang karena kurangnya komunikasi belajar antar siswa, sementara enggan beratanya kepada guru, tidak membiasakan siswa bekerjasama dalam sebuah team.
Sedangkan menurut Sudjana (2009 : 116) Pengajaran individual merupakan suatu upaya untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, kecepatan dan caranya sendiri.
Menurut Sudjana, Perbedaan-perbedaan individu dapat dilihat dari :
1. Perkembangan intelektual
2. Kemampuan berbahasa
3. Latar belakang pengalaman
4. Gaya belajar
5. Bakat dan minat
6. Kepribadian
Pembelajaran individu berorientasi pada individu dan pengembangan diri. Pendekatan ini memfokuskan pada proses dimana individu membangun dan mengorganisasikan dirinya secara realitas bersifat unik. (Hamzah B. Uno, 2008 : 16)
Menurut Muhammad Ali (2000 : 94) strategi belajar mengajar individual disamping memungkinkan setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan potensinya, juga memungkinkan setiap siswa menguasai seluruh bahan pelajaran secara penuh. “mastery learning “ atau belajar tuntas.
Strategi pengajaran yang menganut konsep belajar tuntas, sangat mementingkan perhatian terhadap perbedaan individual. Atas dasar ini sistem penyampaian pengajaran dilakukan dengan mengarah kepada siswa belajar secara individual. Muhammad Ali (2000 : 99)

2. Model-model pembelajaran individual
Menurut Hamzah B. Uno (2008 : 18), ada beberapa model pembelajaran yang termasuk pada pendekatan pembelajaran individual, diantaranya adalah model pembelajaran pengajaran tidak langsung (non directive teaching), model pembelajaran pelatihan kesadaran (awareness training), sinektik, sistem konseptual, dan model pembelajaran pertemuan kelas (clasroom meeting).
Berikut adalah model-model pembelajaran yang lain :
• Distance learning (pembelajaran jarak jauh)
• Resource-based learning (pembelajaran langsung dari sumber)
• Computer-based training (pelatihan berbasis komputer)
• Directed private study (belajar secara privat langsung)
3. Keuntungan-keuntungan dan kelemahan pembelajaran individual
Keuntungan-keuntungan:
• Pembelajaran tidak dibatasi waktu
• Siswa dapat belajar secara tuntas
• Perbedaan-perbedaan yang banyak di antara para peserta dipertimbangkan
• Para peserta didik dapat bekerja sesuai dengan tahapan mereka dengan waktu yang dapat mereka sesuaikan
• Gaya-gaya pembelajaran yang berbeda dapat diakomodasi
• Hemat untuk peserta dalam jumlah besar
• Para peserta didik dapat lebih terkontrol mengenai bagaimana dan apa yang mereka pelajari
• Merupakan proses belajar yang bersifat aktif bukan pasif
Beberapa kelemahan:
• Memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan bahan-bahan
• Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan
• Peran instruktur perlu berubah
• Keberhasilan tujuan pembelajaran kurang tercapai, karena tidak ada tempat untuk siswa bertanya

C. Pembelajaran Kelompok (Cooperative Learning)
1. Pengertian pembelajaran kelompok (Cooperative Learning)
Menurut Wina Sanjaya (2008 : 129) belajar kelompok dilakukan secara beregu. Sekelompok siswa diajar oleh orang atau beberapa orang guru. Bentuk pembelajarannya dapat berupa kelompok besar atau pembelajaran klasikal; atau bisa juga siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Strategi kelompok tidak memperhatikan kecepatan belajar individual, setiap individu dianggap sama.
Menurut Wina Sanjaya (2011 : 242) Pembelajaran kelompok merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).
Slavin dalam Wina Sanjaya (2011 : 242) mengemukakan dua alasan pentingnya pembelajaran kelompok digunakan dalam pendidikan, pertama beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.
Depdiknas dalam Kokom Komalasari (2010 : 62) Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Bern dan Erickson dalam Kokom Komalasari (2010 : 62) mengemukakan bahwa cooperative learning merupakan stategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil dimana siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, strategi pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai salah satu satrategi pembelajaran yang menuntut adanya kerjasama siswa dalam suatu kelompok dengan mengembangkan kemampuan tiap individu serta memanfaatkan berbagai faktor internal dan eksternal untuk memecahkan masalah tertentu sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai bersama.

2. Model-model Pembelajaran Kelompok
Menurut Kokom Komalasari, (2010 : 62) model pembelajaran kooperatif meliputi Kepala bernomor, skrip kooperatif, tim siswa kelompok prestasi, berpikir berpasangan berbagi, model jigsaw, melempar bola salju, tim TGT, kooperatif terpadu membaca dan menulis, dan dua tinggal dua tamu.
Berikut adalah model-model pembelajaran kelompok :
a. Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Guru membagi siswa dalam kelompok kecil dengan jumlah anggota empat sampai enam orang, kemudian guru menyajikan suatu materi dengan metode tradisional (ceramah, demontrasi, eksperimen, atau membahas buku teks). Materi dirancang untuk pembelajaran kelompok. Siswa secara kolaboratif mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk lembar kerja siswa. Setiap anggota kelompok saling membantu dan bertanggung jawab atas keberhasilan anggotanya. Setiap anggota kelompok menyimpulkan, merenungkan kembali apa yang telah diberikan untuk menyiapkan tes individu. Setelah diperiksa semua nilai individu
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.

b. Number Heads Together (NHT)
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil (4-6 orang). Dalam setiap kelompok siswa memiliki nomor diri. Guru memberi tugas kelompok, kemudian siswa membahas atau mengerjakan tugas kelompok. Dalam diskusi kelas guru memanggil nomor diri siswa dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan, setiap jawaban siswa diberi skor sebagai skor kelompok. Dalam kegiatan diskusi, guru memberikan reinforcement (penguatan kembali), pada konsep-konsep yang ditemukan siswa sebagai kesimpulan dan guru mengumumkan kelompok terbaik hari itu.
Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6. Kesimpulan.
Kelebihan:
1. Setiap siswa menjadi siap semua.
2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Kelemahan:
4. Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
5. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

c. Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.
d. Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada lima komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu: 1). Penyajian kelas, 2). Kelompok (team), 3). Game, 4). Turnamen, 5). Team recognize (penghargaan kelompok)

d. Assisted Individualization (AI)
Siswa secara individu bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dalam jumlah tertentu, selanjutnya siswa dengan kemampuan unggul diminta untuk memeriksa jawaban yang dibuat anggota lainnya, dan memberikan layanan kepada anggoota kelompoknya apabila ada kesulitan, sehingga soal-soal yang diberikan dapat terjawab sebanyak jumlah yang ditentukan.
e. Learning Together
Pembentukkan kelompok dengan anggota yang heterogen. Pemberian tugas sebagai proyek kelompok, setiap kelompok berdiskusi dan saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, hasil kegiatan kelompok merupakan hasil tunggal yang berarti nilai hasil kegiatan kelompok adalah nilai untuk setiap anggota kelompok.
f. Group Investigation (GI)
Siswa terbentuk dalam kelompok yang heterogen terlibat dalam beberapa hal yakni pemilihan topik yang dipelajari, penelitian terhadap topik tersebut dipresentasikan. Guru dan siswa merancang secara khusus prosedur pemberian tugas dan tujuan yang sesuai dengan topik yang akan dipelajari. Pembelajaran harus meliputi aktivitas dan keterampilan yang berbeda baik dari dalam maupun luar sekolah. Setelah itu siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang dipeoleh serta menyimpulkannya.
1. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
Seleksi topik
2. Merencanakan kerjasama
3. Implementasi
4. Analisis dan sintesis
5. Penyajian hasil akhir
6. Evaluasi

3. Keuntungan-keuntungan dan kelemahan pembelajaran kelompok
Keuntungan –keuntungan :
1) Melalui pembelajaran kelompok siswa tidak selalu tergantung kepada guru
2) Melatih kemampuan komunikasi siswa dengan cara mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan
3) Membantu siswa untuk respek kepada orang lain
4) Dapat meningkatkan prestasi akademik siswa
5) Meningkatkan motivasi dan rangsangan untuk berfikir
Kelemahan :
1) Pembelajaran kelompok membatasi siswa yang berkemampuan tinggi dalam waktu belajar
2) Dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa
3) Penilaian yang diberikan berdasarkan hasil kerja kelompok.


DAFTAR PUSTAKA

Wina Sanjaya (2008), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Kencana
Wina Sanjaya (2011), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Kencana
Kokom Komalasari (2010), Pembelajaran Kontekstual,Bandung, Refika Aditama
Hamzah B. Uno (2008), Model Pembelajaran,Jakarta, Bumi Aksara
Nana Sudjana (2009), Teknologi Pengajaran, Bandung, Sinar Baru
Muhammad Ali (2000), Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru

Communicative Theory |Teori komunikatif

Communicative Theory

Language is verbal tool which is used for communication and spoken language is the process of conveying information in communication.

Ruben (1984) says that communication is any “information related behavior. 

Dale (1969) says it is the “sharing of ideas and feelings in a mood of mutuality.”

Berelson and Steiner (1964): “The transmission of information, ideas, emotions and skills…by the use of symbols,” 

Theodorson and Theodorson (1969):“the transmission of information, ideas, attitudes, or emotion from one person or group to another…primarily through symbols.”

Structures
Communicative action for Habermas is possible given human capacity for rationality. This rationality, however, is "no longer tied to, and limited by, the subjectivistic and individualistic premises of modern philosophy and social theory."[1]:vi Instead, Habermas situates rationality as a capacity inherent within language, especially in the form of argumentation. "We use the term argumentation for that type of speech in which participants thematize contested validity claims and attempt to vindicate or criticize them through argumentation."[1]:18 The structures of argumentative speech, which Habermas identifies as the absence of coercive force, the mutual search for understanding, and the compelling power of the better argument, form the key features from which intersubjective rationality can make communication possible. Action undertaken by participants through a process of such argumentative communication can be assessed as to their rationality to the extent which they fulfill those criteria.

Another radical critique is that of Nikolas Kompridis, a former student of Habermas, who views Habermas' theory as another attempt to arrive at a "view from nowhere", this time by locating rationality in procedures of reaching agreement independent of any particular participants' perspective or background. In response, he proposes a "possibility-disclosing" role of reason to correct the problems with Habermas' work.

Social implications
Habermas' earlier work, The Structural Transformation of the Public Sphere, anticipates his concern for argumentation and can be read retrospectively as a historical case study of Western European societies institutionalizing aspects of communicative action in the political and social spheres. Habermas notes the rise of institutions of public debate in late seventeenth and eighteenth century Britain and France especially. In these nations, information exchange and communication methods pioneered by capitalist merchants became adapted to novel purposes and were employed as an outlet for the public use of reason. The notion of communicative rationality in the public sphere is therefore heavily indebted to Immanuel Kant's formulation of the public use of reason in What is Enlightenment? Habermas argues that the bourgeoisie who participated in this incipient public sphere universalized those aspects of their class that enabled them to present the public sphere as inclusive—he even goes so far as to say that a public sphere that operates upon principles of exclusivity is not a public sphere at all.[3] The focus on foundations of democracy established in this work carried over to his later examination in The Theory of Communicative Action that greater democratization and the reduction to barriers to participation in public discourse (some of which he identified in the first public sphere of the Enlightenment) could open the door to a more open form of social action. The shift from a more Marxist focus on the economic bases of discourse in Structural Transformation to a more "super-structural" emphasis on language and communication in Theory of Communicative Action signals Habermas' transition to a post-Marxist framework.
Much of Habermas' work has been in response to his predecessors in the Frankfurt School. Communicative rationality, for instance, can be seen as a response to the critique of enlightenment reason expressed in Max Horkheimer and T.W. Adorno's Dialectic of Enlightenment. Horkheimer and Adorno had argued that the Enlightenment saw a particular kind of rationality enshrined as dominant in western culture, instrumental reason, which had only made possible the more effective and ruthless manipulation of nature and human beings themselves.[2] Habermas' form of critical theory is designed to rediscover through the analysis of positive potentials for human rationality in the medium of language, the possibility of a critical form of reason that can lead to reflection and examination of not only objective questions, but also those of social norms, human values, and even aesthetic expression of subjectivity.

Language processing in mind | Proses dalam Pikiran Bahasa


Language processing in mind

I.  the scope of psycholinguistics

--two core questions:
 what knowledge of language is needed for us to use language?
 What cognitive processes (perception, memory and thinking) are involved in the use of language?

II.                Psychological Mechanisms

2.1 information processing system
                  


2.1.1        sensory stores
--incoming information first enters sm, which retain them , for a brief time, in raw unanalyzed form.
2.1.2        working memory
--limited in size; it can hold approximately 7 plus or minus 2 whatever units of information, average 5
2.1.3        permanent memory
--acts as a permanent storehouse for meaningful information
--have a limitless storage capacity
--information is stored on the base of meaning and importance , not sound.
--when new information enters wm, some old information will be retrieved from pm to the working memory so that this new information can be coded as meaningful or not by relating it to the old information.

2.1.4        summary
--the information processing mechanism consist of sensory stores, working memory, permanent memory and a set of control processes.

2.2 central issues in language processing
2.2.1        serial processing vs. parallel processing
Serial processing
--Based on the electronic computer, which tend to executive processes rapidly in a serial manner.
--If a group of processes takes place one at a time, with none overlapping, it is called serial processing.
2.2.2        modularity
--modularity has 2 meanings.
1)   independence of the lang processing system from the general cognitive system. --Eg. Chomsky
--the speech perception is a special lg module . the properties belong to the perception of speech but not to the perception of say, music.
2)   the ling subsystems, such as semantics, syntax, operate independently rather than interactively.
--eg. in comprehending a sentence, we apply syntactic principles first, than semantic knowledge. (the interactive view is that we use the knowledge in syntactic and semantic simultaneously.)

III.            Word perception

3.1 dimension of word knowledge
3.2 organization of the internal lexicon—spreading activation models
3.2.1        the concept of a semantic network
--Biologically, the brain is composed of neurons that are connected to other neurons and that these connections can be either facilitative or inhibitory.
3.2.2        spreading activation models
--Collins and Loftus (1975)
--the organization of the internal lexicon
--such relations are not equal; some nodes are more accessible than other and the degree of accessibility is related to factor such as frequency and typicality.
--by Bock and Levelt (1994)
1)  our knowledge of words exists at three levels.
2)  The conceptual level: similar to the Collins and Loftus model. Consisting of nodes that represent concept; nodes are connected to other nodes by various relations.
3)  Lemma level
--a lemma refers to syntactic aspects of word knowledge (such as part of speech, gender, and subject requirement such an animate subject?)
--e.g.
4)  lexeme level: phonological properties of a word (phonemes and pronunciation) 
3.3 lexical access
3.3.1        cohort model
--by Marslen-Wilson (1987, 1990)
1)    --designed specifically to account for auditory word recognition.
2)    finally the recognized word is fit into the connected discourse.
3.3.2        variables that influence lexical access
1)  word frequency
Low frequency words take longer time to be retrieved.
2)  morphological complexity
Response time (in experiments such as eye-fixation, retrieving affixes to change word part of speech) was longer for affixed words than words without affixes.
  E.g. in retrieving ‘decision’, we retrieve ‘decide’ and ‘–sion’ and then combine them.

3)  semantic priming (semantic association)
--Semantic priming: ~ occurs when a word presented earlier activates another, semantically related word.

4)  lexical ambiguity
Lexical Ambiguity has generated a substantial amount of research because it raises a number of intriguing Questions.
Summary (Lexical Access)
1.            Lexical access influenced by factors including frequency, phonological structural, syntactic categories, morphological structural, the presence of semantically related words and the existence of alternative meanings of the words.
2.            Common words and meaning appear to be in a state of greater readiness then less frequency word and meaning.
3.            ambiguous word: we briefly consider all meanings of an ambiguous word. However, when a preceding context primes the most dominant meaning of ambiguous word, lexical access may be selective.

IV.             Sentence Comprehension and Memory

Most, you barely notice their structure.
Some, the wording is so cumbersome that you’ll struggle to unravel what’s been said.
We often forget the exact words used to convey a message.
Some sentences linger in our memories for years.
n  Comprehension involves attention to syntactic, semantic, pragmatic factors.

4.      Immediate Processing of Sentences
4.1 Parsing
4.1.1 Def. – The first step in understanding a sentence is a procedure to assign elements of the sentence surface.

4.1.2  Immediacy Principle
Tust & Carpenter (1980): in Parsing we are making decisions though not necessarily
in a conscious manner, about which to place incoming words in the tree diagram we
are building.
4.1.3 Parsing Strategies
4.1.3.1 Late closure strategies
e.g.  Tom said that Bill had taken the cleaning out yesterday.
--- Whenever possible, we prefer to attach new items to the current constituent, i.e., to reduce the burden on working memory during parsing.
4.1.3.2 Minimal Attachment Strategy
--- We prefer attaching new items into the tree diagram being constructed using the fewest syntactic nodes.
5.      Memory for sentences
In natural discourse, it’s unlikely that we can retain all of sentences accurately since one sentence follows another in a successive flow.
In this part, we’ll examine what we remember and what we don’t remember for sentences.
5.1 Memory for meaning VS. surface form
5.1.1 Question: Whether we retain the exact form of a sentence or simply its meaning?
5.1.2 Retention interval in memory
5.1.3 Pragmatic factors
In some case, we seem to remember the exact form of what’s said, puzzling, confusing, insulting liger for years in our memory.
--- Holtgraves 1997

6. Discourse processing
6.0 strategies to establish coherence
The comprehension of discourse depends less on the meaning of individual sentences than on their arrangement.
6.0.1 Given/new strategy
--- this strategy status: a process of understanding a sentence in a discourse context involves 3 stages:
6.0.2 Direct Match
e.g. Zak hopped into a waiting car and sped around the corner. He swerved to avoid the parked car and smashed into a building.
e.g. Zak hopped into a waiting car. The old car lost a wheel and smashed into a building.
6.0.3 Bridging
--- In some cases, people must make an inference to bridge the gap between the target sentence and antecedents.
e.g. Last Christmas he went to a lot of parties.
   Comprehension:   Last Christmas he got absolutely smashed.
This Christmas he goes very drunk again.
6.0.4 Reinstating old info.
Example: S1:  I’m trying to find a black dog. He’s short and has a dog tag on his neck that says Fred. Yesterday he bit a little girl. She was scared but she wasn’t really hurt.
        S2:  yesterday, a black dog bit a little girl. It got away and we’re still trying to find it. He is short…. She was scared but…..

6.1 Schemata and Discourse Processing
6.1.1 Def.
Schema: a structure in semantic memory that specifies the general or expected arrangement of a body of info.     Context schema
                             Structure schema – genre
                
6.1.2 Activation of appropriate schemata (context schema)
--- Lack the appropriate schema: comprehension and memory are poor.
Experiment: Bartlett (1932) found it’s hard for British college student to understand Eskimo folk tales.
--- Even if one has the appropriate schema, but if one fails to activate them, comprehension and memory are poor. (course book P.207)

6.2 Narrative discourse Processing—story grammar
--- Some schemata concerns certain forms of discourse. A type of discourse which has a characteristic structure      genre. Genres provide general expectations regarding the way info in a discourse will be arranged.
6.2.1 Story grammar
--- ~ is a schema in semantic memory that identifies the typical or expected arrangement of events in a story.

7. Perception of Written Language
7.1 Levels of written language process
Processing written language exists at 3 levels—feature level, letter l, and word l
1)      At feature level, the stimulus is represented in terms of the physical features that comprise a letter of alphabet.
2)      At letter level, the stimulus is represented more abstractly as an identity separate from its physical manifestation:
3)      As the word is recognized, various properties of the words (spelling, pronunciation meaning) become available to us.
7.2 Eye moments during Reading
All these three above pieces of visual info are extracted through a series of eye movement.
1)      Saccades:
2)      Regression:
3)      Fixation:
4)      Span of fixation (perceptual span):
5)      Reading speed is determined by the duration of our fixations. The span of material fixated and the proportion of regressive eye movement.

8. Production of Speech and Writing
8.1 Slips of Tongue
--- Collect speech errors in spontaneous speech (live TV or radio)
--- Determine whether there are consistent patterns in when and how they occur.
--- Why study errors?
8 basic types of speech errors
1)      Shift
e.g. That’s so she’ll be ready in case she decide to hits it
2)      Exchange
e.g. Fancy getting your model renosed. (nose  remodeled)
3)      Anticipation
e.g.  B(T)ake my bike.
4)      Preservation
e.g.  He pulled a p(t)antrum.
5)      Addition
E.g.  I didn’t explain this c(l)arefully enough.
6)      Deletion
e.g.   I’ll just get up and mutter (un)intelligible.
7)      Substitution
e.g.  At low speed it’s too light (heavy).
8)      Blend
e.g.  That child is looking to be spaddled. (spanked + paddled)

8.2 Garrett (1984) 5 stages in speaking a sentence
e.g  to produce sentence: She’s already packed two trunks.
1.      Massage-level representation
2.      Functional-level R
3.      Positional-level R
4.      Phonetic-level R
9. Production of Written Language
9.1 Issue: writing product vs. writing process
--- writing-as-a process approach
9.2 F&H
9.3 B&S’s model of the writing-process
--- proposing that: the writing process cannot assume a single processing model, but should consider different processing models at different developed stages.
--- focus more an describing why and how skilled and less-skilled writer compose differently.
--- 2 models: Knowledge-telling model
           Knowledge-transforming model.

Tahu Bulat Khas Tasikmalaya | Distributor Se-Periangan Timur Jawa Barat dan Sekitarnya

Tahu Bulat Khas Tasikmalaya. Adin Blog yang saya cintai kali ini, saya ingin memperkenalkan lahan bisnis kepada anda yang berminat berbisnis dalam bidang menjual tahu bulat, Penghasilannya lumayan lo, adapun modal wajib dalam berbisnis ini adalah (1) peralatan menggoreng lengkap, (2) Elatase kecil untuk menjajakan/menghidangkan tahu bulat yang sudah matang (3) tahu bulat mentah untuk di goreng. (untuk bahan ini, modal awal cukup dengan Rp. 70.000,- atau 1/2 Dus / 250butir) Diasumsikan untuk berbisnis ini kita cukup mempunyai modal sekitar Rp. 1.000.000,- saja kita sudah bisa memulainya dan itu tergolong maksimal.
Pembaca Adin blog yang saya cintai , adapun untuk order Tahu Bulat Tersebut Anda bisa pesan ke saya, adapun harga tahu bulat tersebut adalah perduz yang isinya 500 butir, adapun yang membedakan harga dari perdus tersebut adalah diameter ukuran dari tahu bulat tersebut, dimulai dari ukuran standar /duz isi 500pcs/butir Rp. 140rb, kemudian 150rb dan selanjutnya tergantung ukuran besar bulat dari tahu tersebut.
  
Adapun kali ini saya ingin men-Share sedikit mengenai; cara membuat tahu bulat Tasikmalaya, caranya memang gampang-gampang susah karena selain harus berpengalaman di dunia tahu rahasiah intinya resep tahu bulat mungkin ngak akan dikasih sama pihak pabrik...hahaha, tapi admin mau sedikit berbagi tentang cara menbuat tahu bulat secara singkat.
Langsung saja ya...
Siapkan kedelai yang berkualitas baik, kemudian direndam air dengan jangka waktu antara 4-12 jam. kedelai digiling setelah halus lalu direbus sebagaimana pembuatan tahu biasa pada umumnya. Setelah jadi tahu ngak harus dipotong-potong seperti tahu kotak tetapi masukan saja ke karung. 

Tahu tersebut kemudian dimasukin ke karung tadi untuk di press menggunakan mesin pressan supaya air nya keluar. setelah airnya terkuras lalu masukan tahu yang dari karung itu ke dalam mesin pencampur (mixer) dan diaduk-aduk bersama resep tahu bulat atau bahan bumbu-bumbu yang telah disediakan. Setelah di mixer beberapa menit sampai rata maka tahu nya dikeluarkan untuk segera dibulat - bulat. Cara membulatkannya yaitu
dengan digeleng-geleng memutar dikedua permukaan telapak tangan dengan memakai sarung plastik resep tahu bulat. Resep tahu bulat tasikmalaya yang enak itu terdiri dari poin-poin penting yang harus diperhatikan diantaranya:
  • Kualitas kedelai yang paling bagus supaya hasil yang didapat maksimal.
  • Air yang bersih, bukan air yang keruh, kotor, bau dsb. yang akan berdampak pada kualitas tahu yang rusak.
  • Garam, bawang putih, penyedap rasa dan rempah - rempah seperti ragam resep nusantara lainnya.
  • Untuk yang mau mencoba resep tahu bulat nya silahkan dicoba.

Demikian sekilas info tentang bisnis jualan tahu bulat dan proses cara pembuatan tahu bulat. Semoga bermanfaat

KONTAK KAMI - 24 JAM
Call : Adin Nuryadin (0852-2343-8118)
WhatsApp : 082217559148 / 085223438118

Pengunjung