Makalah Filsafat Teori Pendidikan Humanisme | Peranan Siswa dalam Pendidikan Humanisme | Peranan Guru dalam Pendidikan Humanisme..!!

Pada postingan kali ini penulis akan membahas Makalah Filsafat Teori Pendidikan Humanisme yang didalamnya diulas mengenai 1) Peranan Siswa Dalam Pendidikan Humanisme , 2) Peranan Guru dalam Pendidikan Humanisme, yang mudah-mudahan bermanfaat buat semuanya khususnya yang sudah silaturahmi dan mau membaca artikel tulisan yang ada di Adin blog's ini.
1. Judul
Filsafat Teori Pendidikan Humanisme.
2. Peranan Siswa Dalam Pendidikan Humanisme
Konsep-konsep teori belajar yang muncul pada waktu sebelum abad ke-20, sekarang masih tampak pengaruhnya dalam praktik komunikasi baik di sekolah atau di masyarakat luas. Disiplin mental (mental dicipline), pengungkapan alami (natural unfoldment) atau aktualisasi diri dan apersepsi (apperception). Ketiga kategori ini punya ciri khas yang umum yaitu semuanya dikembangkan sebagai pembelajaran noneksperimental dimana dasar teorinya adalah spekulatif dan terkadang introspektif. Para filsuf dalam mengembangkan teori ini mencoba menganalisis pikiran dan kondisi internal yang ada dalam dunia dan terus menguraikan apa yang mereka dapatkan dari pikirannya itu.
Menurut teori disiplin mental (mental dicipline) latihan mental diberikan atau ditanamkan dalam bentuk studi sebagaimana dibedakan dari isinya. Gagasan utama disiplin mental adalah pada otak atau pikiran (mind). Kecakapan pikiran atau otak seperti ingatan, kemauan, akal budi dan ketekunan merupakan otot-ototnya pikiran tadi seperti halnya otot-otot fisiologis yang bisa kuat jika dilatih secara bertahap dan terus menerus serta dengan porsi yang memadai, maka otot-otot pikiran atau otak pun demikian halnya. Ia bisa kuat dalam arti lebih tinggi kemampuannya jika dilatih secara bertahap dan memadai.
Dikalangan anak-anak baik keluarga ataupun di sekolah, bahkan hampir semua aspek pembelajaran bisa dilakukan dengan cara disiplin, seperti pembiasaan secara tetap akan suatu pekerjaan, latihan tetap terhadap suatu keterampilan, disiplin diri dalam bertindak, disiplin mengendalikan diri, bekerja keras dengan disiplin tetap serta adanya arahan motivasi dari pihak lain. Semua ini jika dilakukan akan menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan unggul dibidang yang dikerjakannya.
Disiplin tadi memang pada asalnya dilakukan oleh adanya aturan-aturan yang eksternal secara tidak langsung jika hal ini dilakukan secara terus menerus dalam waktu yang lama akan menghasilkan perilaku disiplin internal. Anak-anak akan lebih paham jika diajak berkomunikasi secara langsung dengan guru dan teman-teman sekelasnya. Berdiskusi secara interaktif lebih baik dibandingkan dengan penggunaan komunikasi searah.
Metode merubah perilaku belajar dalam kerangka asosianisme adalah analitik atau reduksionistik (pengurangan), sedangkan belajar adalah pengurangan pada bagian-bagian struktur komponennya. Unsur-unsur dasar yang diasosiasikan selengkapnya adalah mental, fisik dan kombinasi keduanya. Jadi jika ada kesulitan diantara ketiganya maka pembelajaran akan berhasil dengan baik.
3. Peranan Guru dalam Pendidikan Humanisme
Sudah sejak lama di dalam budaya kita dikenal bahwa guru adalah seorang manusia yang patut digugu dan ditiru. Artinya “digugu” adalah ditaati nasehat, ucapan dan perintahnya, “ditiru” adalah dicontoh, diteladani sikap dan perilakunya. Guru dimaksud adalah guru yang memiliki kewibawaan, kata-kata dan perilakunya mengikat terhadap peserta didiknya. Kepribadiannya mantaf, wawasannya luas kemampuan profesionalismenya memadai.
Sedangkan peranan guru dalam pendidikan humanisme mencoba mengadaptasikan siswa terhadap perubahan-perubahan. Pendidikan melibatkan siswa dalam perubahan, membantunya belajar tentang bagaimana belajar, bagaimana memecahkan masalah, dan bagaimana melakukan perubahan di dalam.
Sebagai contoh guru humanis, perhatian Caol Alexander, sejak sepuluh tahun lalu mulai mengajar di suatu sekolah menengah pedusunan kecil memungkinkan dia mengembangkan hubungan yang erat dengan para siswanya dan keluarga mereka. Gaya mengajarnya didasarkan pada hubungan-hubungan interpesonal yang ramah lagi terbuka dengan para siswanya, dan ia bangga akan fakta bahwa para siswanya mempercayai dia dan seringkali meminta dia nasehat berkenaan dengan permasalahan-permasalahan yang umum bagi siswa yang terefleksikan dalam kelaziman dengan para siswa terdahulu yang kembali mengunjungi atau mencari nasehatnya.
Carol juga komit pada permberdayaan siswa, untuk memberi mereka kesempatan membentuk pengalaman-pengalaman belajar mereka. Sebagaimana yang ia ajukan: “Saya mendorng para siswa untuk memberi saya umpan balik tentang bagaimana perasaan di kelas. Mereka harus merasa baik/enak mengenai diri mereka sendiri sebelum mereka dapat belajar. Juga, ia telah menyadari bahwa para siswa harus membantu kami (para guru) merencanakan kegiatan kelas. Ia telah belajar untuk mengajukan pertanyaan mengenai apa yang menarik bagi mereka. ‘Apa yang kamu ingin lakukan? ‘Bagaimana kamu ingin melakukan itu?
Kebanyakan dari pengajaran Carol didasarkan pada diskusi kelas yang di dalamnya ia mendorong para siswa untuk berbagi gagasan dan perasaan-perasaan mereka mengenai subyek yang ada secara terbuka. Interaksi Carol dengan para siswanya memperlihatkan keterampilan dia dalam menciptakan suatu lingkungan percakapan yang membuat para siswa merasa aman dan mau memberi kontribusi. Selama pembahasan, Carol menyimak secara seksama terhadap para siswa dan seringkali mengutarakan kembali gagasan-gagasan mereka dalam suatu cara yang mengakui kontribusi-kontibusi mereka. Ia seringkali merespon dengan frase pendek yang menunjukan dukungan dan dorongan pada para siswa untuk melakukan pembahasan tersebut seperti respon berikutini: “Oh begitu ...” “Maukah kamu mengatakan lebih banyak mengenai hal itu ...” “Itu gagasan yang menarik, ceritakan lebih banyak lagi.”
Ketika Carol memfasilitasi suatu kelompok diskusi keseluruhan, ia selalu memperhatikan kelompok-kelompok kecil belajar yang telah ia bentuk sebelumnya. Masing-masing kelompok memutuskan bagaimana mengatur sendiri untuk mencapai suatu tugas pembelajaran tertentu, mengembangkan suatu strategi untuk merespon suatu ancaman pada lingkungan atau menganalisa sebuah puisi mengenai persaudaraan, misalnya, “Saya rasa penting bagi siswa belajar bekerja sama, saling membantu, dan menerima sudut-sudut pandang yang berbeda,“ kata Carol.
Kesimpulan dan Tanggapan
Filsafat humanisme didasarkan pada keyakinan bahwa individu-individu mengontrol nasib mereka sendiri melalui aplikasi kecerdasan dan pembelejaran mereka. Orang-orang membentuk diri mereka sendiri, yang menekankan kepada kebebasan personal, pilihan, kepekaan, dan tanggungjawab personal.
Dan kaum humanis pun mengutamakan komitmem terhadap prinsip pendidikan yang memperhatikan faktor perasaan, emosi, motivitas, dan minat seseorang.

Terimakasih Telah Berkunjung dan Mau Membaca Artikel di Adin Blogs Semoga Bermanfaat
Artikel Terkait :

Makalah Filsafat Teori Pendidikan Humanisme | Tujuan Pendidikan Menurut Humanisme | Kurikulum Pendidikan dan Metode Pendidikan Menurut Pandangan Humanisme

Pada postingan kali ini penulis akan membahas Makalah Filsafat Teori Pendidikan Humanisme yang didalamnya diulas mengenai 1) Tujuan Pendidikan Menurut Humanisme, 2) Kurikulum Pendidikan dan Metode Pendidikan Menurut Pandangan Humanisme, yang mudah-mudahan bermanfaat buat semuanya khususnya yang sudah silaturahmi dan mau membaca artikel tulisan yang ada di Adin blog's ini.
1. Judul
Filsafat Teori Pendidikan Humanisme.
Tujuan pendidikan menurut pandangan Humanisme diikhtisarkan oleh Mary Johson (Kartadinata, dalam Dasar-Dasar Kependidikan, 1987:77), sebagai berikut:
a) Kaum humanis berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksplorasi dan mengembangkan kesadaran identitas diri yang melibatkan perkembangan perkembangan konsep diri dan sistem nilai.
b) Kaum humanis telah mengutamakan komitmen terhadap prinsip pendidikan yang memperhatikan faktor perasaan, emosi, motivasi, dan minat siswa akan mempercepat proses belajar yang bermakna dan terintegrasi secara pribadi.
c) Perhatian kaum humanis lebih terpusat pada isi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa sendiri. Siswa harus memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk memilih dan menentukan apa, kapan dan bagaimana ia belajar.
d) Kaum humanis berorientasi kepada upaya memelihara perasaan pribadi yang efektif. Suatu gagasan yang menyatakan bahwa siswa dapat mengembalikan arah belajarnya sendiri, mengambil dan memenuhi tanggung jawab secara efektif serta mampu memilih tentang apa yang dilakukan dan bagaimana melakukannya.
e) Kaum humanis yakin bahwa belajar adalah pertumbuhan dan perubahan yang berjalan cepat sehingga kebutuhan siswa lebih dari sekedar pengetahuan hari kemarin. Pendidikan humanistik mencoba mengadaptasikan siswa terhadap perubahan-perubahan. Pendidikan melibatkan siswa dalam perubahan, membantunya belajar tentang bagaimana belajar, bagaimana memecahkan masalah, dan bagaimana melakukan perubahan di dalam kehidupan.
3. Kurikulum Pendidikan Menurut Pandangan Humanisme
Kurikulum merupakan bagian terpenting dalam pendidikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan, karena kurikulum ialah suatu landasan terbang untuk mencapai tujuan pendidikan. Tak ada suatu kurikulum tertentu, sistem pengajaran, metode yang universal dalam pengajaran yang selalu tepat untuk semua jenis sekolah, sebab seperti halnya pengalaman, kebutuhan dan minat individu berbeda-beda menurut tempat dan jaman khususnya kurikulum haruslah sesuatu yang berbeda, selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Dengan demikian kurikulum harus bersifat progresif, dan dinamis. Oleh karena itu kita selalu mengadakan evaluasi dan revisi kurikulum. Kurikulum menurut humanisme harus diwujudkan dengan sejumlah aktivitas sesuai dengan kehidupan nyata agar mereka mendapat pengalaman langsung, dapat menghayati dan menerima keterangan secara langsung dari orang lain.
4. Metode Pendidikan Menurut Pandangan Humanisme
Metodologi adalah suatu ilmu tentang prinsip-prinsip atau prosedur (cara) memecahkan masalah atau dengan kata lain adalah suatu ilmu tentang metode-metode.
Metodologi sangat diperlukan untuk memecahkan masalah atau mengetahui sesuatu, berhasil atau tidaknya hal tersebut sangat tergantung pada tepat atau tidaknya metode yang digunakan.
Metode yang digunakan dalam pendidikan humanisme menekankan pada kebebasan seseorang, yaitu:
a. Metode Ceramah
Metode ceramah masih banyak dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran klasikal. Metode ceramah merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyampaian bahan-bahan secara lisan.
b. Metode Diskusi
Metode ini sering digunakan dalam kegiatan kelompok, umpanya menggunakan keterampilan proses yang dimiliki oleh diri. Metode diskusi ini merupakan cara dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau pernyataan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat atau keputusan bersama.
c. Metode Eksperimen
Metode eksperimen merupakan metode untuk menarik kesimpulan atau memecahkan masalah melalui percobaan atau mencobakan sesuatu serta mengamati, secara proses sehinga dapat ditarik suatu kesimpulan
d. Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah atau metode berfikir reflektif atau metode problem solving, merupakan suatu cara untuk menarik kesimpulan dengan cara merangsang seseorang untuk mengalisa dan melakukan sintesa dalam kesatuan struktur atau situasi dimana masalah itu berada atas inisiatif sendiri.
Kesimpulan dan Tanggapan
Filsafat humanisme didasarkan pada keyakinan bahwa individu-individu mengontrol nasib mereka sendiri melalui aplikasi kecerdasan dan pembelejaran mereka. Orang-orang membentuk diri mereka sendiri, yang menekankan kepada kebebasan personal, pilihan, kepekaan, dan tanggungjawab personal.
Dan kaum humanis pun mengutamakan komitmem terhadap prinsip pendidikan yang memperhatikan faktor perasaan, emosi, motivitas, dan minat seseorang.
Artikel Terkait :

Makalah Pendidikan | Filsafat Progresivisme Pendidikan | Prinsip Filosofis | Implikasi Pendidikan |

Pada postingan kali ini tepatnya tanggal 26 Oktober 2013 penulis akan memberikan sesuatu yang bermanfaat tentunya buat para pembaca, yang mana kali ini yang akan dibahas adalah sebuah Makalah Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri melinkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan 1918. Selama dua puluh tahunan berdiri sebagai gerakan yang kuat di Amerika Serikat, banyak guru yang ragu-ragu dngan gerakan ini karena guru telah mempelajari dan memahami filsafat Dewey sebagai reaksi terhadap filsafat lainnya. Kaum progresif sendiri mengkritik filsafat Dewey. Perubahan masyarakat yang dilontarkan oleh Dewey adalah perubahan secara evolusi sedangkan kaum progresif mengharap perubahan yang sangat cepat agar lebih cepat mencapai tujuan.
                                                                   PEMBAHASAN
                                                      (FILSAFAT PROGRESIVISME)
2.1.   Prinsip Filosofis
2.1.1 Hakekat Manusia
        Menurut Henderson (1959), pendidikan progresivisme dilandasi oleh filsafat naturalisme romantik dari Rousseau, dan pragmatisme dari John Dewey. Filsafat Jean Jacques Rousseau yang mendasari pendidikan progresivisme adalah pandangan tentang hakikat manusia, sedangkan dari pragmatisme Dewey adalah pandangan tentang minat dan kebebasan dalam teori pengetahuan.
        Rousseau, seorang ahli filsafat Prancis berpendapat bahwa segala sesuatu, termasuk anak, dilahirkan adalah baik berasal dari pencipta alam namun semuanya itu mengalami degenerasi, penyusutan martabat, dan nilai-nilai kemanusiaannya karena tangan-tangan manusia. Manusia memiliki kebebasan bertindak. Barang siapa mengingkari kebebasan seseorang, berarti mengingkari kualitasnya sebagai manusia, menyangkal hak, dan kewajiban kemanusiaan. Karena hal itu semua bertentangan dengan hakikat manusia. Menyangkal kebebasan dari kemauan manusia berarti meniadakan kesusilaan dari tindakannya.
        Manusia pada hakikatnya baik, namun masyarakat manusialah yang menjadikan dia jahat (tidak baik). Rousseau ingin mendidik anak terpisah dari kelompok manusia. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat sehingga kebaikan anak-anak yang dimiliki secara alamiah sejak saat kelahiran dapat berkembang secara spontan dan bebas.
2.1.2    Hakekat Realitas
Pandangan progresivisme tentang realitas seperti halnya pandangan John Dewey bahwa “perubahan” dan “ketidaktetapan” merupakan esensi dari realitas. Menurut progresivisme, pendidikan selalu dalam proses pengembangan, penekanannya adalah perkembangan individu, masyarakat, dan kebudayaan. Pendidikan harus siap memperbaharui metode, kebijaksanaannya, berhubungan dengan perkembangan sains dan tekhnologi, serta perubahan lingkungan.
2.1.3    Hakekat Pengetahuan
Untuk memperoleh pengetahuan yang benar, kaum progresif sepakat dengan pandangan Dewey, yaitu menekankan pengalaman indera, belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Kaum progresif menolak pandangan bahwa belajar secara esensial merupakan penerimaan pengetahuan sebagai suatu substansi abstrak yang diisikan oleh guru ke dalam jiwa anak. Pengetahuan menurut pandangan progresif merupakan alat untuk mengatur pengalaman, untuk menangani situasi baru secara terus-menerus, di mana perubahan hidup merupakan tantangan di hadapan manusia.
Manusia harus dapat berbuat dengan pengetahuan. Oleh karena itu,  pengetahuan harus bersumbe pada pengalaman. Menurut Dewey, kita harus mempelajari apa saja dari sains eksperimental. Penelurusan pengetahuan abstrak harus diartikan ke dalam pengalaman pendidikan yang aktif.
2.1.4    Hakekat Nilai
Kualitas dari hasil pendidikan tidak ditentukan dengan menentukan atau menetapkan suatu ukuran yang berlaku secara mutlak dan abadi. Norma atau nilai kebenaran yang abadi tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan berhasil tidaknya usaha pendidikan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berlangsung terus-menerus.
2.2.    Implikasi Pendidikan
2.2.1     Tujuan Pendidikan
            Sekolah merupakan masyarakat demokratis dalam ukuran kecil, di mana siswa akan belajar dan praktik keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi. Dalam pengalamannya, siswa akan mampu menghadapi perubahan dunia. Karena realitas berubah terus-menerus, kaum progresif tidak memusatkan perhatiannya terhadap tbody of knowledge yang pasti, sama seperti, sama seperti halnya dengan pandangan perenialisme dan esensialisme. Kaum progresif menekankan “bagaimana berpikir”, bukan “apa yang dipikirkan”.
            Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus-menerus. Yang dimakssud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah (problem solving) yang dapat digunakan oleh individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Proses belajar terpusatkan pada perilaku cooperative dan disiplin diri dimana kebudayaan sangat dibutuhkan dan berfungsi dalam masyarakat.
2.2.2      Peranan Siswa
            Proses belajar terpusat pada siswa, namun hal ini tidak berarti bahwa mereka akan diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya karena belum cukup matang untuk menentukan tujuan yang memadai. Siswa memang banyak berbuat dalam menentukan proses belajar, namun ia bukan penentu akhir. Siswa membutuhkan bimbingan dan arahan dari guru dalam melaksanakan aktivitasnya.
            Pengalaman siswa adalah rekonstruksi yang terus-meners dari keinginan dan kepentingan pribadi. Mereka aktif bergerak untuk mendapatkan isi mata pelajaran yang logis. Guru mempengaruhi pertumbuhan siswa, tidak dengan menjejalkan informasi ke dalam kepala anak, melainkan dengan pengawasan lingkungan dimana pendidikan berlangsung. Pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan intelegensi dalam pengelolaan hidup dan adaptasi yang intelegen (cerdas) terhadap lingkungan.       
2.2.3    Peranan Guru
        Peranan guru adalah membimbing siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek. Mungkin akan ada banyak guru yang kurang senang terhadap peran ini karena didasarkan atas suatu anggapan bahwa siswa mampu berpikir dan mengadakan penjelajahan terhadap kebutuhan dan minat sendiri.
        Guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, menafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mampu mengenali siswa, terutama pada saat apakah ia memerlukan bantuan khusus dalam suatu kegiatan sehingga ia dapat meneruskan penelitiannya. Guru dituntut untuk sabar, fleksibel, berpikir interdisipliner, kreatif dan cerdas.
        Peran guru dalam suatu kelas yang berorientasi secara progresif adalah berfungsi sebagai seorang pembimbing atau orang yang menjadi sumber yang pada intinya memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pembelajaran siswa. Guru berhubungan dengan membantu para siswa mempelajari apa yang penting bagi mereka, bukannya memberikan sejumlah kebenaran yang dikatakan abadi. Terhadap tujuan ini, guru progresif berusaha untuk memberi siswa pengalaman-pengalaman yang mereplikasi/meniru kehidupan keseharian sebanyak mungkin. Para siswa diberi banyak kesempatan untuk bekerja secara kooperatif di dalam kelompok, seringkali pemecahan masalah yang dipandang penting oleh kelompok itu, bukan oleh guru. Peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Kebutuhan dan minat siswa akan menentukan apa yang mereka pelajari. Anak harus diizinkan untuk merencanakan perkembangan diri mereka sendiri, dan guru harus membimbing kegiatan belajar.
2.2.4    Kurikulum
        Kurikulum disusun sekitar pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dan dalam pemecahan masalah serta kegiatan proyek. Pemecahan masalah akan melibatkan kemampuan berkomunikasi, proses matematis, dan penelitian ilmiah. Oleh karena itu, kurikulum seharusnya menggunakan pendekatan interdisipliner. Buku merupakan alat dalam proses belajar, bukan sumber pengetahuan. Metode yang dipergunakan adalah metode ilmiah dalam ikuiri dan metode problem solving.
2.2.5    Metode
        Belajar melalui pemecahan masalah akan menjadi presenden terhadap pemberian sumject matter. Jadi, belajar harus dapat memecahkan masalah yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak. Dalam memecahkan suatu masalah, anak dibawa berpikir melewati beberapa tahapan, yang disebut metode berpikir ilmiah, sebagai berikut :
a.    Anak menghadapi keraguan, merasakan adanya masalah;
b.    Menganalisis masalah tersebut, dan menduga atau menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin;
c.    Mengumpulkan data yang akan membatasi dan memperjelas masalah;
d.    Memilih dan menganalisis hipotesis;
e.    Mencoba, menguji, dan membuktikan.
2.3.    Tanggapan Kelompok
2.3.1    Kaitan dengan KTSP
        Menurut pandangan progresivisme bahwa anak memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya dan berorientasi pada pengalaman. Pendidikan harus berhubungan dengan minat anak, minat individu, yang dijadikan sebagai dasar motivasi belajar. Secara kodrati, anak suka belajar apa saja yang berhubungan dengan minatnya, atau untuk memecahkan masalahnya. Peranan guru tidak langsung melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Hal ini relevan dengan aturan yang ada pada KTSP dimana peran guru hanyalah sebagai fasilitator, artinya memfasilitasi kebutuhan belajar siswa serta membantu kesulitan yang dialami siswa selama pembelajaran. Sementara siswa lebih berperan aktif dalam mencari sumber ilmu dan menemukan sendiri konsep yang diperolehnya dari hasil pengalaman.
2.3.2    Kaitan dengan Isu Kontemporer
Manusia pada dasarnya memiliki sifat sosial, harus mampu bekerja sama dan mampu berkomunikasi dengan manusia lainnya. Progresivisme berpandangn bahwa kasih saying dan persaudaraan lebih berharga bagi pendidikan daripada persaingan dan usaha pribadi. Isu kontemporer saat ini memperlihatkan bahwa setiap orang bersaing untuk meraih keuntungan pribadi. Sementara menurut pandangan progresif bahwa kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan. Hal ini sangatlah penting untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera baik bagi individu maupun bagi kehidupan sosial.
                                                                      KESIMPULAN
    Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan saat ini. Melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan, individu dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat.
    Orang-orang progresif merasa bahwa kehidupan itu berkembang dalam suatu arah positif dan bahwa umat manusia, muda maupun tua baik dan dapat dipercaya untuk bertindak dalam minat-minat terbaik mereka sendiri. Berkenaan dengan ini para pendidik (ahli pendidik) yang memiliki suatu orientasi progresif memberi kepada para siswa sejumlah kebebasan dalam menentukan pengalaman sekolah mereka. Sekalipun demikian, pendidikan progresif tidak berarti bahwa para guru tidak memberi struktur atau para siswa bebas melaksanakan apa pun yang mereka inginkan. Guru-guru progresif memulai dengan posisi dimana keberadaan siswa dan melalui interaksi keseharian di kelas, mengarahkan siswa untuk melihat bahwa mata pelajaran yang akan dipelajari dapat meningkatkan kehidupan mereka.

Pengunjung