Makalah Pendidikan Agama Islam (PAI) | Pasang Surutnya Peradaban Islam dari Masa Ke Masa dan Faktor Penyebabnya..!!

Pada postingan kali ini penulis akan membahas sebuah Makalah Pendidikan Agama Islam tentang Pasang Surutnya Peradaban Islam dari Masa Ke Masa. yang mudah-mudahan ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat khususnya untuk kita sebagai generasi muda yang harus merubah peradaban Islam semakin hari semakin maju yaitu tersiarnya Al-Quran dan As-Sunah dimana-mana terealisasikan aman damai dan tentram dimana-mana.
Latar belakang tentang pasang surutnya peradaban islam telah banyak diperbincangkan oleh para ilmuan dan negarawan yang mempunyai komitmen yang tinggi dan tanggungjawab moral terhap pasang surutnya peradaban islam.
Dalam makalah ini, akan disajikan faktor-faktor penyebab pasang surutnya peradaban islam dan kemungkinan bangkitnya kemabali peradaban islam.
Faktor-faktor penyebab pasangnya peradaban islam diantaranya:
1.    Faktor ajaran islam
2.    Komitmen untuk melaksanakan ajaran islam
3.    Keterbukaan budaya umat islam
4.    Adanya penghargaan (apresiasi) terhadap kegiatan keilmuan.
Faktor-faktor penyebab surutnya peradaban islam diantaranya:
1.    Matinya tradisi keilmuan
2.    Sikap ulama yang tertutup
3.    Tidak adanya apresiasi terhadap ilmu dan ahli ilmu
4.    Hancurnya ketahanan moral umat islam
5.    Rekayasa barat
PEMBAHASAN
A.    Faktor-faktor Pasangnya Peradaban Islam
Terdapat beberapa faktor yang mengantarkan umat Islam memproleh kemajuan pada abad-abad pertama dalam sejarahnya, yaitu:
Pertama, faktor ajaran islam mengajarkan kepada pemeluknya agar mereka banyak menuntut ilmu pengetahuan, belajar tulis baca. Bahkan Allah SWT yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw telah memerintahkan agar umat Islam banyak membaca. dan menulis. Nabi Muhammad saw mengajarkan umatnya agar menuntut ilmu sepanjang hayat, kata beliau; “Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi, Utlubul ilma wa law bish Shiin”.
Kalau kita telaah dengan mendalam, baik Al-Qur'an maupun Al-Hadits memang mengajarkan agar umat manusia bebas dari kebodohan, kemiskinan, perbudakan, pagamsme dan kedzaliman serta mengantarkan umat manusia menjadi manusia terdidik, berilmu, merdeka, serta hidup berdasarkan tauhid, adil serta persamaan hak. Sirah Nabi saw menunjukkan bahwa beliau berjuang untuk mewujudkan ajaran tersebut.
Kedua, komitmen umat Islam untuk mewujudkan ajaran tersebut melalui daya juang yang tinggi dan daya pikir yang mendalam. Dalam bahasa ajaran disebut jihad dan ijtihad. Dengan semangat jihad ijtihad ini wilayah Islam tidak hanya terbatas pada jazirah Arab melainkan dapat menjangkau tiga benua Asia, Afrika, dan Eropa. Wawasan intelektual umat Islam tidak terbatas hanya dalam bidang keagamaan belaka, melainkan meluas ke bidang-bidang yang lain, seperti filsafat, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial dan budaya. Umat Islam tidak hanya menimba ilmu, namun juga dapat menciptakan disiplin ilmu dan mampu melakukan eksperimen serta. menemukan teori-teori baru.
Ketiga, keterbukaan budaya umat Islam untuk menerima unsur-unsur budaya dan peradaban dari luar, sebagai konskuensi logis dari perluasan wilayah yang diperoleh oleh mereka. Pada saat itu umat Is¬lam mulai berkenalan dengan Sekolah Tinggi Kedokteran dan Filsafat di Persia, Syiria dan Akademi Yunani Tua di Mesir Islam melakukan integrasi dengan kebudayaan setempat dan penduduk memiliki peradaban yang tinggi setelah negerinya berada dalam wilayah Islam, maka mereka memluk agama islam.
Keempat, adanya penghargaan, apresiasi terhadap kegiatan dan prestasi-prestasi keilmuan. Al Ma’un membayar kitab-kitab terjemahan yang dilakukan oleh Hunain bin Ishaq, seorang ilmuan penganut agama Nasrani nestorian dengan emas seberat kitab-kitab yang bersangkutan.
Kelima, faktor dana. Pertumbuhan dan aktivitas ekonomi daulah-daulah Islamiyah; baik daulah amawiyah dan Andalusia serta Daulah Abbasiyah di Bagdad pada saat kejayaannya amat semarak sekali, meliputi bidang industri, pertanian, perdagangan dan sebagainya. Majunya pertumbuhan dan kegiatan ekonomi ini amat menunjang terhadap kegiatan keilmuan khususnya dan sektor-sektor peradaban islam lainnya.
B.    Faktor-faktor Surutnya Peradaban Islam
Setelah peradaban Islam mencapai puncaknya, kemudian mengalami kemunduran dengan cepat, bagaikan rembulan yang telah menjadi purnama, maka malam-malam berikutnya menurun dan berkurang.
Pertama, matinya tradisi keilmuan, mereka telah merasa puas dengan menikmati hasil prestasi yang telah dicapai oleh pemikir dan ilmuan terdahulu, sehingga mereka tidak merasa perlu lagi mencipta, merintis yang baru, berjihad dan berijtihad.
Kedua, sikap ulama yang tertutup. Misalnya ada fatwa mencetak A1 Qur'an dengan mesin percetakan itu hukumnya haram; belajar bahasa Belanda dan Bahasa Inggris itu haram; memasuki sekolah Belanda itu haram, dan sebagainya. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab berpendapat; “Termasuk kufur memberikan suatu ilmu yang tidak didasarkan atas A1-Qur'an dan As-Sunnah, atau ilmu yang bersumber akal pikiran semata-mata”.
Ketiga, tidak ada apresiasi terhadap ilmu dan ahli ilmu. Banyak buku yang disobek atau dilempar disungai Nil dan dikirim ke luar negeri, sehingga Darul Hikmah di Kairo ditutup pada tahun 1122 M. Bukti tidak adanya apresiasi terhadap prestasi ke ilmuan ini dapat di lihat juga sikap Sultan Murad III yang menyuruh armadanya menghancurlan observatorium perbincangan dengan meriam-meriam mereka, karena dipandang tidak diperlukan lagi.
Keempat, hancurnya ketahanan moril umat islam, karena dihinggapi rasa wahn, yaitu hubbudun-ya wa karahiyatul mawt. Umat Islam dilanda sikap hidup berpoya-poya, korup dan tidak dekat lagi dengan kehidupan ara mustadh’afin dan nasib yang menimpa para dhu’afa.
Kelima, faktor hempasan taufan dari luar yang merobohkan pohon peradaban Islam yang memang sudah rapuh dari dalam.
Dalam masa modern ini umat Islam yang runtuh ketahanan morilnya itu harus berhadapan dengan penjajah Barat yang naik daun, memimpin peradaban dunia. Penjajah Barat bersikap intoleran terhadap Islam dan umat Islam. Mereka berabad-abad menjajah negeri-negeri Islam dengan melakukan dominasi politik, eksploitasi ekonomi, diskrirninasi sosial dan deislamisasi. Akibat umat Islam menjadi terbelakang, miskin dan tertinggal jauh dalam pendidikan.
C.    Kebangkitan Kembali Peradaban Islam
Kemungkinan bangkitnya kembali peradaban islam akan mendapatkan peluang emas (momentum), bilamana penyakit-penyakit internal seperti dikemukakan diatas dapat disembuhkan. Penyakit ini bagaikan benang kusut yang sulit ditegakan. Namun Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak berputus asa atas rahmat-Nya. Kalau Syekh Muhammad Abduh mengatakan; “Al islam mahjubun bilmuslimin”, maka persoalan kebangkitan kembali peradaban Islam adalah soal internal umat islam itu sendiri. Untuk itu umat islam harus mau belajar dari masa lalunya. Imam Malik mengatakan “La yashluhu amru hadzidhil ummah illa bimaa bihi awwaluha”. Artinya umat islam harus mengikuti khiththah dan langkah-langkah yang ditempuh ulam-ulama, cara pemikir dan negarawan islam terdahulu, yakni mempunyai semangat jihad, semangat ijtihad, bersikap terbuka dan seterusnya.
PENUTUP
A.    simpulan
Perpaduan antara ajaran islam, semangat jihad, kontak dengan dunia luar, sikap mental yang memberikan apresiasi terhadap ilmu dan faktor dana telah mengantarkan islam dan umatnya kepuncak keemasannya serta memberikan kontribusi yang besar terhadap sejarah peradaban dunia.
Namun kemudian umat islam mengalami kemunduran disebabkan oleh faktor intern umat islam sendiri. Diantaranya matinya tradisi keilmuan, sikap ulama yang tertutup, tidak adanya apresiasi terhadap ilmu dan ahli ilmu, hancurnya katahanan moral umat islam dan rekayasa barat.
B.    Saran
Pengalaman merupakan guru yang terbaik, mungkin kata inilah yang pantas diucapkan bagi generasi penerus islam, dengan belajar dari kesalahan dimasa lalu maupun melihat figur-figur anutan yang lahir dan membesarkan peradaban islam, kita harapkan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan dengan tawakal dan usaha yang keras serta istiqomah dalam menjalankan dalam menjalankan ajaran islam, semoga kita mampu melepaskan diri dari penjajahan barat dan kembali membangun peradaban islam.
REFERENSI
  • Tim Dosen PAI. Islam dan Pencerahan Intelektualitas. Valve Press. Bandung. 2006.
  • M. Masyhur Amin. Dinamika Islam. LKPSM. Yogyakarta. 1995.
  • Dr. Amir Hasan Siddiqi. Studies in Islamic History. Al-Ma’arif. Bandung. 1987.

Pengunjung