Makalah Karakteristik Anak Usia Dini | Pra Sekolah dan PAUD dan Ciri-Ciri Anak Berbakat..!!

Makalah Karakteristik Anak Usia Dini. Pada postingan kali ini, sekarang Adin Blogs akan menyuguhkan sebuah Tulisan berupa makalah buat pembaca yang insyaallah akan bermanfaat tentunya bagi yang ‘baca’ yaitu mereka calon guru, guru PAUD, guru TK atau ibu rumah tangga dalam mengenali karakteristik Anak Usia Dini Pra sekolah yaitu sebelum masuk ke Paud atau Sekolah Taman Kanak-Kanak, yang memang sangat perlu sekali untuk kita kenali sebagai Orang Tua khususnya sebagai pendidik pertama terhadap anaknya, yang penulis akan membahas kali ini adalah Karakteristik Anak Usia Dini Pra Sekolah.
Perkembangan anak sejak lahir sampai umur Lima tahun (BALITA) yang mencakup perkembangan motorik, perkembangan bahasa, dan perkembangan kemampuan berfikir. Untuk masa usia tertentu dijabarkan kemampuan-kemampuan atau kegiatan-kegiatan apa yang pada umumnya dapat dilakukan oleh anak-anak pada masa usia itu.
Adapun sumber yang memberikan data tentang perkembangan bayi dan balita, antara lain dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ilmu Kesehatan Anak, yang menggambarkan langkah bagi dan anak sampai umur lima tahun di tinjau dari perkembangan motorik, adaftif (penguasaan), bahasa dan sosial
Dan penulisan makalah ini tidak lain bertujuan untuk memberikan gambaran, arah, pengetahuan dan pengertian tentang mengenali “Karakteristik Anak Usia Prasekolah/Usia Dini”


PEMBAHASAN
Perlu diingat bahwa seorang anak mungkin saja maju dalam salah satu keterampilan, tetapi tidak dalam keterampilan lain. Hanya sedikit sekali anak-anak yang menunjukkan keseimbangan dalam perkembangan sehingga mereka lebih cepat atau maju dalam hampir semua keterampilan. Ada anak-anak berbakat yang menunjukkan ketidakseimbangan dalam perkembangannya, misalnya maju dalam perkembangan bahasa, tetapi biasa saja dalam perkembangan motorik. Ada pula anak berbakat yang mula-mula tidak cepat dalam perkembangan bahasa, misalnya baru mulai berbicara pada umur 19 bulan, tetapi langsung menggunakan kalimat-kalimat lengkap. Jadi, orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika anak balita me­reka tampak kurang cepat dalam perkembangan salah satu keterampilan.
LAMBUNG ANDA BERMASALAH ?
INI SOLUSINYA !!!
HERBAL ORGANIK INI TERBUKTI AMPUH  
ATASI MASALAH LAMBUNG, INSYAALLOH
Contact Person / WhatsApp 085223438118
Hendaknya orang tua memungkinkan anak balita berkembang dengan kecepatannya sendiri. Tidak ada gunanya mendorong seorang anak apa-bila ia belum matang untuk suatu keterampilan. Sebaliknya, juga jangan menghambat kemajuan anak. Misalnya, anak yang sudah ingin berjalan digendong terus karena ibunya khawatir kalau-kalau anaknya jatuh, atau karena lebih mudah bagi ibu daripada harus mengikuti segala gerak-gerik termasuk jatuh bangunnya anak. Kita perlu menjaga keamanan anak, te­tapi tidak perlu terlalu melindungi anak. Hal itu dapat menghambat per­kembangan kemandirian anak.
Ada manfaatnya untuk mengikuti perkembangan anak balita dengan membuat catatan tentang perkembangan motoriknya dan perkembangan bahasanya. Kadang-kadang dokter perlu mengetahui sejarah atau riwayat perkembangan anak, misalnya untuk mengetahui riwayat perkembangan suatu penyakit atau untuk dapat memberikan saran-saran mengenai pe-rawatan kesehatan anak. Jika orang tua telah membuat catatan-catatan tentang perkembangan anak, maka mereka tidak perlu bingung menjawab pertanyaan dokter dan dapat memberikan data yang tepat yang diperlukan dokter.

1)   Pengamatan yang Siaga dan Cermat
Salah satu ciri yang menonjol pada bayi atau anak balita yang berbakat ialah pengamatan mereka yang siaga dan cermat. Sejak masa bayi, me­reka tampak sangat memperhatikan apa yang berlangsung dalam lingkungannya. Ini tidak berarti bahwa mereka selalu aktif dalam gerak-gerik. Mungkin saja mereka berbaring atau duduk dengan tenang di tempat tidur, tetapi dari pandangan matanya tampak bahwa mereka selalu mengikuti segala sesuatu yang dilakukan ibunya, mengamati semua gerak-gerik ibunya.
2)   Bahasa
Anak berbakat, kecuali mulai berbicara lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak biasa, juga menggunakan kata-kata yang lebih sulit dan kalimat-kalimat yang lebih majemuk. Jika anak lain yang seusia masih menggunakan bahasa bayi, anak balita berbakat sudah dapat berbicara dengan kalimat-kalimat lengkap seperti anak yang sudah lebih tua. Mereka ce­pat menangkap arti kata-kata, dapat menggunakan kata-kata abstrak, ser-ta memberi jawaban-jawaban yang tidak diduga dari anak seumur me­reka. Perbendaharaan kata mereka juga meningkat dengan lebih cepat, dapat mengerti pembicaraan orang lain dengan lebih cepat, dan juga le­bih cepat dalam kemampuan mengungkapkan pikiran-pikiran mereka. Da­lam penggunaan kata-kata, mereka lebih cermat dan tepat.
3)   Keterampilan Motorik
Ada anak yang kekuatannya bukan dalam penggunaan bahasa, melainkan dalam keterampilan motorik. Sebagai bayi mereka dapat menggapai atau meraih benda dengan lebih tepat dan tidak cepat menjatuhkannya.
Mereka dapat membuat bangunan dalam permainan dengan balok atau kotak yang lebih sulit, mampu menempatkan balok-balok tersebut dengan keseimbangan yang baik, misalnya mampu membuat menara yang tinggi. Ada pula anak-anak yang keterampilan motoriknya tampak da­lam menggambar atau dalam berolah raga.
4)   Membaca
Banyak anak berbakat sudah dapat membaca sebelum mereka masuk se-kolah dasar, dan biasanya mereka belajar membaca sendiri. Ketika ma­sih bayi, keterampilan mereka yang luar biasa dalam bidang ini nyata antara lain bahwa mereka tidak pernah memegang buku bergambar terbalik, dan jika buku itu kebetulan terbalik, mereka cepat membetulkannya. Me­reka melihat gambar-gambar dalam buku seperti "membacanya", dari kiri ke kanan.
Orang tua anak-anak ini melaporkan bahwa anaknya tiba-tiba saja dapat membaca suatu kata, bahkan juga kalimat-kalimat pendek. Padahal orang tuanya tidak dengan sengaja mengajar mereka membaca, mung-kin mereka hanya menunjukkan huruf-huruf abjad. Anak-anak itu be­lajar membaca sendiri. Jika orang tua sering dan senang membaca, dan di dalam rumah banyak tersedia buku, maka hal ini mempunyai pengaruh besar dalam mendorong anak balita untuk membaca. Demikian pula ji­ka ibu sering membacakan cerita kepada anak balita, hal ini menyebabkan anak itu senang dan ingin membaca.
5   Matematika
Seperti halnya membaca, keterampilan matematika mulai dengan memahami konsep-konsep yang mendasarinya. Anak-anak yang berbakat dalam matematika, pada umur sangat muda sudah memahami arti lebih banyak, paling banyak, lebih sedikit, paling sedikit, dan sebagainya se­belum mereka belajar mengenai angka-angka. Anak balita yang kelak menunjukkan keterampilan matematika yang maju, cepat menunjukkan perhatian terhadap waktu, ukuran, dan hitung-menghitung. Mereka banyak mengajukan pertanyaan mengenai "berapa lama", "berapa banyak", dan pertanyaan pertanyaan sejenisnya. Mereka cepat mengingat hari-hari ulang tahun yang berhubungan dengan angka-angka. Orang tua dapat membantu perkembangan keterampilan berhitung anak balitanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Berilah saya kotak yang paling kecil," dan pertanyaan-pertanyaan sejenis. Ada anak umur tiga tahun yang su-dah senang menghitung sampai seratus atau lebih. Anak balita yang ber­bakat sering sudah menguasai dasar-dasar berhitung sebelum mereka masuk taman kanak-kanak.
6)   Ingatan
Banyak anak berbakat mempunyai ingatan yang baik sekali, misalnya mengenai pengalaman-pengalaman atau pengetahuan-pengetahuan yang mereka peroleh. Mereka ingin mengetahui segala sesuatu tentang benda-benda atau hal-hal dan menanyakan mengenai hal-hal yang tidak pernah diperhatikan orang lain, dan mereka juga mampu mengingat hal-hal tersebut.
7)   Rasa Ingin Tahu dan Keuletan
Anak balita pada umumnya mempunyai rasa ingin tahu dan senang me­ngajukan macam-macam pertanyaan, tetapi lebih-lebih anak balita yang sangat cerdas atau berbakat. Mereka tidak hanya menanyakan mengenai "siapa" atau "apa" yang terjadi, "bilamana" dan "di mana" terjadinya, tetapi juga ingin tahu "mengapa" hal itu terjadi dan "bagaimana". Mereka pun sangat gigih dan keras hati untuk memperoleh jawaban yang ingin diketahuinya. Mereka bisa bertanya tentang "dari mana datangnya hujan", "mengapa hujan turun", "bagaimana terjadinya", dan sebagainya. Kadangkadang orang tua tidak sabar atau tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dalam hal ini sebaiknya mereka mengajak anak untuk mencari jawabannya, misalnya dalam buku-buku atau menanyakan kepada orang yang lebih tahu. Jangan menghambat atau mematikan rasa ingin tahu anak dengan jawaban-jawaban seperti, "Kau terlalu kecil," "Ibu sekarang tidak ada waktu," atau "Jangan tanya macam-macam, Ibu lagi sibuk!"
8)   Semangat (Energi)
Di samping rasa ingin tahu yang kuat dan kegigihannya untuk memperoleh jawaban yang memuaskan, anak balita yang sangat cerdas atau berbakat juga menunjukkan semangat dan energi yang sangat besar. Mereka mem­punyai dorongan yang kuat untuk menjajaki lingkungan mereka. Sering mereka terlibat dalam begitu banyak kegiatan sehingga orang tuanya cemas bahwa mereka akan menjadi terlalu capek. Yang.lebih sering terjadi ialah bahwa orang tuanya yang kecapekan untuk dapat mengikuti minat anak berbakat yang begitu beragam. Tidak jarang anak-anak itu tidurnya kurang karena begitu banyak waktu yang digunakan untuk bermacam-macam kegiatan. Banyak orang tua anak berbakat mengamati bahwa anak mereka tidurnya kurang dibandingkan dengan kakak adiknya. Mereka sudah bangun pagi-pagi dan biasanya tidak mau tidur siang hari. Dalam hal ini tidak ada gunanya untuk memaksa anak tidur, kecuali jika anak memang kelihatan capek dan cepat marah atau tersinggung, dan mung-kin membutuhkan istirahat. Kebutuhan akan tidur memang berbeda-beda pada anak-anak, dan beberapa anak berbakat tampaknya kurang mem­butuhkan tidur dibandingkan dengan anak-anak lain.
Kesibukan anak berbakat yang terarah pada tujuan harus dibedakan dari kegelisahan anak hiperaktif yang usaha-usahanya tampak tidak bertujuan, perhatiannya menyebar, berbeda dengan kesibukan anak berbakat yang berpusat pada tujuan tertentu.
9)   Persahabatan
Anak berbakat sering menyukai punya teman-teman yang lebih tua atau senang berada bersama orang dewasa. Dapat bergaul dengan teman sebaya memang penting agar anak tidak menjadi terlalu "berbeda", tetapi tidak ada salahnya jika untuk kegiatan-kegiatan yang lebih memerlukan kematangan mental atau untuk minat-minat khusus, anak dibolehkan ber-main atau bergaul dengan anak-anak yang lebih tua atau dengan orang dewasa. Yang penting ialah jangan sampai anak menjadi terasing atau terpencil dari teman-temannya yang sebaya.
Dengan mengenai perkembangan umum anak balita, dan perkembangan anak balita yang lebih cepat atau maju, serta ciri-ciri anak balita yang cerdas atau berbakat, orangtua (ibu atau ayah) dapat mengenali sejauh mana anak mereka termasuk sangat cerdas atau berbakat istimewa, yaitu dari pengamatan perilaku anak sehari-hari, kebiasaan-kebiasaannya, ucapan-ucapannya, caranya bermain dan sebagainya.
Jika orangtua menginginkan lebih banyak kepastian, mereka dapat minta bantuan seorang ahli. Psikologi di samping mengamati perilaku anak dan memperoleh keterangan dari orangtua mengenai perkembangan anak, dapat menggunakan alat-alat uji (tes psikologis) untuk menentukan apakah anak itu tergolong anak cerdas atau berbakat istimewa.
Namun perlu dipertimbangkan bahwa semakin muda seorang anak, makin sulit untuk dites, dan belum tentu hasil-hasilnya dapat diandalkan sepenuhnya. Anak kecil biasanya sulit untuk diminta duduk diam untuk waktu yang cukup lama dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, ia belum dapat memusatkan perhatiannya untuk jangka waktu yang lama, hal ini tidak memudahkan pelaksanaan pengetesan.
Yang penting ialah bahwa orangtua dapat menerima dan menghargai kemampuan anak, serta menyadari bahwa setiap anak (apakah ia ber­bakat, biasa saja, atau mungkin kurang cerdas) mempunyai kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan, dan mempunyai kebutuhan-ke-txbutuhan sebagai seorang anak yang perlu dipenuhi. Setelah kita mengenai tingkat kemampuan, kecerdasan, bakat dan mi-nat anak, pertanyaannya ialah: pelayanan pendidikan apa yang dapat di­berikan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak?

Usia 4 atau 5 tahun merupakan bagian yang paling kritis dalam per­kembangan hidup manusia, lidak hanya perkembangan fisik, tetapi juga bentuk-bentuk perkembangan pribadi serta aktualisasi kemampuan be-lajar dimulai. Perkembangan pribadi serta berbagai kemungkinan atau kesempatan belajar yang tersedia akan menunjang perkembangan intelektual yang dibawa lahir atau yang diwarisi anak. Ada dua pilihan yang dapat kita tempuh mempersiapkan pertumbuhan dengan baik ataukah membiarkan pertumbuhan terjadinya secara alamiah. Terjadinya per­kembangan dengan baik atau hilangnya potensi pada anak akan sangat bergantung pada usaha-usaha yang dilakukan pada usia pembentukan po­tensi anak (4-5 tahun).
Sejak tahun 1960 an telah banyak informasi yang diperoleh dari berbagai penelitian dan percobaan tentang perkembangan anak sampai de­ngan usia 4-5 tahun serta perkembangan selanjutnya. Kita tidak dapat mengatakan, "biarlah anak-anak berkembang dengan sendirinya  just let children be children "(Barbara Clark, 1979), tanpa menyadari bahwa kita membentuk anak yang akan menimbulkan pengaruh yang permanen dalam hidup mereka. Banyak anak yang bernasib baik, tetapi banyak pula dari mereka yang menerima nasib sebaliknya. Kita dapat secara dini mendeteksi dan menghindari hal-hal yang menghambat perkembangan anak. Dewasa ini telah banyak usaha yang dilakukan yang memungkinkan anak-anak yang memiliki kemampuan atau bakat khusus sehingga mereka dapat mengaktualisasikan keberbakatan mereka.

KESIMPULAN
Perkembangan anak balita yang lebih cepat dan maju dibandingkan dengan anak balita rata-rata sangatlah baik dan menunjang perkembangan dan pertumbuhan seorang anak. Tetapi seorang anak tidak perlu lebih maju atau cepat dalam semua hal untuk dapat dikatakan termasuk anak-anak yang berbakat.
Untuk usia  masa tertentu dijabarkan kemampuan-kemampuan atau kegiatan-kegiatan apa yang pada umumnya dapat dilakukan anak-anank pada masa usia itu.
Ciri-ciri perilaku anak berbakat :
1.      Pengamatan yang siaga dan cermat
2.      Bahasa
3.      Keterampilan motorik
4.      Membaca
5.      Matematika
6.      Ingatan
7.      Rasa ingin tahu dan keuletan
8.      Semangat (energi)
9.      Persahabatan
Terakhir semoga kajian sederhana ini dapat dipahami menjadi ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang membacanya khususnya bagi penulis. Sebelum dan sesudahnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan keakuratannya karena penulis masih dalam proses belajar kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan sangat penulis harapkan seklai.

Baca Juga Makalah Terkait

REFERENSI/DAFTAR PUSTAKA
  • Semiawan, Conny, Pengenalan dan Pengembangan Bakat, PT Remaja, Jakarta, 1990
  • Munandar, Utami, Perkembangan Anak Usia Dini, PT Mondar Maju: Bandung, 1992
Untuk contoh penulisan Bagian Awal Skrisi yang lainnya bisa dilihat di Artikel terkait :
Contoh Penulisan Abstrak Skripsi
Contoh Penulisan Kaper Skripsi
Contoh Penulisan Lembar Pengesahan
Contoh Penulisan Lembar Pernyataan Skripsi
Contoh Penulisan Kata Pengantar Skripsi
Contoh Penulisan Daftar Isi Skripsi
Contoh Penulisan Daftar Pustaka Skripsi

Contoh Penulisan Artikel Skripsi
Contoh Penulisan Proposal Skripsi PTK
Contoh Tugas Akhir D2 PGTK
Contoh Abstrak Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat

Baca Juga Artikel Yang Lainnya :
- Download Design Font
- Download File Corel Original Bisa Di edit

- Info Harga Sekitar Tasik
- Artikel Islam & Tulisan Bermanfaat

Contoh Laporan Observasi | Penyimpangan Perilaku Anak Usia Dini di TK Raihan | Tugas UAS | 1..!!

Sahabat Adin Blog yang berbahagia. kali ini penulis akan memberikan Contoh Laporan Observasi Penyimpangan Perilaku Anak Usia Didi di Sekolah TK yang mana surat ini merupakan salah satu tugas Makalah Pendidikan, ketika menjelang UAS (Ujian Akhir Semester) makalah ini banyak dicari oleh mahasiswa karena memang tugas yang satu ini selalu ada. 
Untuk lebih detailnya mengenai Makalah Pendidikan dan apa saja yang dibahas didalamnya untuk itu 
Mari kita simak pembahasan tuntasnya dibawah ini :


LAPORAN OBSERVASI
Penyimpangan Perilaku Anak Usia Dini di TK Raihan

A. Latar Belakang
Dalam perkembangan zaman ke zaman, kehidupan dibumi ini mengalami perubahan yang signifikasi, bahkan terjadi perubahan moral dan sosial budaya yang cenderung kepada pola-pola perilaku menyimpang.
Perilaku menyimpang ini dapat dialami oleh siapa saja tanpa terkecuali, dan kita pun sering kali menemukan perilaku-perilaku yang menyimpang atau bertentangan dengan masyarakat mulai dari perilaku anak-anak yang menyimpang, perilaku anak remaja yang menyimpang dan bahkan orang tua pun ada yang memiliki perilaku menyimpang. Dampak yang paling berpengaruh yaitu kepada perkembangan anak-anak yang meniru kelakuan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sehingga belakangan ini banyak terjadi kasus-kasus yang terjadi di kalangan anak-anak. Kasus terkecil yang terjadi di kalangan anak-anak berupa ejekan kepada teman-temannya sampai teman yang diejek menangis. Dari kasus kecil tersebut akan mendorong sifat premanisme yang akan terbawa hingga dewasa. Beberapa masalah tersebut disebut sebagai penyimpangan perilaku.
Penyimpangan perilaku adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru bukan semata-mata perilaku itu mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku yang menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman. Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab anak yang bermasalah biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di berbagai interaksi lingkungannya

B. Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan penyimpang perilaku anak usia dini?
  2. Bagaimana ciri-ciri perilaku penyimpang?
  3. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan?
  4. Bagaimana jenis-jenis penyimpangan perilaku?
  5. Bagaimana latar belakang anak yang mengalami perilaku menyimpang?
  6. Bagaimana solusi untuk menangani anak yang mengalami penyimpangan perkembangan?
C. Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui pengertian penyimpangan perilaku anak usia dini.
  2. Untuk mengetahui ciri-ciri perilaku menyimpangan.
  3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan.
  4. Untuk mengetahui jenis-jenis penyimpangan perilaku.
  5. Untuk mengetahui latar belakang anak yang mengalami perilaku yang menyimpang.
  6. Untuk mengetahui solusi menangani anak yang mangalami penyimpangan

D. Manfaat Penulisan
Laporan ini juga bermanfaat bagi penulis, karena:
  1. Memberikan kesempatan kepada penulis untuk mempelajari, mengamati, dan mengkaji suatu permasalahan yang dihadapi oleh Anak Usia Dini.
  2. Melatih penulis dalam membuat suatu karya tulis agar terbiasa dan lebih baik.
  3. Memberikan kesempatan kepada penulis untuk lebih mengenal calon anak didiknya dalam berbagai aspek yang ada dalam diri mereka dan masalah yang mereka hadapi, khususnya anak yang melakukan penyimpangan perilaku.
  4. Sebagai pedoman untuk pembelajaran.
  5. Sebagai motivasi untuk melakukan suatu observasi, wawancara atau membaca buku-buku yang berhubungan dengan permasalahan anak atau siswa.
Tidak hanya bagi penulis, laporan ini juga bermanfaat bagi pembaca, karena:
  1. Mengetahui akan masalah yang dihadapi seorang siswa yang mungkin kita tidak menyadarinya.
  2. Lebih mendekatkan pembaca khususnya orang tua dengan anaknya, dengan memberikan perhatian, kesempatan dan motivasi bagi mereka.
  3. Menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian akan masalah yang dihadapi oleh siswa.
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyimpangan Perilaku pada Anak Usia Dini
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Perilaku Menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Perilaku adalah tindakan atau perbuatan yang merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap suatu rangsangan di lingkungan sekitar. Sehingga perilaku menyimpang adalah perbuatan yang mengabaikan norma yang terjadi apabila kelompok atau individu tidak mematuhi patokan-patokan dalam masyarakat.(randipratama http://randipratama1.blogspot.com: 2011)
Sedangkan Hefri Asra Omika mengatakan bahwa perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. (hefri asra mhttp://infosos.wordpress.com/kelas-x/perilaku-menyimpang: 2012)
Jadi kesimpulannya adalah penyimpangan perilaku anak usia dini adalah suatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar keluar dari norma-norma masyarakat.

B. Ciri-ciri Perilaku Menyimpang
  1. Menurut Paul B. Harton penyimpangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Penyimpangan harus dapat didefinisikan, artinya penilaian menyimpang tidaknya suatu perilaku harus berdasar kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.
  2. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak.
  3. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak, artinya perbedaannya ditentukan oleh frekuensi dan kadar penyimpangan.
  4. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal, artinya budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan.
  5. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. Norma penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terbuka.
  6. Penyimpangan sosial bersifat adaptif, artinya perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.
(hefri asra mhttp://infosos.wordpress.com/kelas-x/perilaku-menyimpang: 2012)

Makalah Pendidikan Karakter | Pengertian Pendidikan Karakter | Naskah Ujian Akhir Semester Genap 2014/2015

NASKAH UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP 2014/2015
MATA KULIAH : PENDIDIKAN KARAKTER
KODE : GD541
PROGRAM STUDI : S1 - PGSD
SEMESTER : 2 REGULER
JENIS UJIAN : TAKE HOME
DOSEN PENGAMPU : Drs. H. Nana Ganda, M.Pd.
Petunjuk :
1.    Kerjakan soal dibawah ini dengan benar
2.    Dikumpulkan sesuai dengan jadwal UAS yang sudah ditetapkan oleh lembaga

1.    Pengertian pendidikan karakter adalah bagian esensial yang menjadi tugas lembaga pendidikan. Namun realitas selama ini menunjukan bahwa pendidikan karakter belum memperoleh porsi perhatian yang signifikan. Akibatnya, berbagai patologi social di tengah masyarakat berkembang secara passif, maka hancur nilai nilai moral solidaritas maraknya korupsi dan berbagai wujud patologi social yang lainya.
a.    Bagaimanakah mutu akademis dalam pembentukan karakter yang sebenarnya dan mengacu kepada tuntutan hidup secara ekonomi dan politik.
Jawab : Dalam era globalisasi ini, mutu akademis di tuntut agar mengacu kepada moral yang lebih baik. Pada kenyataan nya, banyak anak didik yang terkontaminasi oleh pergaulan bebas dan budaya asing. Kita sebagai calon pendidik harus mengusahakan agar karakter anak didik dapat kenmbali kepada jati diri anak Indonesia yang sejati, juga mencintai tanah air dan bangsanya. Dengan begitu sebagai penerus bangsa anak didik dapat memajukan ekonomi dan politik yang biasanya menjadi masalah terbesar di negeri kita. Atas dasar cinta tanah air dan bangsa, anak didik akan berusaha belajar dengan giat agar perekonomian di negaranya dapat berubah dan semaikin maju, mereka mengerti bahwa Indonesia tengah membutuhkan penerus bangsa yang cerdas dan kompeten dalam melakukan segala hal. Korupsi yang merajalela akan segera di berantas oleh mereka yang jujur dan amanah serta dapat mengemban tanggung jawab secara baik.

b.    Upaya apakah dalam pembentukan karakter yang dilandasi pendidikan basik nilai guna menciptakan suatu karakter yang peduli di dalam kehidupan masyarakat.
Jawab : Sebagai calon pendidik, kita seharusnya mampu dan mengupayakan agar karakter serta moral anak didik dapat berkembang. Kita bisa melakukan nya dengan cara memberikan motivasi, melakukan kegiatan belajar sambil bermain, menjelaskan kepada anak didik tentang bagaimana kondisi masyarakat di negeri ini. Sehingga mereka akan memikirkan dan berusaha untuk memperbaiki keadaan di sekitarnya, terutama di lingkungan masyarakat. Sebagai actor utama calon penerus bangsa, anak didik harus memiliki moral dan karakter yang sesuai dengan pribadi bangsa.

c.    Apa yang jadi hambatan dalam proses ketok tular pendidikan karakter bagi seorang guru.
Jawab : Dalam upaya membangun karakter bangsa, ada berbagai hambatan yang harus di lalui calon pendidik, diantaranya :
•    Anak didik tak menghiraukan/memperdulikan penjelasan dari pendidik.
•    Motivasi yang di berikan kadang tak berpengaruh.
•    Budaya asing telah memasuki akal pikiran dan keseharian anak didik.
•    Orang tua dan masyarakat sekitar acuh tak acuh akan upaya pendidik.
•    Tak ada dukungan dari pemerintah terhadap upaya yang di lakukan.

d.    Bagaimana peran guru yang dituntut untuk lebih cerdas dalam mengaplikasikan pendidikan karakter berdasarkan umur anak sekolah dasar.
Jawab : Peran guru sangat berpengaruh akan karakter anak didik, terutama di lingkungan sekolah. Guru di tuntut lebih cerdas dan mampu mengaplikasikan pendidikan karakter pada sikap dan perilaku anak didik. Ini di lakukan sesuai dengan umur dan kemampuan anak didik itu sendiri. Kepada anak didik yang masih di bawah umur atau sekitar  kelas 1-3, pendidikan karakter di aplikasikan melalui hal-hal kecil yang dapat di lakukan anak didik. Seperti membantu sesama, membantu orang tua, bergotong royong, bersikap jujur, dll. Sedangkan pada anak didik yang duduk di kelas tinggi atau di kelas 4-6. Pendidikan karakter dapat di aplikasikan ke dalam kehidupan anak didik. Anak didik di arahkan untuk dapat melakukan apapun sendiri tanpa tegantung pada orang lain, anak didik juga harus mampu bersikap sopan dan baik kepada orang tua, anak didik di arahkan untuk dapat mencintai tanah air dan bangsanya.

2.    Pembentukan karakter adalah upaya membantu perkembangan jiwa anak, baik lahir maupun batin. Pendidikan pembentukan karakter merupakan upaya untuk menumbuh kembangkan nilai-nilai kehidupan secara etika moral, yang berlaku.
a.    Bagaimana peran pendidikan karakter yang bersifat terus menerus diterapkan dengan jenjang berkelanjutan dimulai dari pendidikan usia dini dan seterusnya.
Jawab : Peran pendidikan karakter sangat berpengaruh dalam kehidupan anak didik. Jika upaya pendidik dalam menanamkan moral dan karakter dapat berhasil dan terlaksana. Pribadi anak didik dapat menjadi lebih baik lagi kedepannya. Ia juga dapat berperan aktif dalam kehidupan nya maupun pengaruh baik dalam karirnya nanti. Selain pendidik, orang tua juga wajib mengarahkan anak didik dari usia dini sampai dewasa untuk menanamkan pendidikan karakter yang sesuai dengan moral dan pribadi bangsa.

b.    Mengapa peran pendidikan karakter bisa dikatakan bermanfaat bagi kehidupan yang layak dalam kehidupan bermasyarakat ?
Jawab : Karena pendidikan karakter sangat menentukan bagaimana moral dan sikap anak didik di masa yang akan datang. Jika pendidikan karakter telah tertanam dalma diri anak didik, ia dapat menempatkan dirinya dalam kondisi dan situasi apapun. Dengan begitu ia dapat bersosialisasi dan aktif dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya, jika pendidikan karakter tidak di tanamkan pada anak didik, ia akan kehilangan arah dan moral yang telah di ajarkan sejak dini lama kelamaan akan hilang bahkan rusak.

c.    Bagaimana peran seorang guru dalam mengintegrasikan nilai karakter ke dalam mata pelajaran dikelas yang dituntut oleh hidup di lingkungan skup keluarga.
Jawab : Dalam setiap mata pelajaran, guru sebaiknya menyisipkan pendidikan karakter yang mampu di pahami oleh peserta didik. Pendidikan karakter tersebut dapat berupa praktek langsung di dalam kelas atau materi yang dapat di jelaskan oleh guru kepada anak didik.

d.    Muara pendidikan ranah afektif harus tumbuh dan terbentuk kepribadian yang dapat dipertanggungjawabkan secara peran harapan bangsa Indonesia (bagaimana sikap dan tindakan calon guru dalam menyikapinya)
Jawab : Afektif  atau sikap memang sangat berperan dalam diri seorang anak didki. Sebagai calon guru, kita harus dapat mengupayakan memperbaiki afektif anak didik agar sesuai dengan harapan bangsa akan calon penerusnya. Tentu saja sikap dan perilaku calon penerus bangsa sangat menentukan bagaimana masa depan bangsa di masa yang akan datang.

3.    Pengertian pendidikan karakter adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan berkerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
a.    Apa alasanya karakter disebutkan ciri atau sifat kejiwaan antara lain :
-    Akhlak, budi pekerti yang dapat membedakan seseorang
-    Individu yang berkarakter dan cirinya
-    Peran harapan anak didik yang berkarakter (berperilaku) dalam lingkup keluarga dan masyarakat.
Bagiamana dari  ketentuan ke 3 sub diatas menjadi nilai budaya hidup dilingkungan anak didik sekitar ?
Jawab : Jika ketiga alasan tersebut dapat berkembang baik di dalam diri anak didik, nilai budaya di lingkungan sekitar anak didik dapat menjadi pendidikan karakter untuk membentuk afektif anak didik menjadi lebih baik lagi. Jelas sudah jika di suatu lingkungan masyarakat terdapat banyak sikap dan perilaku individu yang berbeda, mereka semua dapat saling berbagi satu sama lain dan dapat mensyukuri kelebihan nya dan menjadikan pelajaran akan kekurangannya.

b.    Dasar pengembangan pendidikan karakter di sekolah berfungsi untuk mengembangkan kemapuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam menciptakan kecerdasan bangsa, antara lain:
-    Bagaimana merealisasikan peran perilaku kehidupan di lingkungan?
Jawab : anak didik dapat di bombing agar aktif di dalam lingkungannya. Sebagai seorang manusia yang harus bersosialisasi, anak didik dapat melakukan interaksi sebagaimana yang di lakukan orang biasanya, ia juga dapat mengikuti berbagai kegiatan yang di adakan di lingkungan sekitarnya.
-    Bagaimana kehidupan moral sebagai standar perilaku yang sebenarnya?
Jawab : dapat di lihat dari bagaimana ia bersikap dalam lingkungan nya, mau itu lingkungan keluarga, ataupun masyarakat. Orang-orang di sekitar anak didik dapat kita wawancara tentang bagaimana keseharian anak didik. Sebagai standar perilaku, moral sangat penting di tanamkan pada anak didik sejak dini, dari hal kecil seperti kesopanan terhadap orang tua, ilmu agama, rasa tanggung jawab dan toleransi, dll.
-    Ciri seorang guru dalam pendidikan berkarakter harus jadi model dan suri tauladan, bagaimana sikapmu calon seorang guru menyikapinya ?
Jawab : sebagai seorang calon guru, kita seharusnya dapat mengusahakan diri kita menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya, terutama dalam hal moral dan sikap, serta perilaku kita. Sebagai suri tauladan, kita seharusnya dapat bersikap sebaik mungkin agar anak didik mampu melihat contoh yang baik dari guru nya.

c.    Esensi penddidikan berkarakter yang mendorong untuk mampu berkembang sesuai dengan potensinya karena upaya sadar dalam membangun kondisi lingkungan yang memungkinkan terjadi interaksi pendidikan dan potensinya dalam proses perjalanan hidup di lingkungan. Bagaimana interaksi anak didik menggali potensinya untuk hidup yang akan datang di llingkunganya ?
Jawab : Anak didik akan berusaha mencari jati diri dengan cara bergaul dengan teman-teman nya dan orang-orang di sekitarnya. Ia akan berinteraksi dengan caranya untuk dapat mengetahui apa yang tengah ia inginkan dan wujudkan. Jika ia telah memiliki cita-cita, biasanya ia akan bertanya pada seorang yang berprofesi sesuai dengan cita-citanya. Ia akan berusaha untuk mewujudkan impiannya dengan berinteraksi atau bersosialisasi sebaik mungkin.

4.    Sosok seorang guru harus mampu memahami keadaan anak didiknya, namun pada kenyatanya tidak banyak guru yang mampu mencermati kondisi keadaan anak didiknya guru yang menjadi dasar kelemahanya kurang mampu menterjemahkan metode dan media sebagai instrument dalam PBM, maka tampilan guru menjadi kaku (superformal).

a.    Apa alasanya proses belajar mengajar harus mengacu pada kebutuhan anak didik yang mengacu pada tuntutan umur anak didik ?
Jawab : Karena anak didik mempunyai kebutuhan dan sifat yang berbeda-beda pada setiap individu nya. Kita sebagai calon guru, harus memahami betul sifat dan perilaku anak didik kita sebelum memberikan metode PBM di dalam kelas. Jika semua anak didik di perlakukan sama, ini akan berpengaruh buruk bagi anak didik yang tidak merasa nyaman dengan perilaku guru dalam menyamaratakan anak didiknya dalam hal kebutuhan anak didik.

b.    Bagaimana peran guru dalam menumbuhkan karakter nilai moral anak didik jadi sentris
Jawab : Peran guru dalam menumbuhkan karakter nilai ke dalam diri anak didik adalah dengan melakukan pendekatan dengan semua anak didiknya dan berusaha untuk mengerti bagaimana sifat dan perilaku serta kebutuhan dari setiap anak didiknya. Dengan begitu, guru dapat mencari metode atau cara yang sesuai dengan kebutuhan anak didik dalam hal menumbuhkan karakter nilai pada diri anak didik.

c.    Bagaimana peran pembiasaan disiplin ilmu dalam kegiatan proses pembelajaran yang biasa membawa anak didik menjadi kreatif, inovatif dan bertanggung jawab.
Jawab : Untuk membawa anak didik menjadi kreatif, inovatif dan bertanggung jawab, seorang guru dapat menanamkan disiplin ilmu pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran yang ada di sekolah. Metode yang menyenangkan dapat membuat anak didik tidak cepat bosan dan mau mengikuti PBM dengan bersemangat.

5.    Pendidikan nilai merupakan upaya mewujudkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan betakwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkepedulian terhadap sesama dan lingkunganya
a.    Bagaimanakah penanaman pendidikan nilai yang bisa membawa karakter anak didik
Jawab : Guru dapat memulai dari menanyakan apa saja kegiatan yang di lakukan anak didik dalam kesehariannya. Apakah anak didik sering ke masjid? Apakah anak didik mengikuti pembelajaran membaca al- qur’an? Atau apakah anak didik telah mampu melakukan shalat lima waktu dengan benar?
Jika semua itu telah di jawab oleh anak didik, analisis bagaimana hal itu dapat terjadi, dan jika terdapat penyimpangan cari solusi untuk menanggulangi masalah tersebut.

b.    Uraikan tentang isi dan tujuan peran pendidikan dalam menciptakan suatu kesadaran dan kesiapan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik
Jawab : Pendidikan adalah sebuah proses. Proses yang dimaksud adalah adanya perubahan setelah pendidikan ditempuh oleh seseorang. Selama berproses, pendidikan terus-menerus merubah objek pendidikan, dalam hal ini peserta didik. Proses pendidikan mempunya sebuah tujuan. Tujuan pendidikan merupakan seperangkat hasil pendidikan yang tercapai oleh peserta didik setelah diselenggarakannya kegiatan pendidikan. Semua kegiatan pendidikan yakni bimbingan pengajaran, dan latihan diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal menyongsong kehidupan yang lebih baik, tujuan dan isi pendidikan dapat menjadi acuan bagi pendidik dalam menumbuhkan pendidikan karakter

c.    Kegagalan pendidikan bisa menumbuhkan krisis moral yang berkepanjangan, bagaimanakah supaya pendidikan menjadi acuan dasar kehidupan yang dapat diandalkan ?
Jawab : Di mulai dari menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi kehidupan seluruh umat manusia. Di jaman sekarang ini, masih ada orang tua yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting, sehingga mereka lebih memilih untuk memperkerjakan anak nya. Jika semua orang telah sadar akan pentingnya pendidikan, Indonesia pasti akan mampun bangkit dari keterpurukan dan memperbaiki moral bangsa.

d.    Apa alasanya sekolah harus menjadi besik kehidupan dan landasan perilaku anak didik guna mengembankan kemampuan dan membentuk watak peradaban yang bermartabat dan cerdas ?
Jawab : Karena di lingkungan sekolah lah anak didik belajar tentang semua disiplin ilmu. Di sekolah juga, anak didik dapat bersosialisasi dan menumbuhkan rasa toleransi dan kerja sama di antara teman-temannya. Ini menjadi tanggung jawab seorang pendidik agar dapat membentuk anak didik yang berwatak peradaban serta bermartabat dan cerdas.

Makalah Pendidikan | Identifikasi | Prognosa | Diagnosa dan Treatment Pada Anak Kidal..!!

Sahabat Adin Blog yang selalu berbahagia, Pada postingan kali ini, sekarang admin akan menyuguhkan sebuah Makalah Pendidikan buat pembaca yang tentunya akan sangat bermanfaat sekali khususnya bagi calon guru/guru yang aktif mengajar di Sekolah Taman Kanak-Kanak, kali ini penulis akan membahas sebuah Teori Prognosa & Diagnosa Pada Anak yang mana didalamnya akan di bahas mengenai identifikasi, prognosa & diagnosa, dan cara dari pemecahan masalah.
Taman kanak-kanak adalah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program pendidikan bagi anak usia 4 tahun smpai memasuki pendidikan dasar. Dimana anak usia 4-6 tahun mulai peka dalam rangsangan dari luar dan mulai mengenal lingkungan selain keluarga, pada masa itu anak sangat membutuhkan sekali pertolongan dan dorongan dari orang lain karena mereka belum bisa mandiri.

Dalam menghadapi permasalahan anak di TK kita selaku pendidik dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas keterampilan keterampilan tersendiri.
Yang menjadi latar belakang anak kidal di TK banyak ahli lain yang menyatakan bahwan kidal juga bukan karena faktor organik seperti contoh di atas, tetapi karena faktor pembiasaan yang salah atau karena sama sekali tidak pernah dibiasakan untuk menggunakan tangan kanan.

Adapun tujuan dari makalah ini biar terarah saya batasi saja, diantaranya;
1. Mengetahui cara mengatasi anak yang mengerjakan sesuatu dengan tangan kiri (kidal)
2. Mengetahui penyebab terjadinya anak kidal
3. Mengetahui hasil penanganan anak yang mengalami kidal

PEMBAHASAN
A.    Identifikasi
Anak kidal biasanya terjadi pada anak sejak lahir tidak disebabkan faktor turunan.
Proses identifikasi dalam hal ini menemukan gejala-gejala tampak pada penampilan dan prilaku anak  dalam memperkirakan penyebab masalah sampai pertolongan, oleh karena itu guru perlu mempelajari dan memahami cara-cara mengidentifikasi masalah anak TK. Guru harus dapat meyakinkan anak bahwa anak tersebut tidak berbeda dengan anak lain dan tidak menderita penyakit apapun. Sebenarnya dia juga dapat melakukan pekerjaan dengan tangan kanannya tetapi hasilnya tidak sebagus bila mempergunakan tangan kiri, bahkan dapat diyakinkan bahwa dia mempunyai keistimewaan karena bisa terampil mempergunakan tangan kiri sementara anak lain tidak bisa berbuat demikian. Anak yang kidal sebaiknya duduk di sebelah kiri bangku supaya bisa tangan kirinya sedang dipakai tangan itu tidak bersinggungan dengan anak lain yang akan menyebabkan terganggu. Perlu diperhatikan oleh guru karena budaya kita.
Di TK Aisyah di kelompok B jumlah muridnya 60 orang dan dibagi 2 kelas, kelas pagi BI dan kelas siang B2 diantara mereka ada seorang anak yang mengerjakan sesuatunya dengan tangan kiri.
Nama Anak                       : Febi Nugraha
Umur                                 : 6 tahun
Kelas / Sekolah                 : BI / TK ASYAH 5
Hari Tanggal                     :
Peristiwa                           : Dari pertama masuk Febi sudah ngalamin ngerjain / melakukan sesuatu dengan tangan kirinya dan tidak dapat merubahnya apapun selama proses perubahan berlangsung sama sekali tidak bisa berubah. Untuk merubah kebiasaannya anak merasa kurang berbeda pada dirinya padahal sudah beberapa kali guru selalu mengingatkan, tapi lama kelamaan guru juga membiarkan anak itu untuk melakukan apa saja semaunya.     
Interpretasi                        : Pada jam pelajaran si Febi selalu menyendiri dalam membuat sesuatu seperti menggambar, menulis dengan tangan kirinya, tapi selalu diperhatikan sama gurunya.
                                           
B.     Diagnosa
Setelah mengetahui masalah yang dihadapi Febi penulis sebagai guru mencari faktor penyebab anak kidal dan untuk merubah kebiasaan untuk mendiagnosa masalah ini penulis sebagai guru harus :
a.       Mengobservasi anak dalam kegiatan belajar mengajar untuk lebih mengetahui bagaimana anak kidal
b.      Anak berusia di bawah enam tahun
c.       Anak masih dapat mempergunakan tangan kiri dan tangan kanannya secara bergantian
d.      Anak mau dilatih untuk mempergunakan tangan kiri dan tangan kanannya secara bergantian
e.       Anak mempunyai intelegensi di atas rata-rata.

C.    Prognosa
Setelah menulis diagnosa anak dapat mengalami perubahan, langkah selanjutnya adalah mengadakan prognosa atau penanganan, prognosa biasanya dilakukan oleh guru, orang tua :
Langkah yang dilakukan oleh guru :
a.       Saran nasehat dan bantuan

D.    Treatment (Cara penanganan)
Treathmen yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi masalah anak kidal dengan guru melakukannya secara bertahap untuk menangani masalah anak kidal :
1.      Membangun kepercayadirian anak ada banyak anak yang selalu mengasingkan dirinya dari teman-temannya disekitarnya, ada juga yang merupakan faktor bawaan, disini yang kita ambil adalah anak yang mempuynyai  cacat tubuh peran guru juga orang tua disini memberikan dorongan atau motivasi agar anak tidak merasa rendah diri.
2.      Memberikan batasan pada prilaku anak
Orang tua bekerja sama memberikan batasan kepada anak terhadap kebiasaan bentuknya dengan sikap orang tua diri anak untuk jangan dibiarkan melakukan kebisaannya, begitu pula dengan guru juga harus memperhatikan anak di sekolah.

E.     Kendala dan Solusi
Kendala yang dihadapi saat menangani masalah yang dimiliki Febi adalah kurangnya pengawasan/perhatian orang tua terhadap anak sehingga adalah kerjasama guru dan orang tua tentang bagaimana penanganan langsung yang baik hanya membuat anak merasa rendah diri tersinggung marah bahkan bersifat memaksa.

PENUTUP
Kidal sering dimasukan dalam kategori cacat tubuh terutama pada tangan sebetulnya kidal belum tentu merupakan ketidak mampuan anak mempergunakan tangan kanannya, tetapi kidal dapat juga merupakan kebiasaan anak menggunakan tangan kirinya dalam mengerjakan berbagai macam pekerjaan.
Terakhir dari penulis semoga tulisan diatas bermanfaat khususnya buat penulis dan umumnya buat pembaca sekalian yang terus akan haus ilmu pengetahuan, saran dan ktirik serta masukan dari pembaca sangat diharapkan penulis untuk kemajuan dimasa yang akan datang.

Makalah Belajar Dan Pembelajaran (Belajar Efektif)


Pada postingan kali ini admin akan membahas sedikit tentang sebuah Makalah Belajar dan Pembelajaran yang berjudul Belajar Efektif.
Pada mulanya teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan tidak diterapkan secara langsung kepada manusia melainkan terlebih dahulu diterapkan pada binatang. Setelah melihat hasil percobaan tersebut sukses, maka para ahli beranggapan bahwa teori belajar dapat digunakan / diterapkan kepada manusia. Setelah diterapkan pada manusia ternyata hasilnya sangat memuaskan, dengan proses belajar ini manusia dapat membuka cakrawala dunia, dapat lebih terampil,dsb.
Oleh Karena itu proses belajar sangat penting bagi kehidupan sehari-hari guna mendapatkan / memperoleh pengetahuan, keterampilan, penanaman sikap mental berdasarkan nilai-nilai sosial, budaya, agama, dsb.

Keberhasilan diatas dapat dicapai dengan lebih mudah apabila proses belajar dilakukan secara efektif. Adapun beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam proses belajar efektif yaitu :
  • Bertanggung jawab atas dirimu sendiri
  • Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya
  • Kerjakan dulu mana yang penting
  • Anggap dirimu berada dalam situasi “co-opetition” (bukan situasi win-win lagi)
  • Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu
  • Cari solusi yang lebih baik
  • Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan
Untuk lebih jelasnya lagi proses belajar efektif ini akan dijelaskan dalam pembahasan berikutnya.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk lebih mengetahui dan memahami apa itu yang dimaksud dengan belajar efektif diantaranya guna meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan kita khususnya di Indonesia.
Dalam memecahkan masalah belajar efektif penyusun menggunakan buku-buku sumber yang berkaitan dengan masalah yang dibahas yaitu apa itu yang dimaksud dengan belajar efektif.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Belajar Efektif
Dalam keputusan psikologi kita akan menemukan konsep learning yang sudah biasa kita terjemahkan menjadi “belajar”. Secara sederhana proses belajar atau learning proses merajuk pada aktivitas individu. Secara teknis para ahli psikologi sudah mencoba memberikan batasan atau definisi yang beraneka ragam, namun semuanya marajuk pada terjadinya proses perubahan tingkah laku.
Mengenai proses belajar sudah banyak diungkapkan dalam berbagai teori tentang belajar. Dalam hal ini akan dikemukakan dua kelompok pandangan tentang belajar yakni operant conditioning dan instrumental conceptualism.
Operant conditioning dapat kita pahami dari pandangan dan hasil penelitian Skinner (1969), menurut Skinner (dalam Fontana : 1981) berpendapat bahwa proses belajar melibatkan 3 tahap sebagai berikut :
  1. Adanya rangsangan atau stimulus atau situasi yang dihadapi oleh atau dihadapkan pada murid.
  2. Lahirnya perilaku atau behavior.
  3. Penguatan atau reinforcement yang mngikuti perilaku lahir. 
Instrumental conceptualism dapat kita pahami dari pandangan Brunner (1966) Brunner melihat proses belajar dari konsepsi psikologi kognitif. Menurut Brunner proses belajar bukanlah semata-mata lahirnya perilaku yang disebabkan oleh adanya rangsangan yang diperkuat atau diperlemah oleh “penguatan” akan tetapi merupakan proses aktif dimana seseorang menyimpulkan prinsip-prinsip hukum dan kemudian mengetesnya. Dengan kata lain, belajar bukan hanya merupakan aktivitas yang terjadi pada diri individu akan tetapi merupakan sesuatu yang terjadi atas usaha individu sendiri dengan cara mengolah informasi yang ada dan menerapkannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses kegiatan yang melibatkan terjadinya perubahan pada seseorang yang belajar dengan ciri-ciri adanya perubahan tingkah laku, dilakukan secara sengaja, bersifat permanent, continue, mempunyai arah dan tujuan. Perubahan yang terjadi ketika belajar berlangsung memberikan suatu aspek yang terarah, yaitu kadang menimbulkan perubahan cita-cita atau justru memperkuat cita-cita tersebut. Jika perubahan dalam tujuan dan arah kehidupan sehingga apa yang dilakukan sebelumnya ditinggalkan sama sekali.

Contoh : anggapan bahwa wanita tidak perlu sekolah tinggo-tinggi jika pengalaman belajar terus membimbing kegiatan belajar berikutnya. Maka pengalaman itu akan membantu kita melihat cara yang lebih jelas lagi dalam membantu untuk maju lebih cepat.
Jadi meskipun kita melakukan kegiatan belajar tetapi bila tidak ada perubahan apapun pada dirinya maka belajar tidak terjadi maka dari itu belajar dapat dikatakan sudah terjadi apabila si pelajar telah mengalami perubahan berupa:
    1. penambahan informasi
    2. penambahan / peningkatan pengertian
    3. penerimaan sikap-sikap yang baru
    4. perolehan penghargaan baru
    5. perolehan keterampilan baru
    Kelima perubahan itu dapat dimasukan kedalam 3 kategori, yaitu :
    1. pengetahuan (cognitive) : apa yang saya tambahkan pada apa yang saya ketahui
    2. perasaan (affective) : bagaimana perasaan apa tentang apa yang saya dengar dan saya baca.
    3. perbuatan (behavior) : apa yang saya perbuat dengan apa yang saya dengar dan saya baca.
    Proses pembelajaran ini dapat dicapai oleh seseorang dengan mudah / cepat apabila proses belajarnya dilakukan secara efektif. jadi belajar efktive merupakan suatu proses perubahan tingkah laku / sikap yang dialami / dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan memaksimalkan berbagai usaha dan memanfaatkan berbagai situasi dan kondisi guna tercapainya suatu hasil atau perubahan yang optimal sesuai dengan tujuan intruksional yang ingin dicapai.

    B. Langkah-Langkah Belajar Efektif

    Adapun beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam proses belajar efektif dengan rumus SQ4R yaitu :
    1. Survey (meninjau)
                   Usaha untuk mengetahui garis besar isi dari bacaan serta cara penyusunan dan penyajiannya secara sepintas lalu.
    1. Question (mengajukan pertanyaan)
                      Mengajukan pertanyaan bertujuan untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Orang yang ingin tahu akan berudaha mencari jawabannya.
    1. Reading (menbaca)
                      Bacalah dengan cermat bahan pelajaran satu kali lagi sambil berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan.
    1. Recite (mengingat sambil menyebutkan kembali)
                      Rahasia yang perlu diketahui dalam menyebutkan kembali ialah sebutkan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Mengingat dan menyebutkan kembali merupakan langkah yang penting karena dengan cara ini orang dapat mengenali dan juga mempelajari jawaban.
    1. Record (mencatat)
                      Tujuan membuat catatan ialah untuk menolong kita mengingat pkok-pokok yang penting tanpa membaca kembali bahan bacaan itu sendiri. Catatan yang anda buat hendaknya srngkat tetapi mencakup hal-hal  yang penting. Catatannya dibutuhkan untuk merangsang ingatan kembali apa yang kita pelajari.
    1. Review (mengulang kembali)
                      Mengulang kembali berarti mengungkapkan kembali apa yang telah anda pelajari tanpa melihat catatan. Mengulang bahan pelajaran secara teratur amat berguna karena mengingatkan kembali pengetahuan yang telah kita pelajari sebelumnya.
                Selain dari pada SQ4R ada juga beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam proses belajar efektif, yaitu :
    1. Bertanggung jawab atas dirimu sendiri
                      Tanggung jawab merupakan tolak ukur sederhana dimana kamu sudah mulai berusaha menentukan sendiri prioritas, waktu dan sumber-sumber terpercaya dalam mencapai kesuksesan belajar.
    1. Pusatkan dirimu terhadap nilai dan prinsip yang kamu percaya
                      Tentukan sendiri mana yang paling pentingbagi dirimu, jangan biarkan teman atau orang lain mendikte kamu apa yang penting.
    1. Kerjakan dulu mana yang penting
                      Kerjakan dulu prioritas yang telah kamu tentukan sendiri. Jangan biarkan orang lain atau hal lain memecahkan perhatianmu dari tujuanmu.
    1. Anggap dirimu berada dalam situasi “co-opetition” (bukan situasi win-win lagi)
                      “co-opetition” merupakan gabungan dari kata “cooperation” (kerjasama) dan “competition” (persaingan). Jadi selain sebagai teman yang membantu dalam belajar bersama dan banyak memberikan masukan / ide baru dalam mengerjakan tugas, anggaplah dia sebagai sainganmu juga dalam kelas. Dengan begini, kamu akan selalu terpacu untuk melakukan yang terbaik di dalam kelas.
    1. Pahami orang lain, maka mereka akan memahamimu
                      Ketika kamu akan membicarakan sesuatu masalah akademis dengan guru / dosen , misalnya mempertanyakan nilai matematikaatau meminta dispensasi tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, tempatkan dirimu sebagai dosen tersebut. Nah, coba sekarang tanyakan pada dirimu, kira-kira argument apa yang paling pas untuk diberikan ketika berada dalam posisi guru / dosen tersebut.
    1. Cari solusi yang lebih baik
                      Bila kamu tidak mengerti bahan yag diajarkan pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya diskusikan bahan tersebut dengan guru / dosen pengajar, teman, kelompok belajar atau dengan pembimbing akademismu. Mereka akan membantumu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

    1. Tantang dirimu sendiri secara berkesinambungan
                      Dengan cara ini belajar akan terasa mengasyikan dan mungkin kamu mendapatkan ide-ide yang cemerlang.

    C. Cara Belajar Efektif
                Cara belajar yang efektif dapat membantu anak untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan intruksional yang ingin dicapai.
                Cara belajar yang efektif perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini.
    a. Kondisi internal
                Yaitu kondisi yang ada dalam diri anak itu sendiri menurut maslow ada 7 kebutuhan manusia yang harus dipenuhi :
    • Kebutuhan fisiologis (kebutuhan jasmani / kesehatan dasar)
    • Kebutuhan akan rasa aman
    • Kebutuhan akan rasa kebersamaan dan cinta
    • Kebutuhan akan status (keberhasilan) / rasa percaya diri
    • Kebutuhan self actualization
    • Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti
    • Kebutuhan estetik (kebutuhan akan keteraturan, keseimbangan, dan kelengkapan dari suatu keindahan)
    b. Kondisi eksternal
                Yaitu kondisi yang ada di luar dari pribadi manusia misalnya :
    1. Ruang belajar harus bersih
    2. Ruangan cukup terang
    3. Cukup sarana yang diperlukan untuk belajar misalnya alat pembelajaran buku-buku, dsb.
    c. Strategi Belajar
                Belajar yang efisien dapat tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat seperti berikut :
    1. Keadaan jasmani yang sehat
    2. Keadaan emosional dan sosial harus dalam keadaan tak tertekan
    3. Keadaan lingkungan harus terang
    4. Memulai belajar harus tepat agar tidak terjadi kelambatan
    5. Membagi pekerjaan, menentukan apa yang dilakukan dan jangan memberikan tugas yang mungkin tidak terselesaikan.
    6. Adakan control
    7. Pupuk sikap optimistis
    8. Waktu bekerja (harus memberikan pengarahan agar anak punya tekad segala sesuatu yang dikerjakan harus diselesaikan).
    9. Buatlah suatu rancangan kerja. apa yang akan diberikan kepada anak sudah terencana.
    10. Menggunakan waktu dengan efisien
    11. Belajar keras tidak merusak. Yang merusak ialah menggunakan waktu tidur untuk belajar.
    12. Cara mempelajari buku
                Selain beberapa cara di atas ada salah satu tips dalam mengembangkan sistem belajar yang efektif dan efisien. Sistem belajar ini dikenal dengan “M.U.R.D.E.R.” yang terdiri dari :
    ·         Mood (suasana hati)
    Ciptakan selalu mood yang positif untuk belajar. Ini bisa dilakukan dengan menentukan waktu, lingkungan dan sikap belajar yang sesuai dengan pribadimu.
    ·         Understand (pemahaman)
    Tandai informasi bahan pelajaran yang tidak kamu mengerti dalam satu unit. Fokuskan pada unit tersebut atau melakukan beberapa kelompok latihan untuk unit itu.
    ·         Recall (ulang)
    Setelah belajar satu unit, berhentilah dan ulang bahan dari unit tersebut dengan kata-kata yang kamu buat sendiri.
    ·         Digest (telaah)
    Kembalilah pada unit yang tidak kamu mengerti dan pelajari kembali keterangan yang ada. Lihatlah informasi yang terkait pada artikel, buku teks atau sumber lainnya atau didiskusikan dengan teman atau guru / dosen.
    ·         Expand (kembangkan)
    Pada langkah ini, tanyakan 3 persoalan berikut terhadap materi yang telah kamu pelajari :
    ·         Andaikan saya bertemu dengan penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yang hendak saya ajukan ?
    ·         Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yang saya suka ?
    ·         Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh siswa / mahasiswa lainnya ?
    ·         Review (pelajari kembali)
    Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari.

    D. Pengaturan Jadwal Belajar Efektif
                Pengaturan waktu adalah membuat dan melakukan jadwal belajar agar dapat mengatur dan memprioritaskan belajarmu dalam konteks membagi waktu dengan aktivitas, keluarga, dll.
    v  Pedoman
    -          Perhatikan waktu
    -          Refleksikan bagaimana kita menghabiskan waktu
    -          Sadarilah kapan kita menghabiskan waktumu dengan sia-sia
    -          Ketahuilah kapan kita produktif
    Dengan mengetahui bagaimana kita menghabiskan waktu dapat membantu untuk :
    1.      Membuat daftar kerja
                      Tulislah hal-hal yang harus dikerjakan, kemudian putuskan apa yang dikerjakan nanti, apa yang dikerjakan orang lain, dan apa yang bisa ditunda dulu pengerjaannya.
    2.      Membuat jadwal harian / mingguan
                      Catat janji temu, kelas dan pertemuan pada buku / tabel kronologis, selalu mengetahui jadwal selama sehari,dan selalu pergi tidur dengan mengetahui kita sudah siap menyambut esok.
    3.      Merencanakan jadwal yang lebih panjang
                      Gunakan jadwal bulanan sehingga kita selalu bisa merencanakan kegiatan lebih dulu. Jadwal ini juga bisa mengingatkan kita untuk membuat waktu luang dengan lenih nyaman.

    v  Rencana Jadwal Belajar Efektif
    -          Beri waktu yang cukup untuk tidur, makan dan kegiatan hiburan
    -          Prioritaskan tugas-tugas
    -          Luangkan waktu untuk diskusi atau mengulang bahan sebelum kelas
    -          Atur waktu untuk mengulang langsung bahan pelajaran setelah kelas
    -          Jadwalkan waktu 50 menit untuk setiap sesi belajar
    -          Pilih tempat yang nyaman untuk belajar
    -          Rencanakan juga deadline
    -          Jadwalkan waktu belajar sebanyak mungkin pada pagi, siang dan sore.
    -          Jadwalkan review bahan pelajaran mingguan
    -          Hati-hati jangan sampai diperbudak oleh jadwal sendiri !

                Selain haru memperhatikan pengaturan jadwal belajar efektif ada juga 3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam belajar.
    1.      patuhilah jadwal belajar yang telah dibuat
    2.      carilah buku-buku yang diperlukan untuk melengkapi materi
    3.      lengkapi dan kumpulkan catatan-catatan yang teratur dan rapih agar menarik untuk membacanya
    4.      siapkan peralatan belajar lebih dahulu,jangan sampai belajar berhenti gara-gara mencari pensil yang hilang
    5.      usahakan belajar di tempat yang tenang
    6.      pastikan 100 % siap mengikuti tes ujian esok hari
    7.      jangan terpengaruh oleh orang lain, meninggalkan kelas sebelum bel berbunyi.

    E. Gaya Belajar Efektif
                Setiap orang pasti mempunyai cara atau gaya belajar yang berbeda-beda, banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Adapun 7 gaya belajar yang mungkin beberapa diantaranya bisa diterapkan pada anak didik kita :
    1. Belajar dengan kata-kata
                      Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat, tanggal, dan hal-hal lainnya cara mendengar kemudian menyebutkannya.
    1. Belajar dan pertanyaan
                      Bagi sebagian orang belajar makin eektif dan bermanfaat bila itu dilakukan dengan cara bermain dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keingintahuan dengan berbagai pertanyaan setiap kali muncul jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil akhir atau kesimpulan.
    1. Belajar dengan gambar
                      Ada sebagian orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar,slide, film. Orang yang memiliki kegemaran ini biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna. Peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu.
    1. Belajar dengan musik
                      Detak irama, nyanyian dan mungkin memainkan salah satu instrument musik, atau selalu mendengarkan musik ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara mengingat notasi atau melodi musik ini yang disebut sebagai ritme hidup
    1. Belajar dengan bergerak
                      Gerak manusia menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan. Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini adalah kalangan penari, olahragawan. Jadi jika anda termasuk kelompok yang aktif, tak salah mancoba belajar sambil tetap melakukan belajar aktivitas, menyenangkan seperti menari atau berolahraga.
    1. Belajar dengan bersosialisasi
                      Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi dan belajar secara tepat dengan berkumpul kita bisa menyerap berbagai informsi terbaru secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya informasi yang didapat dengan cara ini akan lebih lama terekam dalam ingatan.
    1. Belajar dengan kesendirian
                      Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunnya termasuk belajar dengan menyepi, untuk mereka yang seperti ini biasanya suka tempat yang tenang dan ruang yang terjaga privasinya. Jika anda termasuk srperti ini, maka memiliki kamar pribadi akan sangat membantu anda bila belajar secara mandiri.

    PENUTUP
    Kesimpulan
    Belajar efektif merupakan siatu proses perubahan tingkah laku/ sikap yang dialami/ dilakukan oleh seseorang / sekelompok orang dengan memaksimalkan berbagai usaha dan memanfaatkan berbagai kondisi guna tercapainya suatu hasil / perubahan yang optimal sesuai dengan tujuan intruksional yang ingin dicapai. Proses belajar efektif memang harus dilakukan dalam kegiatan sehari-hari guna mempermudah dalaam proses pengembangan pengetahuan, keterampilan, penanaman sikap mental dan sebagainya.

    Saran
    • Diharapkan para pembaca mampu menerapkan gaya belajar efektif dalam kehidupan sehari-hari
    • Sebaiknya pihak guru / sekolah memberikan berbagai penyuluhan kepada orang tua / murid tentang betapa pentingnya belajar efektif
    • Diharapkan para orang tua mampu mengarahkan anak-anaknya untuk belajar secara efektif
    Mudah-mudahan pembahasan kali ini yaitu tentang Makalah Belajar Dan Pembelajaran (Belajar Efektif) bermanfaat khususnya buat saya sendiri yang masih harus banyak belajar lagi dalam menyajikan tulisan-tulisan dan buat pembaca pada umumnya , seberapa besar manfaat dari tulisan ini saran dan masukannya walau hanya sepatah dua patah kata sangat penulis harapkan untuk kebaikan dimasa yang akan datang, terima kasih.
    Wassalamu’alaikum.

    REFERENSI/DAFTAR PUSTAKA
    -          Nasution, Noehi. 1994. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Universitas Terbuka
    -          Winata Putra. S. Udindan Rosita, Tita. 1997. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : DEPDIKBUD
    -          Depdiknas.go.id

    Pengunjung